Sebuah Cara

421 18 0
                                        

Pagi ini, kantin sekolah benar-benar sangat ramai dan dipadati oleh murid SMANDEL. Zara dan Wawa yang ikut berada di area kantin tersebut, mengeluh malas dan menyesal karena tidak membawa bekal makannya sendiri.

Biasanya Zara dan Wawa akan beristirahat di dalam kelas, saling bertukar bekal makanan masing-masing dan menikmatinya dengan senang.

Tapi kali ini keduanya harus rela memasuki area kantin yang sangat padat dikarenakan Zara tidak membawa bekal makan siangnya dan Wawa yang tidak bisa jauh dari camilan ringan.

"Zar, buruan sih. Ini gue kegencet-gencet sama badan orang ih. Panas sumpah Zar."

Wawa tak henti-hentinya mengeluh kepada Zara, padahal sedari tadi mereka di kantin juga memang sudah panas dan engap.

"Sabar Wa. Gue lagi ngantri air minum. Lo mau, makan tapi gak ada minumnya? Ihh gue sih ogah ya."

"Yaudah lah, gue keluar duluan nyari bangku kosong buat kita duduk."

"Yaudah sono, gue nanti nyusul."

Wawa pergi dari area kantin, dan mencari bangku kosong. Sedangkan Zara masih disbukkan dengan antrian panjang untuk membeli minum.

Zara Dateng dengan memegang tentang plastik berwarna putih yang berisikan minuman botol. Dia mendudukkan bokongnya di sampingnya Wawa yang sudah sibuk ngemil ciki.

"Wa, nanti kabur yu."

"Kabur ngapain?! Lo ditagih uang kas sama Tiara lagi?"

"Kagak ih."

"Lah terus?"

"Gue hari ini nggak mau belajar bareng Ayaz dulu. Capek gue seminggu berturut-turut diomelin dia terus."

Zara membuka botol minumannya, ia meneguk hingga menyisakan setengah isinya.

"Dih, kata Lo kita gak boleh menghindar dari mereka. Kenapa Lo malah ngajak gue buat bolos."

"Ck, lo--"

Zara tidak melanjutkan ucapannya, ia melongo ketika cowok yang dibicarakan bersama Wawa barusan menampakkan dirinya secara tiba-tiba.

Ayaz menaruh kasar sebuah buku yang berukuran sedang ke meja, tepat di depan Zara.

"Baca. Hapalin intinya." Ayaz kemudian langsung pergi dari frame pandangan Zara dan Wawa.

"Tuh kan, Wa. Gue belom ada seminggu lebih aja udah disuruh-suruh buat gono-gini. Seneng sih iya, tapi kebanyakan sengsaranya Wa."

"Yaudah Lo tinggal baca aja sih, terus inget intinya. Ribet amat."

"Ck masalahnya, Ayaz tuh gak bakalan nanya sesuai dengan apa yang ada di buku ini. Dia nanya menurut diri dia sendiri, gimana gue mau jawabnya."

"Ya tinggal jawab menurut lo juga lah."

"Gampang bener ya Lo, Wa. Tinggal jawab menurut gue sendiri lah. Lo kaya gak tau Ayaz aja sih kalo udah nanya ngalahin pertanyaan hakim."

"Dih, kok lu malah marah-marah ke gue sih. Itukan urusan Lo sama Ayaz."

"Ih bestie lagi susah bukannya di kasih solusi."

Zara pergi meninggalkan Wawa yang masih asik dengan camilannya, ia sudah terlanjur dongkol sama Wawa yang acuh terhadapnya.

Di koridor, Zara berpapasan sebentar dengan Ayaz. Zara yang biasanya akan jingkrak-jingkrak saat bertemu Ayaz, kini malah menampilkan wajah kesalnya dengan kedua kakinya yang mencak-mencak tak jelas.

"Kenapa noh, pujaan hati lo." Ayaz menyenggol Ucup disampingnya.

"Lah, kok nanya gue. Lo yang belakangan ini sering sama Zara."

Ayaz mengangkat bahunya tak peduli, ia lanjut berjalan menuju kelasnya. Meninggalkan Ucup yanga masih sibuk memikirkan alasan kenapa Zara bersikap tidak seperti biasanya.










Pendek ya....

Iya emang, bingung mau dibagi jadi dua part biar seimbang gitu.

Btw Zara sama Wawa itu tipikal siswi yang malas ke kantin dan selalu membawa bekal ya guys.

Makanya mereka jarang ke kantin, paling kalo lagi pengen doang ke kantinnya.

Beda sama Ayaz dan Ucup yang selalu kekantin, minus hari ini karena Zara lupa bawain Ayaz bekal.

Happy Reading all...

Physical Touch [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang