[Part 21 : Mohon Dimaklumi]

3.2K 300 15
                                        

Nana dan kopi.

Adalah dua hal yang identik.

Begitu menyebut kata kopi, serentak ingatan para putra Adyatama lainnya akan terpatri pada Gabby Nathaniel, si pecinta garis keras minuman berkafein tersebut.

Di pagi ini, seperti biasa, membuat kopi adalah rutinitas kesekian kalinya di dapur. Dan seperti biasa pula, segelas Americano panas menjadi pilihan favoritnya meskipun itu instan.

Bagi Nana sendiri, ia sangat menyukai kopi hitam karena rasanya begitu nikmat. Pekatnya rasa pahit namun selaras dengan sensasi candu untuk terus menikmati, lagi dan lagi. Aroma yang sangat khas dan autentik, juga telah sejak lama membuat Nana menjadikannya sebagai wewangian favorit yang tak bosan ia hirup, setiap kali membuka sebungkus kopi dan saat menikmatinya. Jangan lupa, Nana juga sangat menyukai bagaimana kesan sepat selalu tertinggal diatas permukaan lidah, manakala si cairan hitam telah mulus melewati tenggorokannya.

Kopi itu, ibarat sebuah pelengkap bagi hidup Nana.

Adiktif, tak bisa Nana lewatkan eksistensinya.

"Wes, wes, wes. Kok Abang nggak dibikinin, Na?"

Jeano berceletuk, menyeruput segelas kopi milik Nana, padahal si empunya belum sempat mencicipinya sedikitpun.

"Bang No kan tim susu cokelat."

Meski sempat meradang kopinya diseruput lebih dulu, Nana tetap mengambil tempat di area sebelah Jeano. Hari ini, Nana tahu jika Jeano memiliki agenda pertemuan dengan jajaran petinggi perusahaan tempatnya bekerja, tapi dibatasi oleh layar laptop. Namun ada yang aneh dengan penampilan yang melekat di tubuh Kakaknya yang satu itu.

Atasan, berupa setelan berdasi.

Masih normal.

Namun bawahannya, jangan ditanya.

Celana kolor sebatas paha.

Ketat, everybody.

Seketat protokol kesehatan.

Tidak, tidak. Tentu tidak seketat itu.

Nana menggelengkan kepalanya, lalu mendengus jengah.

"Abang, ikut."

"Abang, ikuuut..."

Nana melirik kearah tak jauh dari sofa yang ia dan Jeano duduki. Ada Cetta, yang menatap Mark dengan pandangan sukar diartikan. Seolah-olah Mark akan pergi jauh, padahal faktanya dia akan berada di rumah selama seharian penuh.

Mark menghela nafas, menepuk punggungnya sendiri diekori tungkai yang melangkah gontai kearah Cetta. Dengan senang hati, dia mempersilahkan remaja itu menaiki punggungnya. Dan lihat, kemeja biru muda dengan celana dasar hitam menjadi tanda besar kalau Mark sempat bersiap untuk pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja, sebelum Cetta mengacaukan total niatnya lewat rengekan terus-terusan terlontar.

Ya, begitulah.

Sudah bukan hal yang aneh jika beberapa adiknya akan tiba-tiba menjelma menjadi balita jika sedang tak enak badan; rewel, manja, dan menyebalkan yang membuat mereka tanpa sadar menjadikan satu lainnya sebagai 'pohon' untuk tempat menempel dan bergelayut. Termasuk Jeano si paling sangar diantara mereka, pun akan sama saja bersikap manja kepada Mark atau Nana jika sedang sakit.

"Masih panas badannya." gumam Mark, seingatnya Revan sudah memberi tahu padanya jika demam sang adik di gendongannya ini telah lama menurun drastis. Tapi sekarang, suhunya justru kembali naik.

"Kalo bangun dari duduk, serasa bongkar aib tuh."

Nana menyindir pelan, lalu terkekeh hanya karena celana pendek yang dikenakan oleh Jeano.

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang