[Part 4 : Tak Enak Badan]

9.5K 558 8
                                        

Mark menatap Cetta yang tertidur pulas dalam posisi terbalik; dimana bagian pangkal ranjang diisi oleh kakinya, sedangkan bagian kepalanya berada di bagian ujung ranjang.

Syukurnya, remaja itu tak terbangun begitu Mark bersuara saat memuntahkan isi perutnya di toilet, akibat mual tanpa sebab yang jelas. Sedangkan rasa mual itu sendiri, kini membuat perutnya terasa teraduk penuh gejolak diikuti rasa lapar sekaligus. Buruknya lagi, Mark merasa bahwa dia menginginkan seporsi nasi goreng kali ini, entah memang kepingin ataupun demi menutup rasa laparnya.

Omong-omong, kedai nasi goreng mana yang masih buka di jam tiga pagi?

Ah, beruntungnya Mark.

Kala melihat Nana masih duduk anteng menonton tayangan film horor, sementara dibawahnya––di karpet––Haekal tertidur pulas dalam kondisi meringkuk ditengah tumpukan bantal-bantal.

"Na."

Nana menengok dengan wajah terkejutnya, bertanya-tanya dalam hati mengapa si Mark itu terbangun di dini hari seperti ini. Lupa bahwa dirinya sendiri pun bahkan belum mau sekedar memejamkan matanya––sejak berjam-jam lalu. Malah, putra kelima keturunan Adyatama itu melakukan hal-hal random yang terkesan tak berfaedah.

Seperti melamun.

Memperhatikan Haekal yang tertidur dengan seksama.

Menonton televisi.

Lalu kembali melamun dan menonton televisi lagi.

"Abang kenapa bangun?"

Tanya Nana, memperhatikan langkah sedikit terseok dari Mark yang perlahan menuruni anak tangga. Pemuda itu seperti biasa mengenakan sebuah setelan piyama tidur, kali ini berwarna gelap bermotif kotak.

"Harusnya Abang yang nanya serupa ke kamu."

Gemas Mark, menahan volume suaranya agar tak sampai mengganggu Haekal. Mark berani bertaruh kalau Haekal itu, kala tertidur sangat terlihat tampan sekaligus menggemaskan disaat yang sama. Tengoklah bagaimana lucunya sang adik yang pipinya tergencet antara wajahnya sendiri dan juga bantal. Tak jauh berbeda dengan keimutan Cetta saat tertidur.

"Nana nggak ngantuk."

Oke.

Jawaban klise.

Mark hanya bisa menghela nafas, tidak terkejut sama sekali. Sudah sering pula baginya mendapati pemuda itu belum tertidur di jam yang sudah menginjak dini hari, atau pagi buta. Selain melakukan aktivitas random, nyatanya si pemuda itu juga sering menyelesaikan beberapa tugas kuliahnya yang mendekati jadwal deadline.

"Na, boleh minta tolong?"

Tanyanya, sebuah trik agar sang adik tidak bisa menolak permintaannya kali ini.

"Kenapa, Bang?"

Mark mengambil jeda sejenak.

Menatap Nana seolah akan membicarakan sesuatu yang mempertaruhkan posisi perusahaan keluarga di mata publik.

"Abang pengen nasi goreng."

Oh, Nana kini paham alasan Mark terbangun disaat-saat seperti ini.

"Abang laper ya?"

Mark mengangguk, Nana tak tega melihatnya. Apalagi saat netranya sadar akan sesuatu yang ada di diri Mark.

Apakah rasa lapar sampai membuat wajah Kakaknya itu menjadi nampak pucat berlebih?

Hei, tunggu sebentar.

Apa-

"Abang habis muntah?"

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang