"Hai, Kak Cetta."
Seorang cewek dan dua temannya yang baru saja memasuki kantin kelas 10, menyapa Cetta dengan ramah. Cetta balas menunduk singkat dan tersenyum hangat, bagaimanapun mereka tidak memiliki maksud buruk selain ingin sekedar menyapa Kakak kelas. Jika boleh jujur, Cetta cukup trauma dengan sebuah sapaan para cewek saat dirinya tengah duduk santai di kantin seperti kali ini. Sebab pada akhirnya, kumpulan cewek itu pasti akan berakhir bersikap gatal dengan cara mengelus pipinya, berdalih gemas dan gemas.
"Ji, lo megang dokumen proposal yang baru kemarin dicetak nggak sih? Soalnya Ketos ngomongnya lo yang megang."
Ternyata mereka datang untuk menanyakan sesuatu pada Jio, yang pasti berhubungan dengan eskul OSIS dan segala tetek bengek yang bisa membuat Cetta jadi jengah sendiri.
"Nggak. Ada di Mbak Cellyn kayanya."
"Oh, yaudah. Permisi ya."
"Hm."
Sepeninggal mereka bertiga, Cetta menghembuskan nafasnya lega. Kembali menatap Jio yang sejak tadi tidak terlihat merasa bosan memandangi deretan kalimat dalam buku yang sedang dibacanya.
"Ini novel. Bukan buku rumus MTK yang harus lo hapal sampe sinting."
Jio peka jika Cetta merasa muak sendiri terhadap aktivitas yang dilakukannya. Tapi lebih baik, dia bersikap tak peduli dengan itu.
"Ck. Nggak di rumah, nggak di sekolah. Halu mulu gawe lo, Ji."
Ingatan Cetta berputar pada kebiasaan kecil Jio di rumah. Anak itu suka sekali dia dapati duduk di kursi belajarnya hanya untuk terbengong-bengong sendirian, entah memikirkan apa. Dan berhenti ketika sadar akan keberadaannya. Satu lagi kebiasaan aneh yang sejak dulu Cetta sadari dari bungsu Adyatama itu, yakni berbicara ataupun mengomeli benda-benda mati yang jelas-jelas tak akan bisa menjawab perkatannya. Jika saja bukan keluarga, maka Jio dipastikan akan dikira memiliki kelainan mental hingga membuatnya seperti orang tak waras, atau bahkan mengira dia punya peliharaan tak kasat mata.
"Banyak bagian skidipapap, kan gue nggak bosen bacanya."
Ah, sial.
Ganti saja namanya dengan Han Mesum Gionathan.
"Akting polos, aslinya otak plus-plus."
"Bukan maen adek gue ini."
Karena sungguhan fakta, lantas Jio tertawa cukup keras hanya diantara mereka berdua. Tawa yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Cetta, membuatnya mendengus tak kalah keras. Nana atau Jeano yang jarang tertawa berlebihan, pasti akan ngakak sampai sakit perut begitu mengetahui bahwa keluguan Jio yang mereka kenal, hanyalah sebatas topeng untuk menutupi kehaluan mesum dan otak yadong nya.
Cetta jadi teringat dengan cerita Mark, tentang Jeano muda. Jika dipikirkan lebih dalam olehnya, maka karakter Jeano yang Mark pernah ceritakan, sedikit mirip dengan kepribadian Jio saat di sekolah.
Kubu pertama karakternya, diisi dengan sisi softie dan terkesan penyayang. Sedangkan disisi lainnya, diisi dengan ledakan hormon kelelakian. Jika Jeano suka bersikap genit dengan cewek di sekolahnya, maka Jio adalah versi kalem yang hanya bisa berhalu untuk dapat melakukan hal serupa. Karena, dia tak seberani dan sepercaya diri itu untuk melakukan hal yang bisa Jeano lakukan.
Begitu Cetta berpikir bahwa jam istirahat masih tersisa kurang lebih sekitar 30 menit lagi, dirinya memutuskan untuk kembali membeli sebotol yogurt dari mesin vending yang sama.
"Ji."
Cetta memanggil, membuka segel tutup botol sebelum meminumnya hingga langsung tersisa setengah.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABOUT DREAM - NCT
FanfictionSepasang kembar pun, pasti memiliki setidaknya satu perbedaaan diantara keduanya. Apalagi yang hanya sekedar terlahir dari rahim yang sama. Mereka, tujuh orang putra Adyatama yang tampan, dengan karakteristik masing-masing yang begitu beragam. Apa...
