[Part 32 : Salah Paham]

6.6K 422 47
                                        

Nana menebarkan senyum manisnya pada beberapa orang yang dia lewati. Hanya untuk mengantarkan makan siang Jeano, dia mau tak mau harus menginjakkan kaki hingga ke lantai 23 gedung kantor pribadi pria itu, bersama Arcetta di sisinya.

Sudah bukan rahasia lagi jika Jeano adalah yang paling jarang membawa bekal makan siang dan memilih makan diluar. Sebab itulah Nana langsung sigap mengantar ketika sang Kakak tiba-tiba meminta dibawakan makan siang.

Fyi, Jeano pasti akan selalu mengisi hari-hari cutinya di perusahaan pertama dengan mendatangi kantor kedua, alias perusahaan miliknya sendiri. Terus seperti itu, hingga pria itu tidak benar-benar memiliki waktu luang selama seharian penuh.

Oh, jangan lupa jika dia juga sedang berusaha mengambil gelar Magister.

Ya, sesibuk itu seorang Jeano Athala. 

"Ini ruangannya kan?" tanya Cetta memastikan, hendak membuka pintu ruangan bertuliskan 'Tn. Adyatama' sebelum suara mendayu seorang perempuan yang terdengar dari dalam membuatnya urung.

"Pelan-pelan ya, Pak."

"Nanti robek."

Keduanya mematung di tempat.

"Mau pelan-pelan sekalipun, ini bakal tetep robek."

"Cuma minimalisir aja, oke?"

Nana menggigit gigi gerahamnya, melirik Cetta yang juga bereaksi sama kikuk dengan dirinya. Anak itu memilih meliarkan pandangan, asalkan tidak menatap manik mata Nana, karena situasi ini benar-benar membuatnya canggung diikuti rasa malu.

Suara berat pria itu... benar-benar suara Jeano yang mereka kenal dengan sangat baik.

"Sssh... akh..."

"Pelan dong, Pak."

Ck.

Nana tidak tahu kalau Jeano memang jauh lebih brengsek dari apa yang pernah dia duga sebelumnya.

Tidak. Bukan. Bagaimana mengatakannya?Maksud Nana adalah––bukankah melakukan hal seperti itu di kantor adalah hal yang sangat-amat tidak sopan sekaligus bisa dibilang tidak tahu malu?

Setidaknya, lakukan itu diluar sana kalaupun hasrat pria itu sudah diujung tanduk. 

Nana mengepalkan tangan, pemuda itu tak tahan lagi. Dia langsung menjeblak pintu keras-keras hingga membuat semua yang ada di sana terkejut bukan main, terlebih lagi Cetta. Remaja itu lantas mengusap dada saking terkejutnya.

"Punya malu dikit lah, Bang!"

Nana berucap dengan nafas memburu dan emosi yang menggebu-gebu. Tatapan matanya nyalang dan urat di lehernya timbul sedemikian rupa, mengisyaratkan bahwa Nana memang sedang dikuasai amarah di level yang cukup tinggi.

Shit!

Apa-apaan ini?!

Pemandangan yang bisa Nana lihat untuk pertama kali, adalah seorang wanita yang duduk di sofa dengan Jeano yang berdiri setengah membungkuk tepat di depan wanita itu. Pakaian mereka masih menyatu di tubuh masing-masing, masih rapi tanpa kusut; yang berupa setelan. Tidak ada keringat, dan tidak satupun kancing kemeja mereka ada yang terbuka.

"Kenapa masuk ruangan nggak pake adab, Na?"

Nana mengusap wajahnya kasar.

"Abang baru aja mau ngapain, huh?"

Tanpa memperdulikan pertanyaan memojokkan dari Jeano perihal tata krama saat memasuki ruangan yang dia maksud. Cetta di belakang hanya terbengong-bengong. Masih loading untuk bisa mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang