"Kalian ngapain sih? Stop lakuin hal konyol dan makan!"
Revano Gabriel, menatap adik-adiknya yang kini tak bisa diatur. Yang satu kurang kerjaan mengaduk-aduk makanannya hingga tak berbentuk, yang satunya mencoba bereksperimen dengan mencampurkan beberapa makanan dengan jenis dan rasa yang bertolak, lalu sisanya sibuk menoel-noel pipi salah satu lainnya lewat telunjuk.
Kali ini, Revan menghela nafas.
Keadaan memang selalu memaksanya untuk menjadi pribadi yang cerewet, demi mengomeli mereka-mereka yang bebal.
"Haekal, kamu mau ngerasain gimana bentukan makanan sapi?"
Yang dipanggil mendongakkan wajahnya.
"Aku kurang suka menunya, Bang. Abang sih, udah tau disini banyak yang nggak suka tapi tetep kukuh mau masakin."
Kedua kalinya, Revan menghembuskan nafas untuk mengontrol emosi. Merujuk pada menu daging ikan yang dimasak dengan kuah santan, karena itulah lauk yang dipilih oleh Haekal meskipun opsi menu lain jelas masih tersedia banyak, di depan mata. Memang pada dasarnya si Haekal itu tengah mencari masalah saja.
"Oke, Abang minta maaf, nggak lagi-lagi masak menu ini. Tapi sekarang, kamu habisin dulu makanannya entah suka atau nggak suka. Inget, kamu lagi berhadapan sama rezeki disini, jadi nggak baik untuk sekedar ngeluh cuma karena alasan nggak suka."
Gantian Haekal yang menghela nafas pelan.
"Hm. Iya-iya, Hae minta maaf juga udah ngomong gitu."
Hm, satu masalah terhapus.
"Nathan, kamu kaya orang sinting loh, tau nggak?"
Si empunya nama yang baru saja disebut menampilkan sebuah cengiran bodoh, lalu melahap sepotong apel yang sudah dia cocol ke dalam saus cabai, setelah sempat direndam kuah santan. Ataupun melakukan hal yang sama kepada satu potong ayam goreng yang sebelumnya dia olesi dengan selai nanas. Wajahnya berubah-ubah hanya dalam sepersekian detik; yang sebelumnya masam, lalu terkejut, mengerjap tak percaya, dan terus berulang. Berbanding lurus dengan bagaimana lidahnya merasakan sensasi aneh dari makanan itu.
Jeano di sebelahnya hanya tertawa geli memperhatikan tingkahnya sejak tadi. Itulah sebabnya Nana mendapat predikat paling random diantara yang lain, bahkan aneh. Tingkahnya benar-benar terlampau sulit ditebak bagi siapapun di rumah.
"Diem dulu sih, ih!"
"Aku mau makan loh, Ta!"
Akhirnya Jio menahan paksa pergelangan tangan Cetta yang tak henti-hentinya menoel-noel pipinya sejak tadi. Matanya berkilat tajam, menyorot wajah Cetta yang kini justru mengangkat dagunya khas wajah menantang. Si keras kepala Adyatama itu bisa lepas dari cengkramannya, lalu dengan kurang ajar memasukkan dua jarinya pada lubang hidung Jio dengan iseng meski hanya sedetik. Lalu terkekeh, tak peduli dengan Jio yang masih melayangkan tatapan dingin padanya.
"Arcetta! Jangan nakalin Jio-nya, bisa?"
"Seenggaknya jangan di waktu makan kaya gini." Revan menegur.
"Habisnya Jio tuh lucu, kaya bayi."
Huft.
Lagi-lagi, membuang nafas kasar adalah hal yang bisa dilakukan Revan selainnya.
Yang satu ini tak akan mau disalahkan.
Lagian, bisa-bisanya bayi ngatain bayi.
"Cetta."
"Eoh?" Cetta menjawab.
"Kamu tau adab waktu makan, kan?"
Cetta mengangguk, dia langsung menghentikan tingkah mengganggu tadi dengan langsung menyuapkan sesendok nasi pada mulutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABOUT DREAM - NCT
FanfictionSepasang kembar pun, pasti memiliki setidaknya satu perbedaaan diantara keduanya. Apalagi yang hanya sekedar terlahir dari rahim yang sama. Mereka, tujuh orang putra Adyatama yang tampan, dengan karakteristik masing-masing yang begitu beragam. Apa...
