Dan di sinilah Ayaz berada. Pasrah pada nasibnya, mungkin keberuntungan belum berpihak kepadanya karena harus dipasangkan dengan Zara. Cewek satu-satunya yang paling Ayaz benci dan ingin menjauhinya.
Tiga hari yang lalu, Bu Tyas menetapkan pasangan mereka masing-masing, seakan Bu Tyas tahu kalau dirinya sangat membenci Zara dan hubungan keduanya yang tampak tidak baik dari kelas 10, Bu Tyas sengaja memasangkan Ayaz dengan Zara untuk memperbaiki hubungannya.
Sangat berbeda dengan Ayaz. Zara, dirinya sangat senang sekali bisa mendapatkan pasangan belajar dengan Ayaz, sepertinya Zara harus mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Bu Tyas dan mentraktir makanan enak kepada gurunya itu.
"Yaz, Yaz. Mungkin gak sih, kalo kita itu sebenarnya jodoh. Coba deh flasback ke masa lalu, kita lumayan sering banget lho di pasangin buat belajar bareng gini."
Ya. Memang Zara termasuk ke dalam murid paling susah untuk di ajari, berbeda dengan Ayaz- si murid paling pintar dan teladan satu sekolah.
Entah yang keberapa kalinya, Ayaz selalu mendapat tanggung jawab dari guru-guru untuk mengajari Zara, bukan karena apa. Tapi, karena metode yang di ajarkan Ayaz lebih mudah dan nyambung dengan otak kecil Zara.
"Yaz, Yaz kita jadi pasangan belajar apa kali ini?" Tanya Zara.
Ayaz menoleh pelan ke Zara, membuang napas pelan karena sedari tadi mendengarkan celotehan Zara yang tidak ada hentinya. "Biologi." Jawab Ayaz.
Zara mengembang senyumnya, akhirnya setelah sekian lama dirinya bisa mendengar kembali suara ganteng Ayaz. Setelah beberapa hari ini Ayaz berpuasa mengeluarkan suaranya kepada Zara.
"Kelas 10 kita jadi pasangan Ekonomi, kelas 11 jadi pasangan Bahasa Indonesia, bulan lalu jadi pasangan Matematika."
Zara menghitung dengan menggunakan jarinya, sudah berapa kali dirinya dipasangkan dengan Ayaz untuk menjadi partner belajar.
"Emm... Mungkin beberapa tahun lagi, kita dipasangkan menjadi manusia yang saling melengkapi satu sama lain dalam sebuah ikatan." Zara menganggukkan kepalanya yakin.
Ayaz yang mendengar, menghentikan kegiatannya memilih buku untuk jadi bahan belajar mereka. Dirinya menarik salah satu sudut bibir membentuk senyum miring.
"Inget, masih ada takdir. Dan itu gak ada yang tahu juga."
Zara menatap balik manik mata Ayaz, dengan berkacak pinggang ia makin mendongakkan kepalanya. " Dan gak ada yang tahu juga kalo kita bisa jadi jodoh beneran."
Zara mengedipkan satu matanya, kemudian meninggalkan Ayaz yang membisu. Ayaz ikut menyusul Zara yang sudah mendahuluinya, ia memilih salah satu tempat untuk memulai pembelajaran mereka.
Terlihat Zara yang sudah menampilkan raut wajah malasnya. Dengan tidak tahu malunya Zara menarik lengan baju Ayaz yang sedang berdiri menata buku, menjadi terduduk di samping Zara yang sangat dempet.
"Di sini aja Yaz, kalo belajarnya jauh-jauhan gue makin gak paham." Modus Zara.
"Kasih jarak!"
Ayaz tak mau ambil pusing lagi, ia langsung menuruti kemauan Zara. Karena Ayaz tahu betul tabiat Zara suka memperlama kegiatannya belajar mereka dengan segala cara, degan begitu Ayaz juga berusaha agar memperpendek waktu belajarnya dengan Zara.
