[Part 18 : Matahari Adyatama]

5.2K 392 5
                                        

Mark ngambek.

Itu yang dapat mereka tangkap dari gesturnya di pagi ini.

Sedari tadi wajahnya merengut, dengan sorot mata dan lirikan yang luar biasa sinisnya.

Nana menatap kasihan, Mark hanya meminta seekor mouse a.k.a. tikus, namun yang dibelikan oleh Jeano adalah pernak-pernik berbau tikus.

Boneka tikus Mickey.

Bando telinga tikus.

Penutup mata tikus.

Dan kostum tikus.

Tanpa seekor pun tikus yang asli.

Revan dan Haekal sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak, namun sepertinya suasana tak mendukung untuk bisa bebas melakukannya. Acara ngambek si sulung berimbas pada seluruh suasana disana, bahkan yang biasanya akan menggunakan suara celotehan untuk mengiringi kegiatan yang dilakukan pun kini hanya bisa terdiam.

Duh.

Tapi saat Nana mengenakan salah satu bando telinga tikus, itu menjadi awal mula pemecah lingkup kaku diantara mereka. Disusul Cetta yang menimang-nimang dua buah boneka Mickey, dan Haekal  yang mencoba mengenakan kostum tikus tersebut. Revan, Jeano, Jio jelas takkan mau bergabung dengan kegiatan konyol itu, termasuk Mark yang hanya memperhatikan dengan raut sulit ditebak.

"Halo semuanya!"

Haekal melambai dengan suara yang dibuat-buat setelah berhasil mengenakan seutuhnya kostum tikus tanpa memakai bagian topeng untuk kepalanya.

"Ini kok ekornya begini anjir?"

Dia memutar tubuhnya untuk bisa memegang bagian ekor dari kostum itu, hanya secuil. Padahal secara asli tikus adalah hewan dengan ekor panjang tanpa bulu yang sangat menggelikan. Jeano yang sudah tersenyum-senyum dan Revan yang tergelak pelan.

"Itu anatomi."

"Proses pemisahan ekor dari tubuh yang biasanya terjadi di cicak."

Celetuk Jio memasang raut datar, diangguki Haekal tanpa merasa aneh dengan satu kata asing yang disebutkan si bungsu. Setelah dia sadar, barulah matanya sedikit membola diekori gerakan hidung kembang-kempis yang nampak sedikit mengocok perut. Ekspresinya sangat memalukan, terutama untuk Jeano yang suka menjaga image dan komuk-nya.

"Eh, bukan anatomi woy!"

"Itu namanya autonomi, Ji. Jangan buat Abang jadi lemot."

Cetta dan Nana hanya mendengus malas. Jeano dan Revan sudah tertawa terbahak dengan suara dan gaya tawa masing-masing. Apalagi Mark, yang sampai memegangi perutnya takut sakit perut akibat tawa berlebihan.

"Nggak ada yang bener anjim."

Nana mencibir lewat gumaman.

Tak jauh dari tempatnya Cetta menggeleng miris, wajahnya dibuat sedramatis mungkin.

"Kakak adek, sama guobloknya."

Anatomi itu sebutan untuk cabang ilmu yang mempelajari susunan tubuh mahluk hidup.

Sedangkan Autonomi sendiri adalah salah satu istilah dalam ilmu Psikologi.

Dan yang Jio maksud, adalah fenomena Autotomi alias proses pemisahan bagian ekor dari tubuh seekor cicak, dalam bentuk perlindungan dirinya. Mereka menggunakan sebutan itu untuk meledek kostum tikus yang ekornya hanya sejengkal, layaknya seekor cicak berekor panjang yang baru saja mengalami fase Autotomi.

"Bang Mark!"

Haekal mendekat dengan berlenggak-lenggok, membawa sebuah bando untuk dipakaikan pada kepala Mark. Setelah terpasang sempurna, Haekal berdecak kagum sambil menolakkan pinganggnya menatap penampilan Mark yang lucu.

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang