Haekal hanya diam, memperhatikan.
Gugup mendominasi dirinya saat ini. Berhadapan langsung dengan pria yang memiliki penampilan yang cukup sangar bagi Haekal. Tak hanya tubuhnya yang berotot dan terbalut dalam seragam loreng, namun struktur wajah yang dibarengi sepasang alis menukik itu sangatlah membawa kesan mengintimidasi. Bahkan untuk orang asing sepertinya.
Sungguh, Haekal sangat ingin merutuk, namun sadar bahwa pria itu adalah yang akan menjadi calon mertuanya di kemudian hari.
Sialnya lagi, tak lama dari kedatangannya, Livya justru diminta untuk membeli sesuatu di supermarket oleh sang Ayah. Tapi Haekal seratus persen yakin kalau hal itu adalah sebuah bentuk pengalihan, agar pria itu bisa leluasa berbicara berdua bersama pacar putrinya.
"Udah berapa lama kamu sama Livya?"
Haekal terkesiap. Matanya meliar, berpikir dan mengira-ngira untuk jawaban yang kemudian diberikan. Sebenarnya pria itu tidak se-sangar itu kok, hanya saja sebuah titel 'calon mertua' adalah alasan utama mengapa Haekal merasa gugup setengah mati pada pria bernama Hartono di depannya.
"Saya sama Livya udah deket sama delapan bulan, terus resmi pacaran. Dapet tiga bulan pacaran, kita sempet lost contact dan nggak ada tukar kabar sama sekali karena beneran sibuk sekitar dua bulan. Terus putus, tapi nyambung lagi sampe sekarang. Mungkin ada sekitar lima bulan."
Hartono mendengus, sebal.
Pertanyaan yang harusnya bisa dijawab dengan singkat, namun justru dibuat memusingkan oleh pemuda itu. Tinggal katakan 8 bulan PDKT dan kurang dari 10 bulan untuk berpacaran, apa susahnya? Baru pertama kali saja, Hartono bisa langsung menangkap sedikit clue jika pemuda bernama Haekal itu berkemungkinan besar adalah orang yang cukup suka berceloteh ria.
Sabar kali anakku dengan dia.
"Kamu sama Livya beda berapa tahun?"
"Anu Om... beda berapa ya?" Haekal semakin memelankan volume suaranya di akhir kalimat. Kakinya digetarkan tanpa sengaja, siapapun tahu bahwa itu adalah sebuah isyarat saat seseorang sedang berpikir kritis, merasa gelisah atau semacamnya.
"Oh iya, Livya sama saya beda setahun, Livya lebih muda."
Tidak ada reaksi lebih selain kepala yang mengangguk pelan.
"Skripsian, eoh?"
"Iya, Om. Saya ini cuma mahasiswa kupu-kupu yang baru aja sedikit ngerasain perjuangan untuk bikin skripsi."
"Kalo kata Dilan mah, berat, Om."
Lebay kali ah.
"Halah, baru segitu, Nak."
"Kamu tau, di zaman Om kuliah yang namanya komputer apalagi laptop masih jarang, atau belum ada-lah kali. Jadi harus pake mesin ketik, yang bikin waktu dan tenaga terkuras."
"Rasanya ku mau modar kalau ingat-ingat zaman dulu."
Hartono bercerita, rautnya begitu serius dan matanya memandang jauh ke depan untuk bernostalgia terhadap zaman di masa mudanya.
"Masa sih Om? Buktinya sekarang Om masih sehat."
Pria itu mendelik sinis. "Hei, kau tau apa itu hiperbola nggak sih?"
Haekal cengengesan, ada perasaan menggelitik ketika Hartono menyambut ucapannya dengan nada ketus. Haekal paham kalau Hartono adalah orang yang tumbuh dalam lingkungan adat yang cukup mumpuni, jika memperhatikan bagaimana logatnya begitu khas mengiringi setiap kali kalimat terlontar. Menggambarkan logat salah satu suku bangsa di tanah air.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABOUT DREAM - NCT
FanfictionSepasang kembar pun, pasti memiliki setidaknya satu perbedaaan diantara keduanya. Apalagi yang hanya sekedar terlahir dari rahim yang sama. Mereka, tujuh orang putra Adyatama yang tampan, dengan karakteristik masing-masing yang begitu beragam. Apa...
