[Part 26 : Ngidamnya Calon Papa]

3.1K 275 24
                                        

"No, Abang pengen makan nasi dari beras tujuh rumah. Sana, mintain beras ke tetangga."

"Van, lo beli duren pas pulang nanti, jangan lupa. Tapi nggak boleh ada yang makan, awas aja. Biarin ditaruh dibawah kolong ranjang Jio. Kalo bisa sih, sampe busuk."

"Nana mana ya? Tadi kan Abang nitip beliin hape mainan yang bunyinya 'ayaya' ituloh. Dari semalem Abang mimpi pengen dengerin suaranya, lucu banget."

"No, sore nanti lo adu ayam idup yang tadi Haekal beli, oke? Gue pengen banget nonton adu ayam sampe salah satunya mati."

"Haekal, ambilin mangganya Pak Hamid, gih buru. Harus yang hasil colongan, bukan yang beli. Terus kalo bisa yang warnanya masih setengah ijo-setengah oren, kalo yang kuning Abang nggak mau."

"Duh, pusing. Panas-panas gini enaknya tidur sebentar di kolong meja makan kali ya?"

Jeano mengusap wajahnya, sudah jelas dia merasa frustasi akan semua keinginan nyeleneh dari Kakak sulungnya yang pada hari ini kondisinya tengah terbebas dari jeratan morning sick. Dia ingin menjerit sekuat mungkin karena merasa jengah dengan semua keinginan out of the box bertameng kata 'ngidam'.

Ngidam yang sangat-amat menyusahkan, kemudian membuat dirinya dan juga putra Adyatama lainnya sampai terperosok dalam situasi yang luar biasa memalukan.

Apalagi jika memutar kilas balik perkara 'Beras Tujuh Rumah' yang membuat harga diri Jeano merosot turun ke titik terendah hingga mungkin insiden memalukan itu tak mampu dia lupakan untuk seumur hidupnya. Bagaimana satu persatu pintu dari ketujuh rumah tetangga diketuk hanya untuk meminta secuil beras, dan... sudahlah. Jeano terlalu malu untuk meneruskannya.

"Mas Jeano? Mau cari siapa, Mas-nya?" Satpam penjaga pintu rumah super mewah berlantai tiga itu bertanya.

"Eh iya, Ibu Nara-nya ada, Pak?"

"Ada, kok. Monggo, ada urusan apa?"

Jeano mengusak rambutnya sendiri hingga kusut tak beraturan, sedangkan yang membuatnya pusing itu kini tengah duduk santai; dengan khidmat menikmati sepiring puding buatan Nana dengan bahan tambahan berupa gilingan kencur dan temulawak. Jangan lupakan sedikit siraman minyak bekas menggoreng ikan diatasnya, Jeano benar-benar tak bisa membayangkan rasanya atau kepalanya akan berdenyut ngilu seketika.

"Bangke." bisik Jeano mengumpat, wajah itu nampak begitu manis dan polos seolah tidak pernah merasa melakukan sebuah kesalahan dan dosa.

Lebih memusingkan lagi disaat lelaki itu bersikukuh menyetel nada dering ponsel mainan yang baru Nana beli sampai ribuan kali, hingga beberapa kali sempat berganti baterai agar tetap menyala. Membuat Jeano yang terus mendengarnya merasa hampir kehilangan kewarasannya, bahkan rasanya mau resign saja dari statusnya sebagai adik lelaki penuh akan kerandoman itu.

Sialan.

"Gue tandain lo pas lahir. Pasti calon bar-bar." monolognya, tertuju pada bayi yang akan lahir dalam rentang waktu beberapa bulan lagi, yang keberadaannya entah dimana bersama sang Ibu.

Masih lama.

"Bang, yang kemaren gimana?"

Suara Haekal memecah keheningan, bertanya pada Mark. Jangan sampai bosan atas kegiatan pemuda berkaus pendek yang lagi dan lagi, tengah mengerjakan tugas skripsinya.

Skripsi itu berat dan menyusahkan, by the way.

Jika dibandingkan, sudah tentu keinginan ngidam-nya Mark berada jauh di bawah level menyusahkannya sebuah tugas skripsi.

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang