Selesai upacara dan kegiatan belajar mengajar jam ke 4, saat para murid SMANDEL untuk mengisi perut kosong mereka masing-masing.
Sama halnya dengan Ayaz dan Ucup yang rela ngantri berdesak desakan demi membeli semangkuk mie ayam masing-masing, Zara dan Wawa kembali terlihat di antara murid yang ikut mengantri juga.
Lebih tepatnya lagi, Zara yang diseret secara paksa oleh Wawa untuk ikut bersamanya makan di kantin yang hawanya luar biasa panas poll.
"Sabar Wa, jangan geret tangan gue kenceng kaya gini dong."
"Ihh biar cepet Zar, nanti gue gak kebagian mie ayamnya bude."
"Yaudah Lo ngantri sendiri aja sih! Gue cari tempat duduk, percuma ke kantin beli makan tapi kagak kebagian tempat duduk."
Tangan Zara berusaha melepaskan cekalan dari Wawa, di salah satu tangannya, membawa sekotak bekal berwarna biru yang ia bawa dari rumah.
Sedangkan Wawa, masih berusaha menahan Zara agar tetap ikut mengantri mie ayam bersama dengannya, namun tenaga nya kalah dengan gerakan gesit Zara yang melepaskan cekalan darinya.
"Ihhhhh ZARAAA!!!! AWAS LO YA, KAGAK GUA BAGI KERUPUK!!!"
"Hih, bodoamat! Gue bisa beli kerupuk sendiri, suruh siapa kagak bawa bekal. Gue sih ogah disuruh desak desakan kaya gitu."
Kaki jenjang Zara melangkah meninggalkan area kantin yang engap, dari pada ia harus makan di dalam area kantin, lebih baik makan dipinggir lapangan.
Kedua bola mata Zara menelisik tajam, mencari tempat yang cocok untuk menikmati istirahat pertamanya.
Tanpa disadari, tidak jauh dari tempat duduk Zara, ada Ayaz dan Ucup yang juga sedang menikmati makanan masing-masing.
"Yaz, Yaz." Telapak tangan Ucup sengaja menepuk beluk kencang paha Ayaz.
Ayaz yang sedang menikmati makanannya, menengok kesal ke arah Ucup karena telah mengganggu. "Apaan sih Cup?! Gak bisa apa sehari aja Lo diem."
"Itu tu." Kepala Ucup mengode Ayaz untuk melihat kearah samping mereka.
"Apaan? Bendahara lagi? Lagian sih Lo, nunggak uang kas banyak amat!"
"Apa sih Yaz, kok malah bawa-bawa uang kas lagi sih."
"Lah terus?"
"Tuh ada Zara noh, di serong samping Lo!"
Ayaz membelalakkan matanya, mie ayam yang telah masuk ke dalam tenggorokan Ayaz mendadak terhenti, rasa sambal yang menurutnya tadi sama sekali tidak pedas beralih menjadi sangat pedas diikuti dengan tenggorokan nya yang panas dan matanya sedikit berair, bibir yang semula pucat menjadi sangat merah dan panas.
"ZARAA!!!!" Mendadak Ucup memanggil Zara dan menyuruhnya agar ikut bergabung bersama mereka.
Zara yang melihat adanya Ayaz di samping Ucup, mengembangkan senyum andalannya. Dirinya yang semula sudah duduk diatas aspal lapangan kembali berdiri dan berjalan ke arah Ucup dan Ayaz berada.
"Loh, tumben Cup kaga makan di kantin."
"Iya nih, si Ayaz pengen suasana yang baru."
Uhuk Uhuk Uhuk
Mendadak juga Ayaz yang sudah bisa menelan mie ayam yang tadi hampir tidak bisa ditelannya, terbatuk, menyebabkan rasa panas, pedas, perih di tenggorokannya bercampur menjadi satu. Kedua sudut matanya juga mengeluarkan sedikit air.
Zara yang duduk di samping Ayaz dengan sigap memberikan air botol minum miliknya kepada Ayaz. Ayaz menerima tanpa menolak dan berkata apapun, ia langsung meneguk habis air dingin yang diberikan Zara tadi kepadanya menyisakan setengahnya.
"Pelan-pelan Yaz, kagak ada yang minta mie ayam Lo kok." Tangan Ucup menepuk pelan belakang leher Ayaz sambil menampilkan senyum menggoda.
