"Bertahan itu baik kok, tapi semakin ditahan juga bikin sakit. Jika digenggam saja sudah sulit, mungkin dilepas lebih baik."
○-----------------○
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Seluruh siswa berbondong-bondong keluar dari kelas masing-masing. Melepas lelah setelah sekitar sembilan jam berkutit dengan pelajaran yang rumit ditambah dengan guru yang tak kalah rumit.
Namun kali ini berbeda, biasanya yang pulang terlebih dahulu adalah para murid lelaki sedangkan yang perempuan masih suka mager-mageran di kelas sambil ngerumpi.
Sore ini warung mbak Jumi di penuhi oleh seluruh anggota Reckless Sma Angkasa.
Reckless memang sudah lama terbentuk. Reckless sendiri awalnya merupakan perkumpulan suporter basket dan futsal. Sama seperti suporter pada umumnya. Mereka mempunyai logo, bendera suporter, spanduk, kaos Reckless, hingga lagu yang wajib dinyanyikan suporter di tengah pertandingan.
Namun lama kelamaan Reckless mempunyai cafe milik salah satu anggota yang resmi dijadikan markas besar. Kantin bagian pojok dan taman belakang sekolah adalah tongkrongan wajib Reckless saat sekolah.
Reckless ini sudah terbentuk cukup lama. Jauh sebelum Samudera memasuki Sma Angkasa, Reckless berarti 'kurang perhatian' karena dulu ekskul basket dan futsal yang membutuhkan suporter di setiap pertandingan sama sekali tidak mendapat dukungan dari sekolah.
Dulu para guru berfikir ekskul tidaklah penting, yang penting adalah belajar. Ekskul hanya mengisi waktu luang. Padahal arti pandai bukan hanya untuk akademik tetapi non akademik juga.
Ketua reckless tahun ini adalah Samudera dan wakilnya Bima. Dalam Reckless tidak ada pemimpin, karena jargonnya sendiri 'No leader, we are together'. Meski mereka mempunyai ketua, jargon ini memaknai bahwa semua sama, semua teman, ketua di sini dihormati sebagai penanggung jawab utama.
"Perhatian sebentar!" Ujar Samudra di tengah riuhnya suara murid laki-laki yang memenuhi kantin. Semua mata tertuju kepada Samudera untuk mendengarkan pengumuman hari ini.
"Berhubung minggu depan akan ada pertandingan futsal di Gor Raya, gue mau kalian semua siap-siap adain sumbangan resmi untuk biaya seperti biasa." Sumbangan sukarela yang diadakan Reckless selalu di terima baik oleh semua murid karena untuk mendukumg tim futsal sekolahnya.
"Dan jangan lupa siapin surat izin untuk setiap suporter yang ikut." Semua mengangguk mengiyakan. Sebenarnya sudah ada seseorang yang bertugas menanggung jawab itu semua. Tetapi di sini Samudra membuat seluruh rencana rencana terbuka yang harus diketahui semua anggota.
"O iya dan satu lagi." Semua yang masih saja riuh kembali mendengarkan.
"Jaga nama baik sekolah kita terutama Reckless, kita disini sebagai suporter, tugas kita mendukung tim sepenuhnya, jangan ada diantara kalian yang memancing suporter lain atau memulai tawuran."
"Tidak ada yang boleh memulai tawuran kecuali jika mereka memulai duluan maka kita juga harus siap lawan."
"Inget kita itu apa?!"
"Bad attitude but good friends!" Sorak semuanya dengan kompak.
"Bagus, kalian semua bisa balik." Setelah pengumuman selesai, akhirnya semua satu per satu pergi meninggalkan kantin.
Ada yang pulang, ada yang pergi nongkrong di cafe, dan ada juga yang masih sibuk menghabiskan es tehnya di meja kantin. Siapa lagi kalau bukan Dewa dan bima.
"Gue balik." Ujar Juna. Meski pendiam dan tidak suka keramaian, dia juga termasuk anggota Reckless. Bahkan Junalah yang menjadi pencatat seluruh kegiatan Reckless.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGGAPAI SAMUDRA [END]
Novela Juvenil"Jangan sentuh gue! radius lima meter!" Ucap Aluna kelabakan. Kakinya semakin melangkah mundur hingga punggungnya bertabrakan dengan pohon. Samudra mengangkat alis sambil menampakkan senyum misterius. "Dasar cewek gila!" Balasnya saat Aluna berlari...
![MENGGAPAI SAMUDRA [END]](https://img.wattpad.com/cover/202756071-64-k224464.jpg)