[Part 28 : Sebait Klasik Untukmu]

2.9K 318 14
                                        

Nana itu, terdefinisi begitu indah sampai mengalahkan kata indah itu sendiri.

//Iyalah, org beliau visual njem.

•🍄🍄🍄•

Denting irama air yang jatuh ke bumi, terus-menerus menggema dan menginvasi rungu disana. Aroma petrikor lantas menyerbak dan memonopoli penciuman setiap insan, menciptakan kesan damai tersendiri dalam sukma, yang sulit diuntai lewat kata-kata.

Dari sudut ruangan, obsidian sehitam jelaga miliknya memperhatikan pemandangan diluar yang tak terbatas apapun.

Sorot matanya begitu ayu, tak dapat ditampik jika tatapannya serupa damai dengan suara rintikan hujan gerimis itu sendiri, yang tak ubahnya sebuah alunan simfoni nan menenangkan.

Dia, Nana.

Putra kelahiran Agustus yang telah dibesarkan dengan cara yang baik, dan telah tumbuh besar menjadi sesosok lelaki dengan hati yang baik pula.

Cowok dengan bulu mata lentik yang mengapit mata rusa indahnya, dan kesan candu yang mustahil bisa dilewatkan ketika bibirnya terulas keatas membentuk secercah guratan sabit.

Senyuman yang sesejuk embun fajar, serta tawanya yang senantiasa terdengar sehangat mentari pagi.

Sekilas, akan ada banyak kata yang bisa mewakili tatapan sekaligus wajah dengan kontur yang lembut itu. Keindahan, kebahagiaan, kedamaian, ketenangan, kepolosan, keanggunan, kesucian, kemurnian, bahkan secuil binar luka dan lara. Semua itu ada, terpatri jelas, jika saja orang lain mau meluangkan waktu untuk memperhatikannya lebih lamat.

Nana itu,

Benar-benar definisi dari kecantikan yang murni.

Begitu indah dan tersembunyi, bagaikan mata air suci diantara belukar pegunungan.

Pasti, Tuhan sedang berbahagia ketika menciptakan mahluknya yang satu ini.

Satu insan lainnya yang masih setia berada disana, menyunggingkan seutas senyum tipis. Terpana, kembali menyadarkan diri akan wajah adiknya yang sungguh tampan dan cantik, secara bersamaan.

Fajar menyingsing, Bagaskara tertukar Surya.

Awan-awan berpumpun, mengajak Sang Surya nan elok untuk berdansa bersama.

Baik-bait Sastra kuukir dalam dada.

Lantas Permaisuri, sudikah kau ikut menoreh sajak bertema?

Tertanda, Nathan si tampan.

Nana dengan damai menuliskan apa yang ingin dia tulis diatas layar tab miliknya. Senyum tipis tercetak, melirik keberadaan Jeano yang kini meluruskan pandangan keluar dan menatap rintikan hujan ditemani segelas kopi.

Oke, kesan Indie berhasil tercipta.

"Bang, ini Bobby-nya..." Nana merengek ketika Bobby mendusel-dusel dan menganggu dirinya yang sedang menulis.

"Biarin, dia pengen manja sama kamu, Na."

Nana tidak merespon apapun, meletakkan gawainya, menatap rambut dari Jio yang kini dia usap-usap dan hanya membiarkan kucingnya melakukan apapun yang dia inginkan. Tak jauh dari posisinya, ada sekumpulan obat yang salah satunya adalah salep––setelah sempat kembali mengobati luka lebam di wajah Jio.

Tentu saja Jio tidak bersekolah untuk hari ini, Nana tidak akan tega dan pada akhirnya harus membujuk Revan untuk membiarkan anak itu meliburkan dirinya. Termasuk untuk memeriksakan remaja itu ke rumah sakit dan mengetahui bagian tubuh mana saja yang mungkin mengalami cedera.

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang