[Part 13 : Dua Bungsu Keluarga]

4.6K 337 3
                                        

"Memang lo nggak papa kalo bolos?"

Cetta mendongak hanya untuk menatap tepat bagian mata adik tunggalnya. Entah Jio yang memang tinggi, atau Cetta yang terlalu pendek hingga tinggi badan keduanya pun berselang cukup jauh. Keduanya sudah memasuki area basement, dimana jajaran mobil adalah hal utama yang bisa ditatap.

"Sekali, nggak papa."

Jio menarik pelan tangan Cetta, menuju kearah motor matic yang sejak awal Jio bawa. Tak setiap hari sih, sebab Jio tahu bahwa Nana tidak ada kelas perkuliahan di pagi ini, jadi bisa Jio gunakan sebagai alasan untuk berangkat ke sekolah dengan membawa motor, berdua dengan Cetta.

Cetta sendiri tidak tahu Jio akan mengajaknya kemana.

Sejak tadi, pikirannya senantiasa berkecamuk. Tepatnya, sejak guru bernama Matthew itu dia pastikan mulai menebarkan bibit-bibit peperangan dengan dirinya. Disaat orang lain akan melihat sikapnya begitu angkuh, maka dibalik wajahnya ia menyimpan amarah berapi-api, bahkan hingga membuat dadanya menahan rasa terbakar juga sesak. Bukan fisik, melainkan dalam artian batin.

Sebab, dirinya baru saja mendapatkan sebuah penghinaan dari Tua Bangka yang sok tahu dalam menilai bagaimana pribadinya.

Sejujurnya, Cetta itu juga remaja biasa. Sebandel apapun, dia juga bisa merasakan sakit hati atas perkataan Matthew yang seumpama dengan level terpedas kumpulan cabai setan. Membakar hingga to the bone. Dari lubuk hati terdalam, Cetta pun seratus persen yakin tak ada orang yang benar-benar terima jika merasa direndahkan. Baik secara halus maupun langsung, baik dalam kondisi serius maupun sekedar lawakan.

Orang-orang yang nampak santai alih-alih marah dan sakit hati saat menghadapi sebuah penghinaan, karena faktanya mereka memang hanya memiliki dua opsi pillihan.

Pertama, mati-matian menahan kesabaran.

Atau kedua, harus memilih mengabaikan.

Padahal, dalam hati mungil mah; duh greget aing pengen nabok!

"Kita belanja. Gue yang bayar."

Oh, rupanya mereka sudah sampai di sebuah minimarket.

Bahkan Cetta belum tahu kalau motor yang dia tumpangi telah berhenti sejak dua menit lalu.

Tapi kini, dia berjalan begitu cepat hingga Jio tertinggal di belakangnya.

"Anjing."

"Tadi ngelamun aja si bangsat."

Jio menatap penuh perangah pada satu Abangnya itu. Tak main-main, satu keranjang sudah hampir setengahnya terisi dengan beragam jenis camilan diikuti berbotol-botol minuman, dengan jenis berbeda pula. Sepertinya Cetta benar-benar bernafsu menguras habis uangnya. Pikir Jio, begitu hiperbolis.

"Keripik potato numero hiji. So, odisseo?"

"Ngomong apasih lo?!"

Jio mendumel sebab Abangnya itu malah berbicara dengan mencampurkan beberapa bahasa dalam kalimatnya. Satu kata yang bisa menggambarkan, adalah prik. Dengan kaki panjangnya, Jio lekas dengan mudah menendang pelan bagian belakang kaki Cetta hanya untuk menyalurkan sebuah rasa ilfeel. Sedangkan yang membuatnya ilfeel itu hanya bisa terkikik geli, sembari sibuk mengocok sebotol minuman entah apa namanya yang baru diambil dari kulkas.

Hm, tunggu.

Sepertinya Jio tahu jenis sebotol minuman yang tengah dikocok oleh Cetta.

"Nanti mbledos, goblog!"

Dia ngegas. Wajar saja jika kesal, karena minuman itu adalah sebotol soda.

"Sengaja tau."

Cetta tersenyum, matanya menyipit.

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang