[Part 16 : Sakitnya Masih Terasa]

6.1K 400 6
                                        

"Bang Mark!"

Teriak Haekal, wajahnya berseri-seri setelah berhasil mendapatkan nilai terbesar untuk ulangan Biologi yang baru saja dilaksanakan di kelasnya. Sang Kakak adalah seorang dokter, membuat Haekal merasa bahwa keberhasilan dalam mata pelajaran kali ini wajib diberitahukan pada si sulung lebih dulu. Haekal adalah Haekal, bukan Cetta yang bisa dengan mudah membawa pulang nilai yang nyaris menyentuh angka sempurna di banyak mapel yang tergolong sulit dipahami.

Ya, tepatnya saat dulu Haekal seusia dengan sang adik yang tengah menginjak bangku SMP.

"Oh, kerja?" gumamnya baru teringat.

Mark bekerja, Revan mengikuti kelas sore, sedangkan Nana telah mengkonfirmasi bahwa dirinya pulang terlambat akan kursus tari hari ini. Dua adik terakhirnya entah dimana, sedangkan Jeano? Haekal rasa satu Kakaknya itu tidak ada kelas di hari ini. Entah sedang diluar, atau tetap berada di kamarnya Haekal tak tahu pasti.

Dia menghela nafas, pasrah. Yang bisa dilakukannya adalah pergi menuju kamar di lantai atas demi melepas penat dan mandi.

Kakinya menapak pada satu persatu anak tangga, terhitung tangga di rumah Adyatama berjumlah genap 34 pijakan. Rumahnya 'kan besar, jadi wajar saja jika terkesan banyak kalau dibandingkan dengan kebanyakan rumah yang hanya memiliki tak lebih dari 20 buah jumlah pijakan anak tangga. Di empat pijakan anak tangga terakhir, ponselnya bergetar yang mau tak mau mengharuskannya mengangkat panggilan dengan nama si sulung yang tertera disana.

Haekal yang malang.

Tidak tahu bahwa sebuah marabahaya tengah mengarah padanya.

Mengancam, dan berniat menghantam raganya.

Tepat setelah sepatunya yang tidak dilengkapi anti slip itu, menginjak genangan air yang berada di tepat area depan tangga.

"Hae."

"Bang Ma––"

"AKH!"

Haekal terkejut, benar-benar luar biasa terkejut.

Detik itu, tubuhnya terjungkal akibat kaki yang tergelincir. Kejadiannya terlalu cepat, jauh lebih cepat dari refleks spontan yang seharusnya bisa dia lakukan. Tidak sempat meraih pegangan tangga, dan tak sempat pula kakinya menopang beban tubuhnya sendiri. Bahkan, sepasang tangan yang seharusnya bergerak kearah yang berlawanan dengan pergerakan tubuh yang berfungsi vital sebagai penyeimbang, justru kini sama tak berguna.

Di menit yang sama, tubuhnya benar-benar terguling melewati 34 pijakan anak tangga.

Catat, tiga puluh empat buah anak tangga.

Sampai di lantai dasar, Haekal diam terpaku.

Matanya berkedip lamban.

Ada apa sebenarnya?

Semuanya berputar selayaknya kaset rusak dalam kepalanya. Perlahan dicerna, perlahan membuatnya mengerti kembali apa yang baru saja terjadi di menit-menit terakhir. Peristiwa itu seperti seulas fatamorgana baginya, terlampau cepat dan sangat sulit untuk diduga-duga. Pun dengan apa yang seharusnya dirasakan saraf di tubuhnya, Haekal masih tetap bergeming.

Terasa remuk luar biasa, namun tersingkirkan dengan beragam pemikiran rumit dan pertanyaan hampa dalam kepala.

Haekal, blank.

Dia terlampau syok untuk menerima kejadian mengerikan ini menimpa raganya.

Dengan segenap kekuatan, Haekal memaksa kedua sikunya untuk bisa menyangga tubuh bagian atas.

"Astaga, Haekal!"

Jeano tergesa menuruni tangga, ponsel di tangan telah sigap berfungsi untuk menelpon jasa ambulans atas kecelakaan di depan matanya. Ingin menangis terkejut, tapi logikanya melarang keras-keras tindakan konyol itu. Dia harus tenang, menyingkirkan jauh-jauh rasa panik yang nantinya akan membuat apa yang dia lakukan jadi terkesan gegabah nan sembrono. Jeano berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Haekal dan langsung memperhatikan bagian tubuh mana saja yang mengalami cedera.

ABOUT DREAM - NCT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang