24.

6.5K 673 10
                                        

Mia menatap satu persatu patung peri di hadapannya, diikuti harimau ganas yang sudah menjadi hewan roh miliknya dan Alroy serta ketiga hewan roh lainnya yang mengikuti dari belakang.

"Tempat apa ini?" tanya Mia bingung, namun tubuhnya merespon saat melihat ratusan patung peri yang berbagai ekspresi yang mereka tampilkan.

"Arvan berkata jika disini tempat sakral. Dan kau adalah dewi kehidupan. Itu wajar kalau tubuhmu merespon," ucap Alroy.

Mia terdiam, tubuhnya bukan merespon melainkan memberi efek lain. Telinganya mendengar jeritan kesakitan, hawa panas yang mulai mendera tubuhnya.

Mia memegangi kepalanya yang terasa seperti di hantam ribuan batu. Alroy memegangi tubuh Mia yang hampir ambruk.

"Sayang," panggil Alroy. Keluar keringat dingin dari kening Mia. Perempuan itu masih setia memejamkan mata.

Kilasan memori potongan ingatan tapi bukan dari dirinya terlihat di bayang-bayang kepalanya.

Peperangan yang dahsyat pernah terjadi ribuan tahun lalu, mengakibatkan hampir punah nya seluruh makhluk imortal akibat peperangan tersebut dan hal itu akan terjadi lagi nanti bukan hanya akan menyebabkan hampir punahnya dunia fantasi tapi akan menghancurkan seluruh makhluk imortal yang ada dan tak tersisa.

Mia membuka matanya dengan keringat yang memenuhi dahinya. Alroy menatap khawatir, ia mengusap kening Mia.

"Ada apa?" tanya Alroy.

Mia menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa," ucapnya. Ia terus menatap satu persatu peri hingga sebuah patung besar naga hitam yang sedang mengepakkan sayapnya dengan kuat.

"Aku tidak yakin kalau di depan kita adalah sebuah patung," ucap Arthur menatap dengan waspada. Hawa patung itu berbeda dari yang biasanya.

"Aku juga tidak yakin. Hawanya aneh," ucap Tian, ia menatap patung di depannya yang besar dua kali lipat dari tubuhnya.

"Itu bukan patung," gumam Yan membuat Arthur dan Tian menatapnya.

"Maksudmu?" tanya Arthur.

"Itu bukan patung," potong seseorang yang berevolusi menjadi manusia. Mia terkejut saat harimau miliknya berubah menjadi manusia yang begitu cantik.

"Astaga, cantik sekali," ucap Mia kagum. Ia menyentuh rambut bewarna biru milik hewan rohnya.

Mia memberi nama harimau nya itu Alea Terikxa, karena memang hewan roh miliknya ini berjenis kelamin perempuan.

"Itu bukan patung," ucap Alea sekali lagi.

Alroy mengerutkan keningnya. "Lalu? Tapi semua disini hanya ada patung-patung," ucapnya heran.

Alea menatap patung naga yang begitu besar di depannya. "Di depan kita adalah naga asli. Ia hanya tertidur bukan patung yang sebenarnya," ucapnya pelan.

Alroy dan yang lain menatap Alea terkejut. "Tidak ada hawa nafas. Kau jangan berbohong!" ucap Yan.

Alea menatap kesal. "Untuk apa aku berbohong? Naga hitam penelan langit hewan yang memiliki kekuatan besar namun sekarang sedang hibernasi," ucapnya.

"Ya, di depan kita adalah naga penelan langit level sembilan yang berhibernasi!"

∆∆∆

Mia menatap terkejut namun ia tetap tenang, tapi tidak bisa. Alroy mengusap tangan Mia.

"Kita harus keluar dari sini!" ucap Alroy. Ia tau, salah satu hewan roh milik Mia adalah naga penelan langit tetapi bukan naga penelan langit level sembilan seperti di depannya.

Naga penelan langit level sembilan, hewan roh level paling tinggi di antara banyaknya hewan roh. Naga tersebut, adalah hewan yang tidak pernah bisa di taklukkan karena hewan yang memiliki kepintaran lebih dari manusia biasa. Kekuatannya sangat kuat, semburan apinya bisa membunuh banyak sumonner dalam sekali semburan, sekalipun sumonner level sembilan.

Jika naga penelan langit level sembilan adalah hewan roh milik Mia  itu adalah hal yang sangat bagus. Benar-benar bagus, jika memiliki bantuan yang sebesar itu. Namun bagaimana jika naga tersebut bukan hewan roh milik Mia? Mereka akan dalam bahaya.

"Ayo," bisik Alroy sambil menggendong tubuh Mia. Ia mengeluarkan sayap hitamnya sedangkan hewan roh milik Mia sudah berevolusi menjadi wujud mereka masing-masing.

Krakk'

Mereka menoleh, retakan di tubuh naga tersebut timbul membuat Alroy membuat barrier pelindung untuk mereka semua. Ia mengepakkan sayapnya dengan kuat agar mereka cepat sampai di luar goa.

"Pergi dengan cepat!" ucap Alroy.

Groarr!

Suara auman dari naga penelan langit membuat dinding pintu luar goa bergetar dan tertutup oleh batu-batu besar. Naga penelan langit sudah berevolusi.

Membuat Alroy dan yang lain mau tidak mau berhenti saat pintu goa sudah tertutup rapat.

"Ah, sialan!" umpat Alroy. Ia menatap naga penelan langit yang menatapnya dengan pandangan membunuh.

Naga tersebut mengembangkan sayapnya dengan lebar sambil mengambil langkah lebar membuat tanah yang di pijaki bergetar hebat.

"Ah!" teriak Mia saat kakinya hampir masuk kedalam retakan tanah yang di ciptakan naga tersebut.

Naga itu menoleh, menatap Mia ia membuka mulutnya dengan begitu lebar membuat Alroy berteriak sambil menggendong tubuh Mia.

"MENGHINDAR!" teriak Alroy pada semuanya karena naga penelan langit akan menyemburkan lava api dari mulutnya.

Krakk'

Krakk'

Bomm'

Ledakan di berbagai tempat membuat Alroy kesusahan saat ia terbang untuk menghindari serangan naga itu namun dengan adanya Mia di gendongannya membuat tubuhnya sedikit kehilangan keseimbangan.

Alroy terbang begitu tinggi ia menatap nyalang kearah naga tersebut. "Kau hampir mencelakai semua orang. Kau pikir aku tidak bisa membunuhmu?" tanyanya dengan murka.

Ia menatap Mia yang meringis kesakitan, tubuhnya sedikit terkena efek api yang di keluarkan naga penelan langit.

Alroy menatap murka. Ia memang bisa menghabisi hewan roh sekalipun level tinggi. Namun memiliki banyak resiko. Namun untuk sekarang ia tidak punya pilihan lain selain menghabisi naga legendaris di depannya ini.

"Mati kau!"

∆∆∆

TBC

Queen For The King [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang