Revan itu, suka sekali mengalami yang namanya 'lapar mata'.
Contohnya saja, sekarang.
Dimana lelaki yang baru pulang dari kantornya di hari Senin ini, telah memesan begitu banyak porsi makanan. Tetapi yang dia sentuh, hanyalah satu dari sekian banyak.
Makanan berjenis acak pula.
Dari mulai minuman, seperti jenis frappucino juga dua cup es kopi.
Makanan manis, seperti donat dan macaron.
Yang berminyak, seperti dua kotak berisi ayam krispi, dan juga ada kentang goreng.
Lalu, dua buah kelapa muda pun ikut tersaji manis di meja itu sendiri.
Dan siapa yang menjadi korban dari peristiwa 'lapar mata' itu?
Ya adiknya, karena mau tak mau mereka harus menghabiskan semua makanan itu hingga tandas tak tersisa. Menyebabkan sebuah omelan menguar dari belah bibir Nana, namun tak ayal tetap menikmati makanan yang tersaji di depan matanya, bersama dengan yang lain.
"Jeano."
Jeano yang bermain laptop ditemani sepotong ayam, memalingkan pandangan pada Mark yang baru menuruni tangga. Dia sepertinya belum sadar kalau semua adik-adiknya tengah berada dalam mode hikmat dan damai hanya untuk menikmati makanan yang Revan pesan.
"Kamu bisa cariin kelapa muda, nggak? Abang pengen banget tau."
Kebetulan sekali.
Sepertinya Revan tadi sempat berhubungan batin dengan Mark. Pikirnya absurd.
"Itu Bang Revan baru beli, Bang. Kebetulan kan ya?"
Mark melirik.
Barulah dia sadar akan keberadaan adiknya dalam formasi lengkap, berpusat pada sekumpulan makanan--yang tergeletak di meja sofa.
Haekal menikmati sepotong ayam dalam genggamannya, paperbag kentang goreng dikuasai oleh Cetta, lalu Jio mengunyah penuh nikmat salah satu makanan favoritnya––macaron. Jangan lupakan Nana yang tengah santai menyeruput es kopi hitam yang dibungkus oleh cup transparan. Lalu terakhir, Revan yang menggigiti sebutir donat sembari sibuk mengusak layar tablet dengan satu jarinya.
Seketika maniknya tertuju pada dua butir kelapa muda yang lapisan serabutnya sudah dikupas.
Lantas menggoda nafsunya untuk ingin segera menikmati isi buah berkulit baja itu.
"Sini, Jeano kupasin."
Singkat cerita, ekspresi Mark tampak berseri-seri setelah air dan daging dari buah kelapa itu melewati tenggorokannya. Haekal dan Jeano yang memperhatikan hanya terkekeh geli, gemas dengan wajah manis sang Kakak seolah telah mendapatkan sebuah harta karun melegenda. Setelah selang beberapa waktu lalu, lelaki itu meminta Nana memasak ramyeon-tteokbokki––bersama deretan jenis frozen food––kemudian terbitlah keinginan mengonsumsi kelapa muda.
Kali ini, Haekal menyetujui jika keinginan lelaki muda itu melebihi tingkah Nana yang dikenal random.
Merasa aneh?
Hm, tidak juga sih.
Karena sudah lebih dari dua minggu ini, Haekal benar-benar terbiasa dengan deretan keinginan-- jenis makanan atau apapun--random dari lelaki itu.
Seingatnya, ada saat-saat dimana Mark meminta Revan membuatkan es semangka, tak peduli bagaimanapun bentuk dan campurannya; yang penting bertitel es semangka. Nana yang juga sudah diminta berpuluh-puluh kali untuk membuatkannya beragam jenis makanan.
Termasuk bubur kacang merah, memanggang daging iga namun bahkan belum sempat menyentuh level setengah matang. Yang Haekal pikir, itu akan sedikit terasa kurang nyaman di mulut.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABOUT DREAM - NCT
FanfictionSepasang kembar pun, pasti memiliki setidaknya satu perbedaaan diantara keduanya. Apalagi yang hanya sekedar terlahir dari rahim yang sama. Mereka, tujuh orang putra Adyatama yang tampan, dengan karakteristik masing-masing yang begitu beragam. Apa...
