Awalan Dari Ayaz

366 12 2
                                        

Jam berganti jam, Hari berganti hari, Minggu berganti minggu. Waktu memang begitu cepat berputar, sudah lama rasanya Zara dan Ayaz tidak belajar bersama lagi karena sibuk dengan pendalaman materi kelasnya masing-masing.

Semester genap, dimana Zara, Wawa, Ayaz dan Ucup yang akan selalu disibukkan dengan berbagai soal dan materi ujian masuk perguruan tinggi semakin membuat Zara disibukkan.

Bukan hanya Ayaz dan Ucup saja yang disibukkan karena mereka murid berprestasi, tapi Zara dan Wawa juga tak ingin kalah, seperti sekarang mereka berdua sedang berada di dalam perpustakaan.

Diwaktu yang kebetulan kosong karena guru-guru melakukan rapat, Bersama dengan tumpukan buku masing-masing yang begitu tinggi dan tebal, tak membuat Zara dan Wawa bosan untuk membaca, membaca, meringkas, dan mengerjakan soal-soal yang sekiranya bisa mereka kerjakan.

Berbekal kan dengan apa yang diajarkan Ayaz selama belajar bersama, Zara lebih mudah untuk mengembangkan banyaknya soal yang ia dapatkan dari buku. Begitupun dengan Wawa, yang biasanya Wawa akan selalu murung karena tidak mendapat jawaban sesuai dengan ekspektasi nya.

Kali ini Wawa dan Zara dengan senyum yang terus mengembang, mencorat-coret kertas yang ia punya dan senang saat mendapat jawaban yang benar.

"Zara, Zara! Lo udah ngerti materi pertidaksamaan linear yang ini belom?!" Tanya Wawa memecah keheningan sedari tadi.

Zara menyeret buku yang Wawa sodorkan tadi ke arahnya, membaca dengan seksama, dan berusaha memahami seperti yang diajarkan Ayaz lalu.

"Oh ini. Gue pernah ngerjain sih, tapi lupa caranya, jawabannya doang yang gue inget." Kata Zara membuat Wawa melongo.

"Lah, bagaimana bisa elo gak tau cara, tapi tau jawabannya?!" Wawa mengambil kembali buku yang ada di hadapan Zara.

Tangan Zara menggaruk rambutnya, "Hehehe. Dulu gua diajarin caranya, tapi susah. Yaudah gue ingetin jawabannya aja. Lagian ini pasti keluar nya paling di soal pilihan ganda."

"Hih. Sok tau banget Lo! Yang bikin soal tuh dinas, bukan sekolah lagi!"

"Yaudah sih, Wa. Cari di google aja caranya, banyak tuh." Saran Zara kepada Wawa yang masih sibuk menghitung di selembar kertas.

Kepala Wawa mendongak, dipukulkannya pulpen yang ada di genggaman tangan ke jidat Zara. "Gak bisa. Gue gak bakalan mudeng kalo enggak diajarin langsung."

"Lah gimana dong, gue aja gak tau caranya, gimana mau ngajarin elo." Zara merasa tidak enak karena tidka bisa membantu Wawa menyelesaikan soalnya, padahal tadi Wawa sudah banyak membantu dirinya.

Wawa hanya mengangguk, menghela napas dan kembali mencorat-coret kertas menorehkan beragam rumus yang ia ketahui.

"Dia kenapa?"

"ASTAGFIRULLAH!" Zara kaget karena mendapati Ayaz yang tiba-tiba duduk di kursi sampingnya dan bertanya langsung.

"Ayaz! Elo ngagetin gue aja sih! Ngapain kali kesini!" Tanya Zara.

"Ini perpustakaan, tempat umum juga, gak ada salahnya gue disini." Jawaban Ayaz mampu membuat Zara semakin kesal.

"Ya, maksud gue, elo ngapain tiba-tiba nongol di samping gue." Ayaz yang ditanya mengedikkan bahunya. Matanya menjelajahi seluruh buku dan kertas milik Zara.

"Elo belajar?" Tanya Ayaz.

"Iya! Kenapa! Gak boleh?!" Ayaz tersenyum miring, dan itu mampu membuat mata Zara melotot dengan mulut yang terbuka sedikit. Ditambah tepukan yang diberikan Ayaz di atas pucuk kepalanya pelan.

"Bagus, yang rajin ya!" Senyum Ayaz kembali terbit di wajahnya.

"Maksud Lo apa nih! Tiba-tiba dateng! Maen tepuk-tepuk pala gue!! Terus Lo SENYUN KAYAK GITU!!! Maksud Lo apa Ayaz!!!"

