Hujan Cintah!

357 10 0
                                        

Suara nyaring bel yang berdering memenuhi seluruh antero sekolah menandakan berakhirnya kegiatan belajar mengajar, sebagian besar murid SMANDEL juga sudah berbondong-bondong keluar kelas memenuhi Arema lapangan dan parkiran untuk segera pulang menuju rumahnya masing-masing.

Teriknya sinar matahari menyapu bersih setiap sudut area sekolah, jendela yang terbuka lebar dengan tirai yang sudah tersingkap separuh, membuat teriknya matahari memasuki ruang kelas 12 IPA 3 melalui celah jendela.

Zara dan Wawa yang sibuk dengan mimpinya masing-masing menggeliat terganggu, dinaikkan nya kepala Zara yang tadinya telungkup. Mata sipitnya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang kelas yang telah sepi.

Hoammm

Dengan sedikit melakukan peregangan, kaki Zara yang ada di bawah meja, menyenggol kaki Wawa untuk membangunkan sang empu dari tidur nyenyak ya.

"Ihhh Wawa! Bangunn!!!!" Zara berteriak kencang tepat disebelah telinga Wawa guna membangunkan.

"Berisik Zaraa!!!" Badan Wawa menegak, melayangkan tatapan tajam kepada bestienya yang sudah membangunkan dirinya dengan cara yang jelek.

"Lagian elo! Kebo banget sih kalo tidur!! Gak denger bapa bunyi bel yang gedenya ngalahin toa Masjid!!"

Mata bulat Wawa yang semua masih menyipit remang-remang, langsung membola lebar, dengan mulut yang juga ikut menganga.

"ZARA!!! KENAPA LO KAGAK BANGUNIN GUE DARITADI!!!!"

Tiba-tiba saja Wawa langsung membereskan peralatan sekolah dengan cepat. Memasukkan bukunya secara kasar, merapihkan isi tempat pensil yang tadi digunakan mereka berdua secara asal dan langsung memakai sepatunya kembali dengan asal-asalan.

Sebelum Wawa menggendong tasnya dan pergi  meninggalkan kelas, Zara sempat mencegah kepergian. "Wawa!! Gue balik sama siapa dong kalo enggak bareng elo!!"

"Naik angkot aja! Gue buru-buru!! Hari ini jadwalnya gue belajar bareng Ucup lagi!!"

"Ihh. Perasaan lu belajar bareng dia lama amat dah! Udah mau lewat satu bulan juga!"

"Ck! Y--ya po--pokoknya g--gue. Ah gua kalo telat nanti di omelin Ucup!! Ogah banget gue!!"

"Ihh Wawa!!!"

"Babay gue duluan ya bestie, hati-hati dijalan! Muach!"

Sepersekon kemudian, Wawa sudah tidak hilang dari penglihatan Zara. Zara yang masih berada didalam kelasnya menghela napas kasar karena tidak dapat tumpangan dari Wawa.

Zara membereskan peralatan sekolah nya dan memasukkannya kedalam tas, dirinya menghela napas kembali dengan wajah Mela yang ditampilkannya. Zara kemudian meninggalkan kelasnya buru-buru tak mau ketinggalan angkot tujuan rumahnya.

Dan benar saja, sudah hampir dua puluh menit Zara menunggu angkot di depan gerbang sekolah, tapi sama sekali tidak ada yang lewat.

"Masa gue harus jalan kaki sih. Capek dong. Nyampe rumah betis gue berubah jadi paha!"

Kedua mata Zara melihat malas jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Jarum panjang menunjuk ke angka dua dan jarum pendek lewat sedikit dari angka tiga.

"Duh udah jam tiga lewat lagi. Nanti kalo dicariin bibi gimana ya."

"Apa telpon om aja ya, minta jemput, tapi om pasti masih kerja. Apa telpon bang Ian aja? Duh kalo masih kuliah gimana. Ihh bingung kan."

Kaki Zara bergerak gelisah, telapak tangan dan dahinya sudah berpeluh keringat. Matahari yang tadinya bersinar terik tergantikan dengan awan kelabu dengan langit mendung, pertanda sebentar lagi akan turun hujan.

Physical Touch [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang