"Ada banyak sudut pandang yang bisa dipakai untuk menilai seseorang. Yang buruk akan terlihat buruk, yang baik akan terlihat baik."
————————
"Samudra mana ya?"
Dia berdiri di depan rumahnya sembari menoleh ke kiri menunggu kedatangan Samudra. Aluna sudah berkali-kali mengecek jam tangannya.
"Tapi emang masih 09.30 sih, ah biarain lah udah gasabar banget ini."
Hari ini Aluna hanya memakai kaos dengan celana jeans. Dia tidak tahu Samudra mengajaknya kemana, yang dia ingat hanya disuruh menunggu jam sepuluh pagi. Tetapi karena momen ini sangatlah langka dan baru pertama kali, Aluna sangat kegirangan sampai-sampai masih kurang tiga puluh menit dia sudah siap bediri di depan rumahnya.
Setelah menunggu beberapa saat ya sekitar tiga puluh menit, Aluna memandangi jarum jamnya yang tinggal berputar selama sepuluh detik akan menunjukkan pukul sepuluh tepat. Dia mulai menghitung mundur lalu setelahnya dia akan menoleh ke kiri.
"Oke lima detik lagii." Gumannya.
"Lima."
"Empat."
"Tiga.."
"Dua..."
"Sat--"
Tin... tin..
Aluna menolah ke asal suara. Bisa pas gini ya? ujarnya dalam hati. Dengan lekat dia memandangi Samudra mulai dari wajah yang hanya terlihat matanya karena tertutup helm, hingga ujung kakinya.
Ini beneran gue jalan sama Samudra? batinnya. Gatau lagi mau nangis pokoknya ma!!!
"Kenapa?" Pertanyaan Samudra berhasil membuyarkan lamunan Aluna.
"Eng-gak, gakpapa."
"Yaudah, naik."
"I-iya."
Aluna yang sudah mau naik dicegat oleh Samudra. "Tunggu."
Aluna menoleh, "Ada apa."
"Sini." Samudra menyuruh Aluna untuk berdiri di depannya. Aluna yang kebingungan itu menurut saja.
Samudra meraih sesuatu di samping setirnya kemudian, "Pake helm dulu." Ujarnya sambil memakaikan helm untuk Aluna. Tidak lupa juga dia mengaitkan pengait di bawah dagu supaya tidak lepas.
"Udah, buruan naik."
Bukannya naik Aluna malah semakin terbengong di depan Samudra. Ini Samudra lohh, Samudra!! Aluna lo sadar gak sih? yang di depan lo sekarang ini Samudra! Dia pasangin helm buat lo! Dibalik diamnya Aluna, sebenarnya sekarang jantungnya sedang lompat-lompat kegirangan di dalam sana.
Tidak disangka, Samudra yang selama ini selalu mengabaikan dirinya sekarang berbeda seratus depalan puluh derajat. Akhir-akhir inu respon Samudra kepadanya samgat baik, bahkan Aluna masih tidak menyangka Samudra akan seperti ini padanya. Aluna sangat bahagia, apakah pendirian Samudra yang seperti tembok Cina itu akan runtuh oleh Aluna? Dia berharap semoga mulai hari ini sampai nanti Samudra akan terus seperti ini.
"Al?"
"Eh i-ya, makasih." Aluna tersadar langsung naik ke atas motor.
Dibalik helm itu Samudra sedari tadi tersenyum melihat tingkah Aluna, hanya saja cewek itu tidak menyadari. Setelah itu Samudra langsung melajukan motornya menjauhi komplek perumahan Aluna.
Aluna tidak tahu Samudra akan mengajaknya kemana, yang dia perhatikan mereka berdua semakin menjauhi jalan raya dan sekarang berada pada jalanan yang lebih kecil dan mulai berkelok-kelok. Aluna tidak bertanya, keduanya pun hening selama perjalanan. Tidak ada yang memulai permbicaraan. Hanya tangan Aluna yang mendekap jaket jeans Samudra sejak tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGGAPAI SAMUDRA [END]
Novela Juvenil"Jangan sentuh gue! radius lima meter!" Ucap Aluna kelabakan. Kakinya semakin melangkah mundur hingga punggungnya bertabrakan dengan pohon. Samudra mengangkat alis sambil menampakkan senyum misterius. "Dasar cewek gila!" Balasnya saat Aluna berlari...
![MENGGAPAI SAMUDRA [END]](https://img.wattpad.com/cover/202756071-64-k224464.jpg)