Wawa yang duduk di depan Zara menegur Zara yang mengeluarkan suara bising, "Ih Zara, berisik! Ganggu gue tau gak!"

"Eh iya, maap, Wa."

Kembali, Zara menyampingkan duduknya menjadi menghadap ke arah Ayaz, dirinya menelisik seluruh permukaan wajah dan memegang dahinya. "Gak panas kok, Yaz. Apa gue yang panas ya. Apa gue mimpi! OMG Ayaz!!!"

Seperti tidak ada rasa bersalah, Ayaz malah mengerutkan keningnya dan ikut menempelkan punggung tangannya ke dahi Zara. "Enggak. Elo gak gak panas juga tuh."

"AYAZZ!! MAKSUD LO APA PEGANG-PEGANG JIDAT GUEE?!?"

"Zara diem! Nanti di tegur Bu Meta!"

Zara kembali ditegur Wawa karena suara bisingnya. Untung saja perpus hari ini sanaht sepi dan hanya ditempati mereka bertiga saja, karena Bu meta-penjaga perpus sedang izin keluar.

"Gak ada maksud apa-apa, Lo butuh bantuan gue?" Tanya Ayaz tanpa mengalihkan perhatian nya dari Zara.

Kedua mata Zara berkedip pelan, ia tidak yakin kalau yang ada dihadapannya hari ini adalah Ayaz yang biasa ia kenal. Tapi seluruh pikiran negatifnya tentang Ayaz sudah ia singkirkan jauh-jauh.

Tanpa ingin berkata lebih jauh lagi, Zara menunjuk soal yang tadi ditanyakan Wawa kepada dirinya untuk dikerjakan Ayaz. "Gue lupa caranya, kerjain ya."

"Salah siapa, elo gak mau belajar bareng gue lagi."

STOP! Sepertinya yang Zara lihat dan ajak bicara hari ini bukanlah Ayaz yang ia kenal! Bagaimana bisa perlakuan Ayaz terhadap dirinya berubah 360° kali lipat. Apa mungkin ini adalah sebuah Hidayah yang Ayaz dapatkan setelah kemarin meneduh di halte berdua? Atau karena Zara yang memilih belajar mandiri?

Mana mungkin karena itu! Dengan masih memperhatikan raut wajah Ayaz yang sedang mengerjakan soal tadi, Zara tidak ingin berpikir macam-macam tentang Ayaz lagi dan ingin menikmati perubahan perilaku Ayaz terhadap dirinya saat ini, walupun ini hanya sekejap, Zara rasanya ingin menghentikan waktu saat ini juga.

"Wa, Wa, Wawa! Ck. Nazwa!" Zara kesal memanggil Wawa yang sangat fokus pada soalnya.

"Apasih Zar?!"

Mata Zara bergerak menunjukkan Wawa agar melihat kesamping nya, tempat Ayaz sedang mengerjakan soal.

"Kenapa?" Wawa benar-benar tak paham dengan Zara, banyak sekali tingkah absurd nya.

"Itu Ayaz?" Tanya Zara to the points. Bukannya apa, tapi Zara hanya ingin memastikan saja semoga yang ada disampingnya memang benar-benar Ayaz.

"Iyalah! Lo liat sendiri. Lo pikir itu Ucup?!"

"Santai Wa, santai."

Wawa tak membalas lagi, ia terlalu capek dengan soal-soal yang sedari tadi dikerjakan.

"Nih udah. Mau gue jelasin juga?" Ayaz memberikan kertas berisi hasil coretannya kepada Zara.

"Hah?! Boleh deh sekalian, hehehe."

Ayaz menurut, sembari Zara mendekatkan kursinya kepada Ayaz. Ayaz langsung menjelaskan bagaimana caranya menyelesaikan soal pertidaksamaan linear dengan rumus mudahnya kepada Zara.

Tapi modus, tetaplah modus, tiada henti Zara menanyakan pertanyaan random seputar soal tadi kepada Ayaz guna memperlama acara ngobrolnya dengan Ayaz.

"Ayaz." Panggil Zara, Ayaz yang sedang sibuk menjelaskan, berhenti dan menoleh ke pada Zara.

"Apa?"

"Lo beda, hari ini. "











Yahhhh pendekkkk, huhuuu

Gak mood banget banget

Padahal tadi udah nulis panjang panjang, tapi malah ke hapus setengah

Maklum author orangnya teledorr

Jadi maafin yaaaaa

Tapi sebelum itu, kalian harus kasih komen banyak banyakkk okeee;;))))

Happy Reading All

See uuuu

Physical Touch [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang