[Part 8 : Mark Drop]

4.4K 405 11
                                        

Huek...

Pagi ini, Mark sudah muntah sebanyak tiga kali, di dalam kloset. Awalnya dia memuntahkan seluruh isi makanan di lambung, hingga tiba saat cairan kekuningan yang hanya bisa dia keluarkan, barulah insiden muntah itu berakhir. Indra pencecap miliknya benar-benar terasa pahit dan sepat karena hal itu.

Mark menyesal, sungguh.

Tadi malam dia melewatkan jam makan malamnya begitu saja, dan memilih mengerjakan tugas tanpa ditemani satupun camilan demi mengisi perutnya. Sampai Revan datang untuk bercerita tentang mimpinya pun, tak ada yang berbeda.

Ya, terima saja.

Begitu sepertinya, magh kembali menyerang.

Hingga membuatnya mual hebat alhasil memuntahkan semua isi perutnya.

Posisinya pun sejak tadi duduk bersandar pada body closet, tungkainya terlalu lemas untuk bisa menobang beban tubuhnya sendiri. Konon lagi untuk bisa berjalan dan pergi meminum obat. Bahkan, suaranya pun tak bisa dikeluarkan untuk menjerit dan memanggil seseorang––siapapun itu, demi meminta bantuan.

Cetta dan Jio sudah pergi bersekolah seperti biasa. Revan bekerja, Nana mengikuti kelas. Mark sendiri memang hanya akan datang ke rumah sakit di jam 2 siang, untuk mengurus beberapa hal termasuk menepati agenda konsul dengan para pasiennya. Jadi setahunya, yang berada di rumah bersamanya kini, hanyalah Jeano dan juga Haekal.

"Mark?"

Jeano, niatnya ingin bertanya sesuatu pada Kakaknya itu. Bertepatan dengan Haekal yang tahu-tahu berada di belakangnya; mengekori. Di tangannya ada sebuah nampan berisi semangkuk krim sup dan juga dua lembar roti, jangan lupa dengan sekotak susu rasa pisang. Dirinya sadar, dari pagi Mark belum keluar dari kamarnya untuk memakan sarapan bersama mereka.

"Astaga."

Dengan segera, Jeano menggendong lelaki yang berada diujung batas batas kesadaran itu, menuju tempat tidur. Haekal juga tak kalah terkejut, spontan meletakkan nampan yang dipegang dengan cepat dan mengisi segelas dengan air. Meminumkannya perlahan pada Mark, guna mengurangi level dehindrasi yang tengah dialaminya sekarang.

Jeano yang sigap, dan Haekal yang tanggap.

Keadaan Mark sudah lebih terjamin kali ini.

Haekal membiarkan saja bahunya menjadi sandaran kepala Mark yang tengah lemas itu. Mengusap-usap punggung juga memijit tengkuknya, sedangkan Jeano pergi untuk mencari obat mual atau magh. Mau bertanya pun pasti akan berakhir percuma, dikala kondisi si sulung saat ini tidak memungkinkan untuk sekedar memberi jawaban. Tatapan mata sang Kakak juga nampak begitu sayu, lemah. Bagaimanapun, serangan dehidrasi bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah disepelekan.

Pikirannya kembali teringat dengan keadaan wajah Mark saat pertama kali ditangkap maniknya.

Pucatnya bukan main.

Telat sedikit saja, laki-laki itu akan benar-benar pingsan.

Huek...

Ternyata rasa mual itu belum juga puas untuk berhenti menghajar Mark.

Sebelah tangan milik Haekal terjulur untuk kembali mengambil gelas yang masih tersisa setengah air, lantas kembali memaksa Mark untuk meminumnya; lewat cengkraman lembut pada rahang yang Mark terima. Terkesan kasar, tapi tindakan yang Haekal lakukan memang sudah cukup benar.

Disaat seperti ini, sikap gesitnya memang sangat diperlukan.

Lalu Jeano datang. Selain obat pereda mual, dia juga membawa segelas teh jahe hambar hasil buatannya. Memberikannya pada Haekal, untuk kembali disuapkan pada Mark.

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang