[Part 10 : Keuangan Keluarga]

4.3K 393 17
                                        

Mark sudah benar-benar jengah dengan dirinya sendiri. Mual, mual, mual. Dan berakhir muntah. Menjadi kebiasaan rutinnya yang amat, sangat, sungguh ia benci di beberapa Minggu terakhir. Itu biasanya akan berlangsung tepat setelah dirinya membuka mata di pagi hari yang seharusnya langsung diisi oleh aktivitas lain, bukannya malah berdiri di depan wastafel atau kloset untuk memuntahkan isi perutnya.

Kini, lelaki itu berada di kamar Jeano, tiba-tiba menginginkan waktu bersama dengan kucing peliharaannya yang sekarang tengah ia pangku. Jeano tentu disana, membuka lebar-lebar pintu kaca hanya untuk meletakkan sebuah kursi di ambangnya, pula duduk disana sejak tadi. Seperti itulah aktivitas yang dia lakukan nyaris di setiap pagi buta yang benar-benar gelap, dalam keadaan tubuh sudah mandi dan wangi. Atau jika tidak, maka Jeano lebih memilih olahraga ringan yang bisa membentuk bisep, sebelum dia mandi.

"Masuk angin ntar lo, No." 

Suara level bariton milik Mark memperingati. Dirinya yang berada diatas kasur saja masih bisa merasakan hawa dingin yang begitu menembus pori-pori kulit terdalamnya. Apa si Jeano itu memiliki kulit badak hingga bisa menangkis dingin yang amat terasa?

"Udah biasa, badan gue udah kebal."

Lawan bicaranya memutar bola mata jengah.

"Hilih. Ntar masuk angin bakal minta kerok juga lo ke Nana."

Mark melesat pergi, diekori Jeano yang dengan segera menyimpulkan dasinya sambil berjalan menyusul. Setelah sempat membenahi lagi area pintu balkonnya untuk kembali rapi seperti semula.

Jika Jeano beralih ke dapur, maka lain halnya dengan Mark. Si sulung itu mempergunakan waktunya sebelum bersiap bekerja, untuk mengerjakan kembali tugas-tugas kuliahnya di karpet bulu, beralaskan meja lipat. Seperti biasa, ada Haekal yang akan mengisi karpet dengan raganya yang dalam keadaan pulas, berselimut tebal dan sedikit mendengkur ringan. Bagi beberapa orang, tidur di kelilingi tumpukan bantal sana-sini dan juga selimut yang terkesan acak-acakan, biasanya justru yang memberi kesan dua kali lebih hangat juga nyaman.

"Double kill," Cetta yang sedang bermain sebuah game di ponsel, mengucapkan kalimat itu. Tak memperdulikan seragam sekolahnya yang bisa saja kusut, sebab posisinya saat ini adalah bertelungkup diatas sofa dengan dua kaki terangkat keatas.

Jeano, dan Cetta.

Disaat yang lain masih mengenakan piyama tidur bahkan belum terpisah dari mimpi, dua orang itu telah kompak dalam keadaan bersih, wangi, dan sudah lengkap dengan seragam masing-masing di tubuh.

Terlalu bernafsu untuk mandi di pagi-pagi buta yang begitu dingin.

"Bang Jean, rebus air panas untuk isi termosnya."

Jeano dibuat cengo. Padahal sebelah kakinya bahkan belum menapak sempurna di ambang pintu dapur, tapi Nana seolah sudah lebih dulu tahu akan keberadaannya hingga tanpa basa-basi langsung memberikan sebuah tugas. Revan juga sibuk membantunya, dan Jeano memaklumi itu. Tapi Jio? Jio ada disana, tak ada yang lebih dilakukannya selain menyembunyikan wajah diantara permukaan meja, lengkap dengan setelan piyamanya yang masih membalut tubuh.

Nana ini,

Pilih kasih sekali.

"Iki bocah opo gawe-ne?"

Suaranya mengalun, memegang kerah bagian belakang piyama milik Jio.

"Jio nggak boleh, bisa ketumpahan air panas. Bahaya."

Dengar, kan?

Jio saja sampai mesem-mesem, namun beruntung luput dari pandangan semua.

"Yowis."

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang