Tahu senja?
Sudah pasti tahu, kan?
Sebagian orang akan mengartikan bahwa senja merupakan sebuah fenomenan alam, perpisahan dengan siang dan pertemuan menuju gelapnya malam.
Ya, senja memang akan selalu menakjubkan.
Kehadirannya begitu ditunggu, dan pertemuan dengannya selalu disambut suka cita. Beserta ribuan harapan yang terucap sebelum hari berikutnya kembali tiba untuk menjemput.
Namun, sebagian lainnya akan mengartikan makna berbeda untuk kata senja. Bagi kebanyakan dari mereka, menganggap peristiwa senja, tak ubahnya sebuah perpisahan yang mau tak mau harus dilalui, dalam setiap kehidupan. Bagi mereka pula, senja sama seperti sebuah perpisahan dari sinar kebahagiaan yang dilambangkan dengan waktu siang, untuk menuju suramnya kesedihan yang dilambangkan oleh waktu malam.
Ya, semenyakitkan itu arti senja bagi banyak orang.
Memang pada dasarnya, setiap insan akan selalu mengalami perpisahan dalam hidupnya, meski setidaknya hanya sekali. Apapun bentuknya, dan bagaimanapun ceritanya. Karena perpisahan itu sudah selayaknya hukum alam yang takkan lagi bisa diganggu gugat akan eksistensinya.
Mau tak mau,
Suka tidak suka.
Akan ada waktunya sebuah perpisahan untuk kita alami.
Bagi yang belum mengalami titik terberat perpisahan, jangan pernah tanyakan seberapa menyakitkan rasanya.
Akan tiba nanti, saat sebuah kejadian nyata dianggap sebatas fatamorgana semata, dan tiba juga saatnya sebuah kisah nyata dianggap sebuah bunga tidur belaka. Isak tangis dan tak jarang jeritan frustasi juga ikut mengiringi racauan kerinduan yang mengalun begitu pilu.
Hal seperti itu lumrah, juga bukanlah sesuatu yang jarang ditemukan dalam rangkaian peristiwa sebuah perpisahan. Miris memang, tapi memang seperti itulah faktanya.
Beruntungnya, bagi orang yang ditinggalkan apabila sempat diberikan sebuah salam perpisahan; apapun bentuknya. Tapi, sayangnya banyak yang tidak lebih dulu mengalami itu. Jadi mereka yang merasa ditinggal tanpa sempat terucapnya sebuah salam, hanya akan bisa menyimpan torehan luka sekaligus jeratan sesak di dada, bersama dengan untaian memori manis maupun pahit yang terkunci rapat-rapat dalam benak.
Selalu menyakitkan.
Sama seperti kecelakaan pesawat yang ditumpangi Richard Adyatama dan pihak keluarganya, delapan tahun lalu.
Tidak ada tanda, tidak pula disertai sebuah gejala.
Sang Papa dari ketujuh putra manisnya, berpulang ke pangkuan sang Tuhan, dengan kondisi mayat yang tenggelam hingga ke dasar laut.
Pada awalnya, merupakan perjalanan pulang keluarga Adyatama––yang terdiri dari Richard, Ayah-Ibunya, dan keseluruhan saudaranya––dari Jerman setelah sempat menyelesaikan beberapa pekerjaan disana, sekaligus berlibur singkat untuk anggota keluarga lain yang bukan termasuk Richard.
Namun nahas.
Pesawat khusus bisnis dengan nama Cleon Air 2731 yang mengangkut jajaran konglomerat itu, sempat dinyatakan lost contact sebelum pada akhirnya dikabarkan jatuh dalam perairan Samudra.
Keseluruhan jenazah memang berhasil dibawa pulang.
Namun tidak seluruhnya dipulangkan dalam kondisi tubuh yang baik-baik saja, ataupun sekedar utuh.
Sang Mama––Lusi, sempat drop hebat pasca mendapati suaminya pulang hanya tinggal papan nama beralas peti. Si sulung yang saat itu baru saja akan menginjak usia 20 tahun, mau tak mau harus bisa menegarkan bahu untuk menjadi tempat curah tangis menyayat hati adik-adiknya. Jeano yang berbeda sekitar tiga tahun darinya, juga sama-sama menguatkan; bersiap menjadi tameng untuk segala sesuatu untuk ke depannya, apapun yang terjadi. Padahal, Mark tahu jelas bahwa Jeano merupakan sesosok yang paling dekat dengan sang Ayah hingga pribadi keduanya pun begitu mirip satu sama lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABOUT DREAM - NCT
Fiksi PenggemarSepasang kembar pun, pasti memiliki setidaknya satu perbedaaan diantara keduanya. Apalagi yang hanya sekedar terlahir dari rahim yang sama. Mereka, tujuh orang putra Adyatama yang tampan, dengan karakteristik masing-masing yang begitu beragam. Apa...
