[Part 1 : Awal Mula]

13.3K 840 18
                                        

"Na."

"Hm."

"Bikinin gue susu dong."

Nana yang masih dalam mode bantal, sontak berdecak. Melemparkan sebuah bantal sofa pada kepala satu kakaknya itu hingga dia nyaris terjengkang diatas timbunan bantal-bantal lainnya yang tergeletak memenuhi karpet.

"Perlu gue patahin tangan lo itu, huh? Biar bisa bebas nyuruh orang."

Bak ada sesuatu yang lucu, pemuda itu bernama Haekal itu hanya bisa cengengesan sambil menggaruk tengkuk. Nana ini, galak sekali saat bersikap padanya. Tak jauh berbeda dengan Revano, yang dikenal memiliki kesabaran hanya setipis selembar kertas.

"Please Na, gue pengen banget, tapi lupa resep yang enak kaya susu yang lo buat."

"Lebay banget sih."

"Bubuknya empat sendok, air panasnya tiga perempat gelas, kasih gula setengah sendok teh. Tuh, resepnya."

Nana kembali menjatuhkan fokus sepenuhnya pada ponsel, menunjukkan reel instagram yang baru saja dibagikan oleh idolanya. Ariana Grande. Jangan ditanya, Nana itu fans beratnya penyanyi eksotis bersuara melengking itu, sehingga bahkan dia mau repot-repot menghapal total sekitar enam atau tujuh buah lagunya dari album yang berbeda.

Tanpa sepengetahuan Nana, Haekal mencebikkan bibir. Memang rasanya tidak akan bagus jika bermanja pada saudara laknatnya yang satu itu. Jadi dengan segenap dendam membara, dia melangkahkan kakinya ke dapur untuk membuat segelas susu sesuai dengan resep yang dikatakan Nana barusan.

Hello!

Siapa yang sebenarnya bertitel saudara laknat disini?

"Bang Na."

Suara Jio.

Si pijakan anak tangga terakhir, bungsu keluarga yang nampaknya akan mengalami masa kelebihan kalsium itu tengah berdiri dengan wajah kusut. Sama kusutnya dengan piyama putih yang dikenakannya, konon lagi rambutnya yang lebat. Entah posisi tidur apa saja yang sempat dicoba oleh bungsu bermata irit itu hingga penampilannya kini begitu jauh dari kata rapi. Bibirnya pun mengerucut lucu, sebuah ciri khas yang ada pada Jio manakala dirinya masih berada dalam mode bantalnya sendiri.

"Mau susu."

Dengar?

Jika Jio yang meminta, dengan senang hati Nana segera bangkit untuk membuatkan apa yang dia inginkan.

"Ngapain lo, Na?" Haekal menatap dengan raut herannya, tangannya sibuk mengaduk segelas susu yang sedari tadi ia idam-idamkan itu.

"Buat susu, Jio minta."

Brengsek.

Haekal bersungut, bibirnya penuh dengan kalimat umpatan yang tertahan di ujung lidah dan mustahil bisa dengan mudah dilontarkan. Lihat kan, betapa kurang ajar adiknya itu saat Haekal memohon hanya untuk dibuatkan susu, itupun tidak dituruti sama sekali. Sementara, Jio yang baru datang pun justru mendapat apa yang ia inginkan tanpa perlu sedikitpun bersusah payah. Ketidakadilan macam apa yang terus terjadi kepada Haekal di rumah ini?

"Lo memang adek durhaka ya, Na."

"Yang bilang gue adek paling berbakti juga siapa, anying."

Sial.

Belum sempat Haekal keluar dari dapur sambil membawa serta kekesalan membuncah, Jeano datang. Seperti biasa, wajahnya nampak segar dan seperti nyaris tak ada guratan pasca bangun tidur disana. Rutinitas biasanya saat menginjakkan kaki di dapur, sudah dipastikan membuat segelas kopi hitam panas dan penuh asap mengepul.

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang