Dan disinilah kedua kaki Ayaz berdiri, SMA Mandala, tempat ia menempuh ilmu pendidikan selama 3 tahun lamanya.
Karena perjalanan yang padat, Ayaz sampai di sekolah lumayan telat dan acara sudah berlangsung. Belum sampai acara inti sih, tapi sudah banyak sambutan-sambutan yang ia lewatkan.
Acara Prom Night yang diadakan di sini memang tidak muluk-muluk. Hanya seperti acara malam biasanya, berbagi kata dan mengenang kembali masa-masa selama SMA ini.
Hanya bedanya seluruh murid diwajibkan untuk memakai jas bagi murid cowok dan dress bagi murid cewek, murid cewek pun di bebaskan menghias diri mereka tanpa takut kena semprot BK.
Menuju acara inti yaitu masa mengenang, panitia menyiapkan proyektor dan layar yang sangat besar menghadap kursi penonton. Lagu demi lagu yang terputar dari backsound pun mendominasi agar tidak terlalu cringe.
Sedari masuk area lapangan dan duduk di kursi, Ayaz mengedarkan pandangan mencari seseorang. "Ayaz!"
"Anjir, gue kira kaga dateng lo."
"Kalo lo gak dateng, gue bingung mau sama siapa. Cuman lo doang yang mau temenan sama gue."
"Baru nyadar lo, kalo temen lo cuman gue?"
"Yee, kagak gitu juga. Nyesel gue ngomongnya."
Ucup menyeruput minuman yang dibawanya tadi, duduk di samping Ayaz dan menyaksikan rekaman video dari seluruh kelas dan 2 jurusan yang di ringkas menjadi 15 menit lebih itu.
Sosok gadis yang pertama kali muncul disana, mengenakan seragam putih-biru dengan rambut yang dikunci menyerupai akar kelapa. Itu saat MOS.
"Zara emang dari dulu secakep itu ya, Yaz."
"Gue tau lo jilat ludah sendiri kan." Seringai Ucup muncul melihat Ayaz yang tidak berkutik ataupun mengelak.
"Tinggal tembak dah, Yaz. Keburu keduluan sama yang laen ege. Tadi gue liat Zara di belakang stand makanan tuh, laper kayaknya, kelamaan makan hati."
"Ck ribet lo." Ucup terkekeh melihat Ayaz yang langsung berdiri dan berjalan menuju stand makanan.
"Ayaz, Ayaz. Naif banget jadi cowok, dari dulu sukanya, malah ngelak sampe sekarang." Gumam Ucup seraya melihat Ayaz yang mulai berjalan menuju bagian stand makanan.
Kedua mata Ayaz terpaku pada seorang gadis yang kini sedang memakan cup cake sambil berdiri. Diliriknya kursi kosong yang berada tak jauh dari tempat, Ayaz mengambil dan menaruhnya tepat di samping gadis itu.
Gadis cantik dengan balutan kebaya modern berwarna hitam yang nampak kontras dengan kulit putihnya. Memang gadis unik, disaat yang lain pada memakai kebaya berwarna mainstrem guna penampilan mereka agar mencolok, tapi gadis yang masih berdiri di depannya ini nampak acuh.
"Kalo makan duduk, biar gak bisulan."
Menyuruh untuk duduk di kursi, Zara menurut. Pasalnya ia juga sudah pegal berdiri sambil makan seperti ini. Semenjak ditinggal Wawa yang entah pergi kemana.
"Mau?" Basa-basi yang biasanya akan langsung ditolak mentah oleh Ayaz, kini orang itu malah mengangguk.
"Ambil sendiri lah!" Lanjutnya, yang tidak rela membagi cup cake kecil seukuran telapak tangan. Kalo makannya dibagi sama Ayaz, ia pasti tidak akan kenyang dan bakal berakhir uring-uringan.
Mending bikin orang lain uring-uringan, daripada diri sendiri yang makan gak kenyang.
"Sekalian satu lagi yang kayak gini, Yaz! Rasa Blueberry tapi." Ayaz tidak menanggapi.
Senyum samar Ayaz terbit, sambil kepalanya geleng-geleng melihat tindakan Zara, itu ternyata mampu membuat dadanya berdebar. Berbeda dengan para siswa/i yang kini sibuk menangis haru, Zara malah sibuk makan di belakang.
