"Kamu adalah jalan menuju sembunyi, sembuh dari sunyi." -Joko Purnomo, Surat Kopi
--------------
brakkk
Kedua tangan Jessica menggebrak meja, menahan Aluna supaya tidak kabur darinya.
"Tidak ada alasan untuk mengelak ya saudari Aluna," ujarnya, "pelajaran sudah selesai, dua sandwich tuna mayo juga sudah kusiapkan untuk makan siang kita, jadi tidak perlu ke kantin cukup kau duduk manis di sini dan ceritakan soal kemarin!"
Aluna yang sedang ditatap sinis itu hanya bisa menyengir lebar. Dia akhirnya mengalah karena bau sandwich tuna mayo itu terlalu menggoda dibandingkan siomay kantin.
"E he he he, jadi gini..."
***
"Alan!"
Panggilan itu berhasil mengusik seseorang yang tengah bermain gitar di bangku taman.
Dia berdecak malas. "Samudra Vi,"
"Hehehe iya deh iya Samudra." Ujarnya kemudian duduk di samping Samudra.
Dia Viola, salah satu siswi tercantik di kelas bahasa. Tubuh tinggi ideal dengan rambut panjang yang tergerai bebas dan kulit putih bening membuat kata 'tercantik' sangat cocok untuknya.
"Kita jarang banget ketemu, semenjak masuk SMA ini Juna, Bima, sama Dewa geser posisi gue tau! Dulu aja waktu SMP kita barengan terus." Keluh Viola.
Samudra mengentikan petikan gitarnya. "Ya soalnya gue sekelas sama mereka, lagian lo sendiri juga sibuk sama novel-novel lo." Balas Samudra.
"Apaan, akhir-akhir ini lo sering sama Aluna anak sosial itu." Viola memprotes, dia benar-benar merasa dicampakkan sebagai sahabat kecil yang selalu bersama.
"Kalo itu beda lagi." Jawab Samudra enteng.
Viola memutar bola matanya malas, dia hanya berdiam diri sembari terus mengamati Samudra yang sedang bermain gitar.
***
"What?!?!?!?!?"
"E-lo?!"
"T-tidur di apartnya Sam-- mmphh"
Sebelum Jessica melanjutkan kalimat yang akan membuat heboh manusia-manusia sekitarnya, Aluna dengan degera membekap mulut Jessica dengan sisa sandwich yang ada.
"Mulut lo, please! takut banget gue." Ujar Aluna.
"Lagian sih lo juga ngagetin gue bihun!"
Jessica kembali duduk setelah menelan makanannya. "Eh btw nih ya, lo sama Samudra jadi gak nih? harus jadi lah!" Dia kembali menggebrak meja.
"Bener-bener kalau sampe gak jadi gue siap demo di depan rumah Samudra. Bannernya 'Justice for hati nurani Aluna', 'Keadilan bagi seluruh jiwa dan raga Aluna', 'turunkan ego, berikan kepastian' gitu."
Aluna tidak dapat menahan tawanya. Sahabatnya satu ini memang benar-benar unik. (padahal sendirinya gak kalah random)
"Hahaha... udah kayak demo aja lo." balas Aluna, "lagian, Samudra kayaknya juga suka sama gue asksksksks."
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGGAPAI SAMUDRA [END]
Teen Fiction"Jangan sentuh gue! radius lima meter!" Ucap Aluna kelabakan. Kakinya semakin melangkah mundur hingga punggungnya bertabrakan dengan pohon. Samudra mengangkat alis sambil menampakkan senyum misterius. "Dasar cewek gila!" Balasnya saat Aluna berlari...
![MENGGAPAI SAMUDRA [END]](https://img.wattpad.com/cover/202756071-64-k224464.jpg)