"ZARA! Elo gue cariin di dalem kantin kagak ada! Bilang dong makannya di pinggir lapangan!!"
Wawa datang marah-marah dengan membawa nampan yang berisikan seporsi bakso yang kuahnya berwarna merah gelap lengkap dengan es jeruk dilihat dari warna Zara yakini pasti sangat asam.
"Wawa dateng-dateng gak boleh teriak kaya gitu. Malu diliatin."
"Ah elu biasanya juga malu-maluin, giliran di depan Ayaz aja sok kalem Lo!"
Wawa ikut duduk di samping Zara, mereka berempat terlihat seperti membuat sebuah lingkaran kecil yang di tengahnya terdapat berbagai macam minuman dingin dan mangkuk bergambar ayam jago yang sudah kosong isinya.
"Apa Lo liat-liat gue! Gue emang cantik gak usah dilihatin kaya gitu!" Mulut Wawa kembali mengeluarkan suara nyaringnya, membalas tatapan Ucup yang sedari tadi melihat ke arahnya.
"Dih, kepedean. Gue ngeliat si Ojan noh, lagi maen bola."
"Bodoamat."
"Elo lagian lama amat sih ngantrinya. Ini juga tadi katanya mau makan mie ayam, sekarang malah jadi bakso. Gak jelas lo." Zara melihat ke arah Wawa yang sudah menikmati makanannya.
"Biarin. Suka-suka gue!"
"Eh Yaz, ganti noh minumnya si Zara. Enak bener Lo, kagak beli minum tapi udah disediain sama Zara secara cuma-cuma."
Zara yang sedang mengunyah menahan senyum gemas akibat ekspresi wajah yang ditunjukan Ayaz.
"Gak papa, minum gue buat Ayaz aja, lagian nanti gue bisa minta minum punya Wawa hehehe." Kedua bibir Zara tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang rapih.
Sedangkan Wawa yang duduk disamping Zara mengerutkan keningnya, tidak setuju dengan yang di ucapkan Zara tadi.
" Enak aja Lo! Gue belinya ngantri di kantin yang pengap, kanan kiri bau keringet bau ketek juga, elo enak amat tinggal minta minum gue. Kagak! Gue gak mau!"
Telapak tangan Zara memukul reflek ke paha Wawa sambil berbisik walaupun masih bisa terdengar oleh Ayaz dan Ucup yang ada didepan mereka. "Ih Wawa. Gak boleh pelit gitu sama bestie."
"Emang Lo bestie gue?" Mata Wawa melirik sinis Zara.
"Wa, jangan sampe gue Jambak elo didepan Ayaz sama Ucup ya Wa!"
"Bodoamat! Jambak aja, gue gak takut wlee!" Setelah mengatakan itu, Wawa langsung pergi meninggalkan Ayaz, Ucup dan Zara yang sudah menggertakkan giginya.
"Hehehe, maklum si Wawa dari tadi pagi badmood. Kayaknya perlu cuci mata sama yang sinning, simering, Splendid lagi. Btw gue duluan ya hehehe, Babay Ayaz."
Zara ikut berdiri, pergi menyusul Wawa yang sudah masuk kedalam kawasan kantin lagi untuk mengembalikan mangkuk bekas ia makan bakso.
Ditempat yang tadi, Ayaz masih duduk menatap kepergian Zara bersama bestienya. Sungguh kejadian tadi membuatnya dirinya sangat malu, bisa-bisanya ia mengambil alih minuman yang bukan miliknya, ya walaupun itu diberikan oleh pemiliknya secara langsung.
Tapi hal yang paling membuatnya malu, ketika ia melihat Zara yang datang menghampiri dirinya dan Ucup dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya ditambah lagi aroma khas yang dimiliki Zara. Sangat menagihkan.
Halo halo.
Update lagi nih......
Jangan bosan-bosan ya sama cerita absurd gue...
See u next part all...
Happy Reading....
KAMU SEDANG MEMBACA
Physical Touch [end]
Novela JuvenilPhysical Touch, merupakan salah satu cara mengungkapkan rasa sayang kepada pasangannya yang mengacu pada cara mengekspresikan dan menerima kasih sayang melalui sentuhan, kedekatan fisik, serta bentuk lain dari sentuhan fisik. Dia Ayaz, cowok yang sa...
![Physical Touch [end]](https://img.wattpad.com/cover/304623576-64-k327582.jpg)