"Makasih! Kalo gini kan jadi makin sayang." Cubitan gemas di pipi Ayaz sempat terasa, meski hanya sebentar.
Sentuhan samar tadi benaran tidak bisa ia elakkan, terasanya ringan dan sangat cepat. Padahal biasanya juga Ayaz langsung menepis tangan Zara saat belum mencapai targetnya.
"Yaz jangan liatin gue. Tar lo suka, masalah lagi."
"Masalah kenapa?"
"Lo'kan gak pernah suka sama gue. Kalo lo mendadak suka sama gue, gue gak bakalan bisa nahan buat nembak lo." Giginya Zara kelihatan setelah mengatakan itu, cringe yang menyelimuti mendadak hilang.
"Lo nembak gue?" Tanya Ayaz.
"Iya. Hah?! KAGA! Siapa yang bilang anjing!" Duh pake gerogi segala lagi nih mulut kalo ngomongin soal temabak-menembak.
Bawaanya pengan gas pol sih sebenarnya, tapi kalo cuman dapet hikmahnya doang sih, Zara ogah!
"Itu, tadi?"
"Kaga bakalan mau gue, nembak lo. Yang ada gue malah Nice Try doang."
"Kalo gue mau?"
"Apa?! Lo mau apa? Cup Cake ini?! NIH AMBIL NIHH!!! Bilang dong dari tadi kalo mau Cup Cake ini! Ribet amat dah." Pake di puter-puter segala kalo ngiler pengen Cup Cake yang Zara makan dari tadi.
Zara memberikan potongan Cup Cake nya yang tinggal sekali gigit. "Mangap, Aaaa... "
"Enak kan. Mending ambil sendiri dah, gue masih laper anjir."
"Bukan ini."
"Ya terus?! APA?!! GUE LAPER!!" emang benar ya, cewek kalo lagi laper itu seremnya ngalahin kucing yang rebutan ikan asin.
Ayaz tak mampu mengeluarkan suaranya, ia duduk kaku. Ingin mengutarakan, tapi lidahnya kelu, tenggorokan juga mendadak jadi kering.
"Minum! Gue mau minum. Tenggorokan gue kering."
"Tuh samping, menurut lo apaan?! Tempat Fresh Drink segede gitu gak keliatan?!"
"Keliatan. Galak amat sih." Mengambil minuman dingin, Ayaz memberikan yang satu kepada Zara, guna menyegarkan pikirannya.
"Lo laper kagak?! Cari makan yuk." Ajak Zara, sedikit mengalihkan topik pembicaraan
"Dimana?"
"Diluar, kayaknya enak deh makan sate."
Serius?! Meninggalkan acara ini? Apakah harus banget keluar nyari makan. Lagipula disini juga menyediakan makanan, walaupun hanya makanan ringan.
"Udah, ayo. Gue yang traktir dah!"
Mau tidak mau, Ayaz ikut dengan Zara. Menggunakan mobil ayahnya. Melihat sekitar jalanan malam, lumayan ramai.
Zara ingin makan sate taichan yang berada di dekat GI katanya, "Taichan disono beneran enak. Sumpah gue gak boong, lo pasti ketagihan."
Ayaz yang mengemudi hanya menipiskan senyum, ia berpikir bagaimana caranya mengungkapkan perasaan ini kepada Zara. Di dalam otaknya sama sekali tidak ada ide ataupun referensi.
"Yaz! Itu kelewatan! Mundur dikit, kita parkir agak jauhan aja. Kayaknya rame deh."
Atensinya beralih melihat area tempat makan pinggir jalan yang ramainya bukan main, kursi plastik dan bangku panjang bahkan sampai melewati tenda tempat penjualan. Padahal belum terlalu malam, tapi ramainya sudah seperti ini, apalagi kalau malam sedikit.
"Gue pesen dulu dah, nanti kita makan di mobil aja, boleh?" Ayaz mengangguk, membiarkan Zara yang berjalan menuju tenda ramai itu untuk memesan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Physical Touch [end]
Roman pour AdolescentsPhysical Touch, merupakan salah satu cara mengungkapkan rasa sayang kepada pasangannya yang mengacu pada cara mengekspresikan dan menerima kasih sayang melalui sentuhan, kedekatan fisik, serta bentuk lain dari sentuhan fisik. Dia Ayaz, cowok yang sa...
![Physical Touch [end]](https://img.wattpad.com/cover/304623576-64-k327582.jpg)