Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Zara Tersiksa, Wawa Merana

487 15 0
                                        

Sudah tiga hari berturut-turut, Zara belajar bersama dengan Ayaz yang semakin membuat dirinya ingin mancaci maki Ayaz. Tapi selalu ia urungkan saat melihat wajah tampan manly Ayaz yang selalu diperlihatkan nya kepada Zara.

Suka duka belajar bersama Ayaz akan menjadi sebuah kenangan yang patut ia ingat, walaupun banyak dukanya.

Masuk kelas, Zara dihadapkan dengan wajah muram Wawa. Zara bingung, kenapa wajah ayu Wawa tidak terpancarkan hari ini dan kemana perginya ciki-ciki kebanggaan Wawa yang biasanya selalu berada dalam genggamannya.

"Kenapa Lo, Wa. Pagi-pagi muka Lo udah kaya jemuran yang pasrah mau garing apa kagak."

"Lo tau gak, Zar?"

"Ya kagak lah bego! Gue aja belom denger penjelasan Lo. Gak jelas banget sih jadi cewek."

"Ih sabar dong, gue'kan emang belum cerita makanya Lo belum tahu!"

"Yaudah cepet cerita! Gue dengerin."

"Ck, yang jadi pasangan belajar gue si Ucup."

"Bagus dong, Lo bisa pdkt an sama dia. Kan katanya Lo suka sama Ucup."

"Gimana mau pdkt an, kalo setiap waktu belajar bareng, dia malah ngilang entah kemana."

Bibir Wawa membentuk lekungan kebawah, berlawanan arah dengan lekungan yang selalu ia buat.

"Ih kasian amat sih bestie gue. Sini-sini peluk dulu."

Zara memeluk Wawa, mengelus rambut pendek Wawa yang tergerai indah dengan menggunakan jepitan strawberry di poninya.

"Gue mau tuker pasangan aja lah. Gua mau bilang ke Bu Tyas, kalo Ucup sering ngilang dan gak mau ngajarin gue."

"Eh, jangan doang. Lo tau gak kemaren gue disuruh ngerjain 50 soal dalam waktu 25 menit sama Ayaz. Mereka berdua itu sama. Sama-sama pengen cepat mengakhiri kegiatan belajar bareng kita, biar gak deket-deket lagi sama kita."

"Emangnya gue kuman apa, yang gak boleh di deketin sama Ucup." Wawa melepaskan diri dari pelukan Zara.

"Kalo mereka punya taktik kaya gitu, kita juga harus punya rencana buat makin memperlama belajar bareng mereka. Makanya Lo jangan terus-terusan biarin si Ucup ngilang lagi. Kalo bisa Lo ikutin aja tiap pulang sekolah dan Lo paksa buat belajar bareng."

"Ihh ternyata bestie gue kalo ada masalah kaya gini, paling gercep ya. Gue bangga sama lu Zar, sebego-begonya dalam pelajaran, ternyata lu masih punya sisi pinter cuman buat masalah kayak gini."

"Utututu sini peluk gue lagi."

Berakhir lah dengan pelukan Teletubbies oleh keduanya. Saling merasa bangga dengan keterampilan satu sama lain. Itulah Zara dan Wawa.

Sedangkan Ucup, cowok yang menjadi pembicaraan hangat Zara dan Wawa tadi, berjalan lesu dari sepanjang koridor.

Bertemu dengan Ayaz yang juga ikut berjalan disampingnya dengan menenteng tas sekolah di salah satu bahunya.

Ucup menengok, masih dengan berjalan pelan. "Eh, Yaz. Tumben mau jalan bareng gue."

"Siapa yang jalan bareng Lo? Gue buru-buru mau keruang guru."

Ayaz melengos, langsung pergi dari samping Ucup yang kembali menghembus kan napas pelan. "Sabar Cup, sabar. Masih pagi, gak boleh emosi, nanti jodonya makin jauh karena tersulut emosi."

Ucup mempercepat jalannya menuju kelas. Melihat sekeliling, sudut kelasnya yang pada sibuk membaca buku. Inilah salah satu kegiatan murid unggulan kelas 12.

Dirinya bahkan sampai bingung, kenapa bisa masuk ke dalam area kelas unggulan IPA. Padahal dulu dirinya tidak sepintar dan sepandai Ayaz. Kriteria murid unggulan menurut SMANDEL, itu yang memiliki karakteristik seperti Ayaz. Tampan, mapan, pintar, pandai dan teladan.

"Yaz, tukeran pasangan belajar sama gue Yaz."

"Lo mau? Yaudah tuker aja."

"Serius?!" Raut wajah Ucup seketika langsung berubah menjadi sangat bahagia.

"Pasangan Lo siapa btw?"

Ayaz sengaja terlihat memikir sebentar. "Hmm Zara."

Ucup terkejut. Demi apapun, walau dirinya menyukai Zara, tapi untuk kegiatan belajar ini Zara-lah yang menempati posisi pertama 'sangat-sangat sulit untu diajak bekerjasama'.

Suka duka belajar bersama Zara itu, kebanyakan dukanya. Pernah satu kali Ucup berpasangan dengan Zara belajar kelompok bersama. Tapi apa? Zara sama sekali tidak mengerjakan secuil soal pun dan hanya menumpang nama padanya.

Malahan, Zara membalikkan fakta kalau dirinya lah yang mengerjakan soal-soal yang diberikan sendirian tanpa mengindahkan Ucup yang sudah susah payah memikirkan cara untuk menemukan hasilnya yang balance.

Dari situ Ucup mulai anti dengan yang namanya 'belajar bersama Zara'.

"Gak jadi deh, Yaz. Kayaknya masih mending partner gue yang ini." Tolak Ucup.

"Terserah Lo."

Ayaz dan Ucup sebenarnya sama-sama tersiksa dengan kegiatan belajar bersama ini.

Ayaz yang di pasangkan dengan Zara-cewek cerewet yang paling malas dan sangat susah diajak bekerjasama dan Ucup yang di pasangkan dengan Wawa-cewek dengan wajah planga-plongo yang kalo dijelaskan materi selalu mengangguk walupun tidak paham.

Keduanya sama-sama tidak ada yang diuntungkan dengan pasangannya masing-masing. Tapi mau bagaimana lagi, taruhannya adalah nilai, bagus kalau mereka bisa membuat paham partner nya masing-masing.

Lah kalau tidak?

Mau dibilang apa Ayaz dan Ucup yang termsuk murid berprestasi dan tidak akan pernah membiarkan letak namanya tergeser dari daftar peringkat paling atas.










Alhamdulillah dalam satu hari bisa nulis 5 part lho.

Ini murni dari pikiran gue yang ngalir sendiri tanpa ter struktur.

Gue kagum sama diri gue sendiri, ternyata bisa nulis cerita random kaya gini.

Btw, Ucup itu sebenarnya pinter juga sama kaya Ayaz ya.

Cuman dianya aja yang prik. Ngerasa bego padahal pinter.

Jangan jadi kaya Ucup kalo bisa. Merendah hanya untuk meninggi.

Oh iya untuk belajar bersama itu setiap semester pasti ada antar jurusan ya guys.

Happy Reading all...

Physical Touch [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang