Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Heeyoung menatap foto Sunoo yang terpajang di dekat rangkaian bunga. Saat ini, keadaan rumahnya sepi karena semua orang pergi ke pemakaman untuk mengantar Sunoo ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Heeyoung masih tak menyangka bahwa putra kesayangannya telah tiada. Sudah berkali-kali pingsan, karena itulah Heeseung dan kakeknya meminta Heeyoung untuk tetap berada di rumah; ditemani oleh sang nenek.
“Jangan menangis. Sunoo kita akan sedih melihatnya.” Nenek Jung—ibu kandung Heeyoung—menyeka air yang kembali menerobos keluar dari kedua mata Heeyoung. “Sunoo sudah tidak kesakitan lagi. Dia sudah merasa lebih baik, Heeyoung-ah,” ucap beliau kemudian.
Heeyoung tak merespons apa pun. Dia terus menatap foto Sunoo yang sedang tersenyum lebar di dekat karangan bunga sana. Memang, Heeyoung ingin Sunoo tak kesakitan lagi, tapi bukan dengan kematian. Dia masih ingin Sunoo hidup dan melanjutkan hari-harinya.
Mengingat Jungwon, Heeyoung tiba-tiba beranjak. Ibunya yang melihat itu pun terkejut.
“Anak itu ... membunuh Sunoo. Ya, dia pasti yang membunuh Sunoo.” Heeyoung marah. Tanpa banyak bicara, dia mengambil vas bunga di meja tamu yang dipindahkan ke tepian. Setelah itu, kakinya melangkah cepat menuju kamar tempat di mana Jungwon berada.
Di kamarnya, Jungwon tengah memeluk lutut dan menangis tanpa suara. Dia duduk bersandar pada dinding dekat pintu. Menjadi orang pertama yang melihat Sunoo meninggal membuatnya tak bisa berhenti menangis. Dia sedih. Tuhan tak mendengar permintaannya lagi.
BRAK!
“YOON JUNGWON!”
Jungwon terlonjak saat bundanya datang dan membuka pintu dengan keras. Cepat-cepat, dia berdiri dan menghapus jejak air matanya.
“ANAK SIALAN!!”
BUK!!
PRANG!
Jungwon langsung jatuh saat sang bunda melempar vas bunga ke kepalanya hingga pecah. Rasa sakit langsung menjalar. Dia memegangi kening yang berdarah akibat lemparan vas bunga itu.
“Bu—bunda ...” lirih Jungwon.
“Kau!” Heeyoung menunjuk Jungwon, matanya memelotot marah. “Kau membunuh Sunoo! Iya, 'kan?! Kau yang menyebabkan Sunoo meninggal!!!” Dia menuduh Jungwon.
Jungwon menggeleng keras. “Tidak, Bunda. Aku tidak melakukan apa pun. Sungguh. Aku tidak melakukan itu,” ucapnya dengan panik.
Seperti biasa, karena tidak mempercayai, Heeyoung mengambil buku-buku Sunoo, lalu melemparkannya pada Jungwon satu persatu.
“Kau kira, aku akan percaya, ha?! Jelas-jelas kau ada di sana malam itu! Jelas-jelas Sunoo meninggal saat kau berada di sana!!” Heeyoung kembali berteriak. Selesai melemparkan buku, dia mengambil beberapa benda keras dan melempari Jungwon lagi.