"Yaz, Yaz. Lo tau gak perbedaan Lo sama mesosom." Zara mengalihkan pembicaraan Ayaz dengan bertanya.
"Gak ada bedanya. Sama sama saling membutuhkan."
"Tet tot. Salah."
"Terus?" Ayaz melirik Zara dengan salah satu alis yang terangkat.
"Kalo mesosom merupakan salah satu sel penghasil energi yang ada di hewan, sedangkan Lo itu salah satu manusia penghasil energi yang ada di dalam diri gue."
Zara menutup sebagian muka malu, entah pemikiran dari mana dirinya bisa membuat gombalan seperti tadi kepada Ayaz. Ayaz sendiri semakin malas meladeni Zara, dirinya ingin segera mengakhiri kegiatan belajarnya bersama Zara.
"Lo udah tau bab ini kan. Yaudah kita lanjut bab yang lainnya."
"Loh, loh. Gue baca aja, belom Yaz."
"Buktinya, tadi Lo bisa ngebedain gue sama mesosom."
"Itukan cuman perumpamaan biasa doang, Yaz. Biar gak tegang. Hehehe."
"Buruan kerjain soal dari gue. Gue kasih waktu 25 menit. Gak selesai sekarang, gua tinggal pulang dan Lo harus nyalin ini 3x."
"Gila Lo, masa gue disuruh ngerjain 50 soal dalam waktu 25 menit doang sih!"
"Ini soal kelas 10 semua. Beneran bego kalo Lo gak bisa ngerjain soal-soal ini."
"Tambahin dikit kek, Yaz waktunya."
"20 menit."
"Gue gak bisa ngerjain kalo gak liat buku, Yaz."
"15 menit."
"Yaz, Lo jangan kejam-kejan banget doang sama gue."
"10 menit."
"OKE FIKS! 25 MENIT. GUE KERJAIN!"
"Oke. Gue pasang Stop watch nya."
Kedua mata Zara terbuka lebar, gila. Ayaz yang saat ini bersamanya benar-benar gila. Bagaimana bisa dirinya mengerjakan 50 soal dalam waktu 25 menit walaupun itu soal pilihan ganda, tapi sebagian besar dari soal yang diberikan Ayaz memang benar-benar sudah Zara lupakan.
Bibir Zara menggerutu, kakinya tidak bisa berhenti bergerak, keringat membasahi pelipisnya dan telapak tangannya semakin dingin. Ini akibat dari mengerjakan soal dari Ayaz yang tidak ada bedanya seperti mengejar soal seleksi masuk perguruan tinggi.
Meski begitu, Zara tetap mengerjakan soal-soal tersebut secara asal pastinya. Daripada tidak dikerjakan, ia harus menyalin sebanyak 3x yang berarti menulis kembali sebanyak 150 soal yang sama ke kertas selembar.
Duh kalo gue jadi Zara, mungkin gue udah kabur aja tuh dari Ayaz.
Ayaz kejam banget emang, masa nyuruh anak orang buat ngerjain 50 soal dalam waktu 25 menit doang.
Emang akal-akalan nya Ayaz doang buat cepet-cepet pulang dari sekolah dan menghindari Zara kali ya guys.
Btw, gimana nih sama alurnya?
Udah bisa ketebak belom, kenapa Ayaz bisa benci banget sama Zara.
Tetep Happy Reading ya all...
KAMU SEDANG MEMBACA
Physical Touch [end]
Dla nastolatkówPhysical Touch, merupakan salah satu cara mengungkapkan rasa sayang kepada pasangannya yang mengacu pada cara mengekspresikan dan menerima kasih sayang melalui sentuhan, kedekatan fisik, serta bentuk lain dari sentuhan fisik. Dia Ayaz, cowok yang sa...
![Physical Touch [end]](https://img.wattpad.com/cover/304623576-64-k327582.jpg)