"Let the colour of the darkness~"
"We will die, we will die~"
"That's kum*n beb––BABI!"
"WOY!"
Cetta menggeplak kuat-kuat bahu Jio yang mengendarai sepeda yang mereka tumpangi dengan kecepatan tinggi. Yang pada akhirnya membuat ban sepeda tersebut nyaris saja tergelincir pasca tersandung sebuah batu.
"Anjing lo, hampir jatuh kan kita."
"Sengaja, kan lo gini yang bakal jatuh."
"Aw, sakit, monyet!"
Jio mengaduh lepas karena tangan buntek itu menarik rambutnya sangat keras hingga membuatnya mendongak kesakitan. Di depan sana, sudah ada Jeano dan Nana yang tengah duduk bersisian menghadap sungai, sedangkan tak jauh dari posisi mereka juga ada dua buah sepeda yang mereka gunakan sebagai kendaraan menuju ke tempat ini.
"Rambut gue botak lo jambakin terus, Ta."
"Lo sendiri yang cari masalah."
Cetta memalingkan wajah kearah dua Kakaknya, Nana nampak begitu cerewet dan antusias ketika berceloteh berbagai hal kepada Jeano. Sedangkan laki-laki itu hanya anteng, sesekali bibir sampai matanya tersenyum tanpa disadari. Sungguh, Jeano ikut terbawa aura positif dari adik kesayangannya itu. Memang pada dasarnya cara Nana berceloteh sungguh lucu dan menggemaskan, ataupun lelucon yang banyak Nana selipkan itu benar-benar menjadi bumbu dalam bahan ceritanya.
Sore ini, dibawah naungan langit oranye dan diselimuti hawa yang mulai dingin, keempat putra Adyatama itu memilih kompak bersepeda hingga sampai ke jalan beraspal yang bersebelahan langsung dengan sungai. Tak hanya mereka, karena nyatanya banyak juga orang yang menjadikan area ini sebagai tempat rehat sejenak ditengah agenda berjalan-jalan sore. Dan kebanyakan, didominasi oleh lansia.
Jio yang sejak awal membonceng Cetta dibelakangnya, tentu saja tak mampu mengimbangi kecepatan Jeano dalam mengendarai sepeda. Betisnya menegang dan kakinya menjadi pegal-pegal, setelah sempat mencoba menyamai kecepatan Jeano mengayuh benda berkerangka itu sampai pada akhirnya kewalahan. Apalagi pinggangnya, yang sekarang terasa encok; ulah si pendek menyebalkan yang tak mau melepaskan pelukannya dari pinggang Jio.
Si bungsu kapok, tak lagi-lagi ikut bersepeda bersama jika ada Jeano diantara mereka.
Tenaga dan energinya benar-benar luar biasa.
"Pinggang gue, encok cuy." Jio benar-benar mengutarakan keluhannya pada Cetta yang duduk di jalan, mendongakkan kepala menatapnya yang masih duduk diatas jok sepeda.
"Awas nyalahin gue."
"Gue gosok bibir lo pake sikat closet."
Jio menggeleng lirih, mencebik.
Kakaknya yang satu itu memang tidak pernah mau sadar diri.
"Emang dasar remaja jompo."
"Baru gitu doang udah ngeluh encok, sad banget jadi couok."
"Ngenes banget tuh, yang jadi istrinya nanti."
"Bangsat." Habis sudah kesabaran Jio hingga sebuah umpatan kasar mengalun pelan diantara belah bibirnya.
"Gelut hayuk?" Dia menggulung lengan kausnya hingga sesiku, menatap Cetta dengan raut menantang nan ekspresi pongah. Abai perihal sepedanya sudah terkapar menyedihkan detik itu juga.
"Ntar, tunggu gue langganan gym."
Cetta tertawa terbahak-bahak tanpa peduli dengan wajah kusut Jio dan bagaimana dirinya berdecih sinis. Bagaimanapun ia menyangkal, nyatanya tenaga Jio memang berkali-kali lipat lebih kuat walaupun yang berperan sebagai Kakak diantara mereka adalah Cetta. Bahkan, itu bisa dengan mudah digambarkan melalui ukuran tangan keduanya yang berbeda signifikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABOUT DREAM - NCT
FanfictionSepasang kembar pun, pasti memiliki setidaknya satu perbedaaan diantara keduanya. Apalagi yang hanya sekedar terlahir dari rahim yang sama. Mereka, tujuh orang putra Adyatama yang tampan, dengan karakteristik masing-masing yang begitu beragam. Apa...
