[Part 11 : Caranya Menghadapi]

3.9K 383 4
                                        

Puk.

"ABANG! IH!"

"SALAH KAN!"

"Anjim emang."

"Woi, adeknya jangan dirusuhin terus. Ngamuk kan jadinya?"

Haekal cengengesan sambil menatap Nana, sontak memundurkan tubuhnya dari Cetta setelah ujaran itu terlontar darinya. Cetta yang diberi pr menggambar tanaman sampai ngegas begitu Haekal dengan sengaja menepuk pelan bahunya; menjadi sebab utama lembaran kertas gambarnya tercoret pensil hingga sedemikian rupa.

"Terus ini gimana?!"

Dia masih sama ngegasnya. Menatap nanar gambarnya yang hampir setengah jadi, namun sial ketika si kampret Haekal itu malah mengacaukan segalanya.

"Diapus coretannya, susah amat. Mentok-mentok, ya bikin baru."

Haekal menjeda ucapannya.

"Yang itu..."

"Kurang bagus."

Sedetik lewat.

"ABANG!!! IH!"

Wajah Cetta memerah, Nana sampai kasihan tapi gemas juga melihatnya. Sudah dipastikan remaja itu ingin membogem wajah si pelaku iseng jika saja bukan terlahir sebagai sang adik kandung. Ingatkan kalau Cetta itu sesosok tak kalah barbar jika di sekolah, Jio bersedia menjadi saksinya.

"Udah goblok, nggak jelas. Idup lagi."

Suara Revan mencemooh, ikut merasa kesal karena tingkah tidak jelas pemuda itu. Terlebih lagi jeritan Cetta itu bukan main nyaringnya, hingga pasang-pasang telinga disana sempat dirasa berdengung. Ulah Haekal si menyebalkan. Buruknya tidak kali ini saja dia mengganggu yang lain dengan perbuatannya; bahkan Mark sudah seringkali mendumel, mengomel, dan berulang kali pula mengumpat dalam bahasa Inggris karena benar-benar merasa terganggu.

Sampai si sulung kalem itu memutuskan untuk mengunci diri dibalik pintu kamarnya, demi menyelesaikan deretan tugas perkuliahan yang dipastikan tak akan selesai jika tetap terus berdekatan dengan Haekal.

Haekal mode reog hari ini, itu yang dapat Revan tangkap.

Karena fakta bahwa Haekal kurang suka mengganggu Cetta saja, terpatahkan begitu mudahnya.

"Nggak mau tau. Gambarin pokoknya."

"Iya, Abang coba dulu."

Sebuah senyuman sarkas dari Cetta terpatri di bibir. Dirinya termenung, menunggui sekitar tiga menit berlalu hanya demi menatap Haekal yang berusaha mengikuti gambar yang dicontohkan ponsel milik Cetta.

Sk-sk-sk.

Suara gesekan antara kertas dan penghapus, saat sudah beberapa kali Haekal menghapus bagian gambar yang sekiranya tidak mirip dengan apa yang dicontohkan.

Srek.

Alamak!

Kertas robek, menjadi dua bagian.

"ABAAAAANG!"

"ITU KERTASNYA CUMA SATU!"

Emosi Cetta kembali membumbung tinggi.

"AH, AH, TOLONG MAS REVAN! AH, MAS!"

"AH, SAKIT. PELANIN DIKIT."

Shit.

Telinga Revan dan Nana menjadi pengang karena kata-kata yang mereka ucap bergantian, tepat pada saat Cetta menjambak kuat rambutnya dari arah belakang. Jio yang sebelumnya hanya duduk dengan kesan cuek dan anteng, sampai merasa bahwa telinganya memanas atas jeritan ambigu bervolume tinggi itu. Di balik wajah lempengnya, jujur saja Jio sampai mengumpati Haekal yang sepertinya memang terlahir dengan keberadaan otak tertanam di belahan pantatnya; tertimpun tumpukan feses.

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang