29. Last Minute Romance

83 3 0
                                        

Taksinya berhenti di daerah Jalan Anggrek. Juno buru-buru turun dan segera berlari, tak peduli jalan mana yang ia ambil. Hanya berharap takdir membawanya menemukan Ivy yang sudah tidak bersuara meski teleponnya masih tersambung. Juno bersumpah kejadian sepuluh menit lalu benar-benar mengacaukan konsentrasinya, tentang bagaimana suara panik gadis itu yang membuat jantungnya tiba-tiba tak karuan, tangisan pilu gadis itu yang menyesakkan dadanya. Tak bisa membayangkan jika ia tak memiliki kesempatan bertemu Ivy karena kelalaiannya. Juno pastikan ia akan menyalahkan dirinya seumur hidup. Ia merasa bahwa Ivy tanggung jawabnya namun sekarang ia mendapati gadis itu dalam bahaya dan...

Juno tak ada di sampingnya.

Mata Juno melesat pada telepon umum yang masih tergantung. Petunjuk baru, Ivy tak jauh dari sini. Juno melanjutkan langkah terburu-buru, perasaannya campur aduk. Takut, khawatir, sedih dan panik. Ia takut jika Ivy ditemukan dalam keadaan terluka parah, terbentur benda keras, tertusuk pisau, atau bahkan ditemukan tidak bernyawa. Okey, Juno tahu itu berlebihan tapi Juno persis mengalami bagaimana keterlambatan itu bisa membuat seseorang ditemukan tergeletak tidak bernyawa—Rico. Juno tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Hal yang Juno tangkap, tangan gadis itu bahkan belum pulih sempurna. Memang akhir-akhir ini Juno menghindar dari Ivy, tapi percayalah Juno tidak pernah absen memperhatikan gadis itu setidaknya sehari Juno bisa memeriksa Ivy lima kali secara diam-diam. Pura-pura melewati kelasnya agar bisa melihat gadis itu, mampir ke kantin sejenak untuk melihat dimana tempat gadis itu duduk atau bahkan menguntit saat pulang sekolah hingga ke halte bus tanpa sepengetahuan gadis itu. Dan itu baru ia lakukan tadi sore, menguntit Ivy dan menemukan tangannya masih diperban dengan bekas antiseptik. Terus bagaimana jika gadis itu terluka lebih parah?

Samar-samar Juno mendengar suara ringisan yang sangat pilu, tanpa pikir panjang Juno mengambil langkah cepat menuju sumber suara yaitu gang sempit di ujung. Bola matanya melotot sempurna, hatinya seakan mencelos saat melihat pemandangan menyiksa diujung gang itu. Seorang gadis yang sangat familiar duduk pasrah dengan posisi tersudutkan di dinding dengan lelaki paruh baya yang agak sempoyongan menyentuhnya. Dan Juno yakin seratus persen, itu Ivy. Tangannya terkepal, matanya terpejam namun berair deras, dan suaranya terbata-bata menangis pilu. Penampakkan Ivy yang terduduk pasrah itu membuat dadanya semakin terasa sesak. Seolah-olah ada benda yang menghantam ulu hatinya, cukup keras.

"BAJINGAN!!!"

BUGH!!!!

Satu pukulan berhasil mendarat di wajah bulat milik tersangka. Sontak pria itu terhuyung kebelakang, terlihat cairan kental berwarna merah mengalir segar di sudut bibirnya. Pria tersebut mengaduh marah, mencoba bangkit dengan badan sempoyongan dan melemparkan pukulan yang berakhir meleset tanpa Juno menghindar sedikitpun. Lelaki tersebut kembali terjatuh. Sejenak Juno melirik sekilas ke arah Ivy yang tengah memeluk lutut, menunduk ketakutan dengan tangisan yang sangat mengiris hatinya.

Tiba-tiba rasa sakit menjalar di hatinya. Ada yang sesak di dalam dadanya yang entah kenapa seketika berubah menjadi perasaan marah, dendam, dan kesal. Juno kembali menoleh pada pria itu kemudian maju dan mulai memukulnya bertubi-tubi.

"BRENGSEK!!" teriak Juno di sela-sela menghajar pria tersebut.

Pertarungan resmi berakhir saat sebuah kayu mendarat di punggung pria itu. Oh, siapa yang tau bahwa Juno bisa sekejam ini saat melindungi gadisnya? Tunggu, apa? Tidak tidak. Tentu saja tidak, Ivy bukan gadisnya.

Setelah pria itu tersungkur di aspal dan memastikkan tidak sadar Juno langsung menghampiri Ivy yang masih menekuk lutut sambil menenggelamkan kepala dan terisak. Semakin seksama Juno memperhatikan kondisi Ivy semakin dadanya terasa sesak. Rambutnya yang berantakkan, seragam yang kotor berdebu dan kancingnya terlepas dua. Ada bekas goresan di sepanjang lengannya karena tergesek dinding gang yang berbatu, Juno yakin pria tadi pasti menyudutkan Ivy hingga membentur tembok sementara Ivy dengan kekuatan sebatas gadis sma 17 tahun harus menepis itu yang tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan pria paruh baya ini.

Second RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang