30. END

12.1K 911 64
                                        

Suara tangisan bayi dengan suara riuh dari alam yang merespon kehadiran sang bayi yang di tunggu-tunggu.

Alea dan Vancia menghela nafas lega, benar-benar lega. Sedangkan Mia ia memejamkan matanya dengan lelah. Ia kembali membuka matanya dan menoleh ke samping dimana anaknya yang tengah menatap dirinya.

Mata anaknya bewarna biru sama seperti dirinya namun sesekali mata anak nya berubah, menjadi hijau dan ungu bisa juga menjadi warna hitam legam pada bola matanya.

Wajahnya begitu tampan, namun tatapan anaknya begitu dingin. Mia mengusap pipi anaknya yang begitu lembut.

Sulur tanaman yang menutupi mereka kembali terbuka. Terlihat Tian dan Arthur yang sudah terluka parah.

"Syukurlah," ucap Arthur. Ia pun menatap bayi yang berada di pelukan Mia. "Jadi siapa nama pangeran kecil ini?" tanyanya.

Mia menatapnya. "Rakas Damian," ucap Mia. "Kau terluka, lebih baik kau obati dulu," sambungnya.

Arthur mengangguk. "Luka ini tidak seberapa," ucapnya.

Tian hanya diam di tempat sambil menyembuhkan dirinya sendiri. Mia menatapnya. "Kenapa kau diam?" tanya nya pada Tian.

"Hanya merasa akan ada bencana lain," ucap Tian dengan pelan.

Tian menyembuhkan Mia sambil menatap Rakas yang tengah menatapnya juga.

"Kita harus menyusul," ucap Tian. Arthur yang sibuk menatap Rakas pun menoleh kearah Tian.

"Kemana?" tanya Arthur.

"Raja Alroy sedang bertarung dan kita harus membantunya," ucap Tian.

Mia mengangguk. "Kau benar," ucapnya. "Ayo," ucapnya.

"Kau tidak perlu ikut tuanku," ucap Tian. "Kau harus menjaga bayimu jika tidak bayimu akan berada di dalam bahaya," sambungnya.

"Bagaimana pun juga dia adalah penerus. Walaupun baru lahir aku yakin kekuatannya melebihi aku dan yang lain," ucap Tian, Arthur mengangguk setuju. Ia juga merasakan hal sama, hawa dari penerus raja kegelapan memang tidak perlu di ragukan lagi.

Tian dan Arthur berubah menjadi wujud mereka masing-masing dan pergi dengan cepat dari istana menuju wilayah peperangan.

"Aku pun ikut," ucap Vancia, ia menghilang dengan cepat.

Mia menatap bayinya yang tengah menggenggam dan mengisap ibu jarinya.

"Aw!" Mia meringis, Alea menatap panik. "Ada apa?" tanya Alea khawatir.

Mia menatap jarinya yang sudah mengeluarkannya darah namun anaknya malah mengisap darah tersebut dan menyembuhkannya. Firasatnya semakin buruk. Semoga saja tidak terjadi apapun.

Sebuah kekuatan besar bergerak dengan cepat menuju istana dan meledakkan istana tersebut.

Bomm'

Mia memejamkan matanya namun sentuhan di wajah Mia membuat wanita itu membuka matanya. Ia menatap shock saat Alroy melindungi dirinya dan juga Alea dengan dua pasang sayapnya yang lebar.

Alroy terduduk sambil memegangi bagian dadanya dan mengeluarkan darah dari mulutnya.

Mia membantu Alroy bangkit, ia mengusap pipi Alroy dengan khawatir. "Apa yang terjadi?" tanyanya khawatir.

Alroy menggeleng, ia tersenyum kecil lalu menatap bayi yang berada di gendongan Mia. Ia pun mengecup kening putranya lalu mengecup bibir Mia.

"Terima kasih sayang," lirihnya.

"Apa yang terjadi? Kau terluka?" tanya Mia kembali.

"Suamimu tengah sekarat," ucap seseorang. Alroy menyembunyikan Mia di belakang tubuhnya.

Queen For The King [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang