Nana beserta kegabutannya itu, memilih Jeano sebagai sasaran kejahilannya kali ini. Telapak tangannya dia gunakan untuk memukul pelan dan secara bolak-balik, bisep Jeano. Seperti yang suka dia lakukan. Jeano juga tak mengeluh ataupun mengusirnya, hanya sekedar tersenyum manis tanpa mau menunjukkan deretan gigi.
Menyabarkan diri, tentunya.
Jeano tidak akan tega untuk balik berbuat serupa pada mahluk menggemaskan yang tersuguh di sampingnya ini. Meski Cetta adalah pemenang titel paling menggemaskan di rumah, tak dapat Jeano pungkiri bahwa Nana sudah menempati posisi kedua yang tak kalah imut.
Baginya seorang.
"Jio! Ini kenapa bisa robek begini... Astaga?!"
Lalu, suara nyaring Revan memenuhi ruangan. Menggenggam sebuah sampul binder yang sudah robek menjadi dua bagian di salah satu sisinya. Salahkan saja si Jio yang entah bagaimana ceritanya, hingga bisa dengan mudah merobek sampul binder yang cukup tebal itu.
"Ya maaf, Bang. Lagian itu sampul bindernya kayanya terlalu tipis deh makanya cepet robek."
Jio berkilah.
"Ndasmu tipis!"
"Ini bukan dari plastik, apalagi karton. Terus gimana bisa ceritanya robek gini?"
Lelaki yang masih mengenakan setelan itu, menolakkan pinggangnya dengan sebelah tangan.
"Kamu tuh kalo megang apa-apa wong ya jangan pake tenaga dalem juga, ngapa?!"
"Udah kaya Jeano aja, ish!"
Oke, Jeano yang kena sembur.
Matanya melirik Cetta yang ngakak tanpa suara sambil memegangi perutnya, nampak sangat puas dengan apa yang disaksikannya barusan.
Memang adik laknat.
Bolehkah Jeano meminta agar Cetta juga kena semprot omelan Revan?
Jderr!
Suara petir di luar begitu menggelegar terdengar.
"Apasih Cetta?! Mau jadi orang gila kamu ketawa sendiri, huh?"
Akhirnya.
Jeano bisa bernafas lega.
Keinginannya terkabul dengan cara yang begitu instan.
Tentu dong, Jeano itu 'kan Kakak yang baik.
"Nggak lah. Orang aku ngetawain Abang, juga."
Wah, wah.
Berilah sebuah penghargaan kepada nyali Cetta.
Rupanya si remaja sedang ingin cari masalah pada Revan.
Apalagi saat sebuah bantal melayang begitu saja, namun sayang demi sayang dengan sigap bisa dihindari oleh Cetta.
"Ngomong apa kamu?!"
Cetta gelagapan.
"Aku ngetawain alesan Jio yang Abang marahin."
"Tadi tuh nggak fokus, makanya salah ngomong."
Sama seperti Jio sebelumnya, Cetta juga berkilah. Air wajahnya Revan tampak serius saat ini, dan hal itu tak baik untuk kesehatan jantungnya jika dia terus melanjutkan kegiatan menantang nyali tersebut. Tepatnya, juga tak baik untuk kesehatan rekening milik Cetta, karena ancaman yang Revan berikan jika dia marah, alhasil akan selalu berkaitan dengan uang jajan.
Berbeda dengan Jeano dan Jio yang melakukan hal serupa dengan yang Cetta lakukan tadi; tertawa tanpa suara sambil menutup mulut juga memegangi perut.
Kini posisinya terbalik.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABOUT DREAM - NCT
FanfictionSepasang kembar pun, pasti memiliki setidaknya satu perbedaaan diantara keduanya. Apalagi yang hanya sekedar terlahir dari rahim yang sama. Mereka, tujuh orang putra Adyatama yang tampan, dengan karakteristik masing-masing yang begitu beragam. Apa...
