[Part 17 : Baby's Wish?]

4.2K 228 3
                                        

Jeano dan Revan yang memperhatikan sedari tadi, merasa bingung dengan tingkah si yang bernama belakang Giovanno. Lelaki muda itu rebahan di karpet, berulang kali mereka menangkap bahasa tubuh yang terkesan janggal darinya. Menguap, merengut tanpa sebab yang bisa diketahui, tersenyum-senyum sendiri saat menatap layar ponsel, kemudian berkali-kali pula menghela nafas yang menampilkan kesan frustasi.

Apa akibat dari hormon kehamilan pada seorang ayah memang begini?

Ngadi-ngadi.

"Mark? Kenapa sih?"

Akhirnya Revan mewakili Jeano lewat pertanyaanya.

Jarinya sibuk menekan-nekan angka secara acak di tablet, berniat mengirimkan uang saku pada keempat adik terakhirnya seperti yang biasa dia lakukan rutin sekali dalam seminggu. Jangan lupa, uang saku Cetta yang akan dia potong dari jumlah seharusnya. Sebuah hukuman karena si adik yang luar biasa kurang ajar itu telah menukar isi sebotol sabun mahal di kamar mandinya, dengan sabun colek yang entah dia dapat darimana. Anak setan, Revan ingin sekali mengatakan itu jika saja tidak ingat Cetta itu terlahir dari rahim yang sama dengan dirinya.

Haekal memang menyebalkan,

Tapi seorang Arcetta jauh lebih berbakat dalam memancing emosinya.

Itupun, baru satu poin kenakalan yang dilakukan di Minggu ini. Belum termasuk dengan kenakalan yang dilakukan saat berkolaborasi dengan Haekal, yang membuat tiga orang sekaligus––Revan, Jeano, Jio––merasa ingin mengamuk kala itu juga.

"No."

Mark menatap Jeano. Adiknya itu tengah mengusak-usak cukup kasar rambut Cetta yang duduk di karpet bawahnya, meski Cetta sendiri hanya diam saja dengan telinga tersumbat earphone kabel. Mungkin, dendam Jeano tempo hari tengah berusaha ia balaskan lewat kegabutan yang tengah dia lakukan.

"Hm."

Si sulung menarik nafas, tidak yakin keinginannya yang satu ini akan dapat dituruti dengan mudah oleh Jeano. Tapi mau bagaimana lagi, Mark memang harus mencoba setidaknya sekali saja demi memenuhi hasrat randomnya, dan semoga saja tak ada yang benar-benar terbebani atas permintaannya kali ini. Atau, salahkan saja si jabang bayinya yang sekarang entah berada dimana bersama sang Ibu.

"Beliin tikus, ya?"

Detik itu, Revan menegang.

Matanya mengerjap tak percaya, namun reaksi Jeano sungguh tak terduga bagi Mark. Alih-alih mendapat respon yang sama seperti Revan, lelaki tampan itu justru tetap tenang dan mengangguk begitu saja dengan mudahnya. Justru, kini Revan yang ketar-ketir di tempat.

Ada yang tak beres disini.

"Warna apa? Cokelat?"

Tunggu.

Mark mengerjapkan matanya beberapa kali, cokelat katanya?

Bukankah tikus yang paling mudah ditemukan di sekitar pada umumnya hanya berbulu abu atau putih? Lagipula, setahu Mark sangat sulit untuk menemukan rumah penangkaran hewan yang menyediakan berekor-ekor tikus untuk dijual, namun si Jeano itu merespon seolah akan bisa dengan mudah mendapatkannya seumpama menjentikkan jari.

"Hm?" Jeano masih menunggu jawaban darinya.

"Eoh?" Mark jadi bingung sendiri.

"Hamster kan? Ya, nanti gue beliin."

Apa-apaan?!

"Hei, what do you talking 'bout?! I say, I wanna have a mouse. M-O-U-S-E."

"Do you get it?"

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang