"Haekal, keluar dulu sebentar. Kamu belum makan dari kemaren, nanti masuk angin."
"Haekal, dengerin Abang. Buka dulu pintunya."
Mark mengetuk pintu kamar Haekal dengan segenap kesabaran yang dia miliki. Dia baru saja pulang kerja, dan menyadari jika sejak kemarin, putra tengah Adyatama itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya untuk sekedar mengisi perut. Jangan tanya seberapa khawatirnya Mark sekarang, sampai-sampai dia juga membawa nampan berisi menu makan malam yang lauknya berupa daging; makanan kesukaan Haekal.
Haekal benar-benar mengunci diri.
Secara tidak langsung, menunjukkan bahwa anak itu tengah berada diantara fase mental down. Mark sendiri juga tidak akan berani menyepelekan dampak buruk yang diterima oleh seseorang yang sedang patah hati.
"Haekal?"
Dia mengetuk pintu untuk yang ke sekian kalinya.
Jeano yang baru datang dengan raut letih kentara, langsung melipir dan membuat Mark membiarkan satu adiknya yang ini mengambil kendali. Si pria sibuk yang baru saja selesai lembur di dua kantor berbeda dari petang hingga ke petang lagi, meskipun fokusnya sempat beberapa kali terpecah tepat setelah Revan menelpon dan mengadu padanya tentang kekeras kepalaan Haekal.
"Haekal?"
"Lo tau, Kakak sulung lo dari tadi berdiri disini, nungguin lo keluar. Jangan bikin khawatir."
"Haekal, denger nggak?"
Jeano mengetuk pintu, hanya dua kali.
Mengusap wajahnya dengan sebelah tangan, membuat Mark memalingkan wajah kearah lain karena merasa iba dengan raut letih pria muda itu. Abai, bahwa dirinya pun dalam kondisi serupa, karena si dokter bedah itu juga baru saja menyelesaikan operasi seorang pasien yang memakan waktu lebih dari lima jam.
"Gimana Haekal berani keluar kalo lo galakin gitu, No."
Si sulung menghela nafas, frustasi. Susah payah membujuk Haekal dengan tutur kata lembut dengan harapan agar tidak ada yang merasa tersudutkan, namun cara Jeano dalam membujuk––yang lebih terdengar seperti paksaan itu––justru mengacaukan semuanya.
"Justru lo harus nyikapin hal semacam ini pake cara yang tegas, Bang."
Lawan bicaranya tidak mengatakan apapun.
"Nggak buka pintunya dalam dua menit,"
Jeano menjeda ucapannya, rautnya beralih menjadi angkuh.
"Abang dobrak pintunya, Dava."
Semua di rumah tahu, bahwa Jeano tidak pernah bercanda saat mengucapkan sepotong kalimat ancaman pada seseorang. Kalau Haekal benar-benar tidak membuka pintu kamarnya dalam dua menit, Jeano dipastikan akan benar-benar merusak pintu bercat putih itu dengan mendobraknya.
Dan Haekal tidak mau itu terjadi. Jadi dia memilih membuka pintu kamarnya perlahan-lahan dan memperlihatkan keadaan fisiknya––yang tak bisa dibilang baik itu––kepada kedua Kakaknya.
Benar-benar buruk.
Kedua orang itu bisa dengan jelas mendapati wajahnya yang luar biasa pucat, seolah-olah tidak ada gairah hidup disana. Mata yang sayu dengan kehitaman yang semakin menggelap daripada sebelumnya, juga menjadi pertanda jika Haekal terlalu banyak melewatkan jam tidurnya. Dan lagi, matanya juga tampak sedikit kemerahan dan terkesan... sembab?
Seperti...
Dia baru saja menangis.
Dan dalam durasi yang cukup lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABOUT DREAM - NCT
FanfictionSepasang kembar pun, pasti memiliki setidaknya satu perbedaaan diantara keduanya. Apalagi yang hanya sekedar terlahir dari rahim yang sama. Mereka, tujuh orang putra Adyatama yang tampan, dengan karakteristik masing-masing yang begitu beragam. Apa...
