[Part 14 : Trauma pada ART]

5.6K 375 10
                                        

"Yo! What's up ma 'lil bro?!"

Mark menepuk bahu Jeano cukup kuat, ditanggapi lelaki itu dengan lirikan malas. Cukup sabar saat masih disebut-sebut sebagai 'adik kecil' oleh sang Kakak. Apalagi saat lelaki berwajah manis itu duduk di ujung meja kerjanya, tak peduli jika itu berkesan sopan atau tidak. Abai akan si empunya, yang juga sedang mengerjakan deretan pekerjaan disana.

Si sulung menguap lebar, mengundang telapak tangan Jeano untuk mendarat menutupi rongga mulutnya.

"Kalo nguap ditutup, Mark. Jangan kaya bocah."

"Hm."

"BANG JEANOOO~"

Nana.

Uh, si peringkat paling random dari seluruh putra Adyatama itu baru saja menjeblak pintu keras-keras. Di gendongannya ada Bobby, dan diekori Revan yang masih setia dengan setelan di tubuhnya. Pria muda itu memiliki kebiasaan mandi malam sebelum tidur, jadi bukan hal yang aneh kalau di waktu malam seperti ini dia masih belum melepas setelan kerja. 

"Bobby gue," Jeano menarik nafas, kasihan pada kucingnya yang ikut terlonjak-lonjak saat Nana melempar tubuhnya ke kasur, tanpa meletakkan Bobby di lantai lebih dulu.

Selang tak sampai 2 menit, Cetta dan Jio yang menggunakan piyama datang mengunjungi kamar Jeano. Keduanya sesekali cekikikan dan bergantian melempar guyon, ataupun sesekali mendorong pelan bahu satu sama lain. Jika seperti ini keduanya terlihat seperti anak kembar non identik. Nyambung, dan benar-benar satu frekuensi.

Sudah begitu saling melengkapi pula.

Jika yang satu kalem lempeng turunan Nana.

Maka satunya lagi seolah kelebihan energi. 

Copypaste Haekal sekali.

"Rasanya kalo kita nyewa ART lagi, pada setuju nggak sih?"

Suara Mark menarik seluruh atensi disana. Dia memberi satu gigitan pada sepotong semangka yang tadi dia bawa beralaskan piring. Jeano ikut mengambil satu potong lainnya, tak ada alasan lain karena dia juga menyukai buah yang penuh akan biji itu.

"Kenapa tiba-tiba, Bang?" Jio bertanya, dia merentangkan telapak tangannya mengusap wajah Cetta dengan iseng. Yang lain dengan ekspresi tenang, bersiap mendengarkan alasan dibalik pertanyaan mendadak itu. Bagaimanapun Mark adalah sulung, yang suaranya memiliki hak paling besar untuk didengarkan oleh semua adik-adiknya.

"Abang perhatiin Nana akhir-akhir ini udah mulai disibukkin sama tugas-tugas kuliah. Pergi sana-sini sampe kadang-kadang kelihatannya capeeek... banget. Sama aja kaya Revan, yang semua tahu kalau dia yang punya waktu luang paling sedikit, di rumah."

Pria yang menginjak usia 28 di tahun ini, berkata apa adanya. Beberapa hari terakhir, Nana memang sering terlihat begitu sibuk dengan bolak-balik keluar masuk rumah dalam satu hari. Mengesampingkan jauh-jauh rasa magernya hanya untuk menemui teman-teman perkuliahan demi membahas banyak hal bersama mereka. Alasannya sih, hanya satu.

Skripsi.

Baru menginjak semester 4, tapi di fakultas kedokteran dimana dirinya berkuliah, seangkatan Nana sudah disibukkan dengan pengajuan proposal skripsi. Harus tanya sana-sini, dan cari dospem yang cocok. Agak berbeda dan lucu, karena sejujurnya, waktu pengajuan KTI di fakultas Nana berada dalam waktu yang sama dengan Haekal si mahasiswa tingkat akhir.

Padahal keduanya berada dalam satu universitas.

"Proposal skripsi, Bang." sahut Nana, mendusalkan wajahnya pada si kucing Bobby. Lalu mengecupnya berulang kali. Jangan ditanya bagaimana rautnya Jeano saat ini, begitu sang 'majikan' terlihat menyukai perlakuan Nana padanya.

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang