[Part 5 : Haekal dan Teman]

6.6K 515 2
                                        

"Hae."

"Hm."

Netra gelap Haekal melirik, kearah temannya yang bernama Varrel itu. Kemudian mengikuti arah pandangnya, dimana subjek penglihatan Varrel saat ini merupakan segerombol gadis-gadis cantik berpakaian cukup terbuka di siang-siang bolong.

"Lo kepincut ya?"

Dia memicingkan mata.

"Itu, yang pake crop top item, pake topi. Jujur aja, cakep baget anjir."

Haekal mendengus geli. Salah satu gadis yang dimaksud Varrel-mengenakan crop top hitam dilapisi kemeja dan mengenakan topi putih, ternyata menjadi pusat atensi si teman saat ini. Walaupun, keseluruhan isi dari satu geng ciwi-ciwi itu memang semua sama rata cantiknya.

Pesonanya pun beragam. Dari yang berpenampilan begitu feminim ketika mengenakan blouse merah muda dengan rok rample pendek senada; sporty seperti yang ditunjuk oleh Varrel, lalu berpenampilan casual seperti kaus yang dilapisi kemeja dengan bawahan celana denim. Jujur saja, mereka memikat banyak pasang mata termasuk milik Haekal sendiri.

"Woi cewek!"

Tanpa sungkan Haekal menyapa hingga membuat perhatian lima orang cewek itu teralih padanya.

"Itu yang pake crop top, salam suka dari temen gue!"

Bangsat.

Varrel merasa refleknya begitu bagus ketika menggeplak bagian belakang kepala Haekal begitu saja. Apalagi hingga dia meringis, puas sudah rasa dendamnya terbalaskan.

"Babi lo ya."

Sebuah umpatan terlayangkan tanpa sensor dari si empunya, Liu Yi Zhang a.k.a. Varrel.

Pemuda berdarah asli Chinese dengan aksen Javanese yang sangat kental itu, merasa sangat malu ketika gadis ber-crop top tadi sempat meliriknya dengan tatapan aneh yang kentara sekali. Berikut lagi teman-teman seper-gengannya. 'Duh, sudahlah.

Minder seketika dirinya.

Katakanlah Haekal itu memang temannya yang paling laknat dari yang laknat.

"Gue kan malu, Haekal babi."

Umpatan kedua kalinya, hanya kali ini dibarengi dengan kalimat lain.

Haekal hanya cekikikan penuh rasa puas, dia menepuk dua kali pundak sang teman seolah memberikan sebuah isyarat dari kalimat 'it's okay, kesempatan masih banyak.'

Cukup lama mereka terdiam menimbulkan suasana keheningan. Varrel yang asyik menyesap lalu menikmati dengan hikmat bagaimana setiap rasa dari pangkal sebatang rokok itu menginvasi indra perasa miliknya. Sementara Haekal? Dia hanya sesekali menyeruput kopi kemasan yang sejak awal sudah dia beli. Meski sangat ingin merokok dari hati terdalam, Haekal mana berani untuk melakukan itu; teringat bagaimana bencinya Mark saat salah satu adiknya kedapatan menghisap benda merugikan itu.

"Itu hubungan lo sama Lidya gimana?"

Sial.

Haekal yang bertepatan menyeruput kopi dinginnya sampai tersedak pasca pertanyaan itu terlontar.

Rupanya si Varrel itu belum juga bisa mengingat nama pacarnya dengan benar.

"Livya, babi."

"Lo bikin gue emosi terus."

Varrel tergelak keras.

Puas jika Haekal terpancing emosi karena dirinya.

Dia akui memang telah salah untuk terus-menerus melupakan penyebutan yang benar untuk nama pacar sang sahabat. Tapi perihal perkataan terakhir Haekal, tidakkah itu terlalu berlebihan? Rasanya, pemuda itu yang selalu mengganggu Varrel dengan tingkahnya yang luar biasa menyebalkan, terutama dalam kesehariannya di kampus. Seharusnya, Varrel adalah pihak yang berhak mengatakan hal yang baru saja dikatakan oleh pemuda bebal itu.

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang