Selamat datang bulan Juli
semoga kisah esok lebih baik dari ini
—————
Arjuna datang melemparkan sebuah tumpukan foto kepada Samudra. Mereka berdua sedang berada di cafe tempat berkumpulnya anak-anak Reckless. Samudra yang sedang melihat foto-foto rahma langsung terkejut. Ia menatap seluruh foto yang diberikan Juna. Dua orang tertangkap kamera sedang membuntuti Aluna. Tetapi yang belakang adalah perempuan.
Samudra menatap Juna bingung. Kemudian ia mengambil sebuah foto di mana dua orang itu sedang mengobrol bersama, dan wajah yang tampak adalah Jessica dan Alex. Samudra menyatukam seluruh teka-teki ini.
"Orang yang selama ini ngikutin Aluna itu Alex? tapi juga ada yang ngikutin lagi di belakang yaitu Jessica?" Arjuna mengangguk.
"dan masih ada lagi orang dibelakang yang mengabadikan ini semua, yaitu lo?" Arjuna kembali mengangguk.
Samudra paham, emosinya kali ini tidak bisa terbendung lagi. Semua teka-teki sudah terpecahkan, tunggu apa lagi? Ia harus mencari Alex dan menghabisinya. Dengan perasaan menggebu-gebu Samudra beranjak pergi, tetapi tiba-tiba Arjuna menahannya.
"Alex udah gue laporin ke penjara atas kasus peredaran narkoba," Samudra menoleh, "Dia bandar narkoba," jelas Juna.
"Kenapa gak ngelaporin masalah Aluna juga?" tanya Samudra.
Mendengar itu Arjuna menghela nafas. "Aluna itu perempuan Sam. Gak semua kasus bisa dilaporin gitu aja. Ada banyak, puluhan bahkan ratusan kasus pelecehan yang berakhir seperti buka aib sendiri. Hukum mungkin bisa adil Sam, tapi sudut pandang masyarakat sulit berubah. Meskipun pada akhirnya Aluna gak bersalah, masyarakat yang tahu akan tetep melabeli Aluna sebagai remaja yang rusak dan semua akan tahu tentang masalah keluarga yang udah dia sembunyikan rapat-rapat."
Penjelasan Arjuna berhasil membuat Samudra sadar akan satu hal yang ia lupakan. Samudra hanya memikirkan hukuman, tetapi ia lupa dengan perasaan Aluna. Saat ini Aluna juga sudah membaik. Jika kasus ini diangkat, tidak menutup kemungkinan Aluna akan kembali terpuruk seperti sebelumnya.
"Jessica gimana?" tanya Samudra.
"Udah gue urus, sekarang dia lagi minta maaf di rumah Aluna" jelas Juna.
"Lo emang kakak tiri terbaik, orang tua kalian aja yang salah." Perkataan Samudra barusan membuat Arjuna menatapnya malas.
***
Aluna dan Jessica sedang duduk berdua di teras rumah Aluna. Memandangi hamparan bintang di langit. Keadaan menjadi hening, dua pikiran berkecamuk masing-masing. Dua wajah sembab yang sedang berusaha berdamai dengan ego sendiri.
"Gue janji bakal bersihin nama lo di sekolah," ucap Jessica.
"Maaf karena kesepian gue udah buat ko hancur. Ego gue buat dapetin perhatian semua orang malah merugikan orang lain."
"Jess," Aluna menoleh menatap Jessica, "maaf gue gak tahu kalau lo suka sama Samudra, gue duluan cerita tentang Samudra disaat lo juga mau cerita kalau lo suka sama Samudra."
Jessica ikut menoleh, "soal Bagas, gue sama sekali gak pernah ada rasa Jess sama dia. Bagas itu cuma temen. Mungkin semua orang tahu Bagas suka sama gue, tapi semua orang juga tahu kalau gue sukanya sama Samudra. Juga untuk Bima, gue sama sekali gak ada niat rebut perhatian Bima dari lo Jess."
"Semua terjadi gitu aja Jess, bukan atas kendali gue" jelas Aluna.
Jessica mengangguk keras. Membenarkan semua perkataan Aluna. Dia salah, salah besar. Ego telah membuatnya menjadi jahat. Dia berjanji akan membersihkan nama Aluna di sekolah.
"Gue udah maafin kok Jess." Jessica menoleh terkejut.
"Masalah ini mungkin sulit dilupakan karena lo itu sahabat gue Jess, tapi satu kesalahan gak akan buat gue lupa atas ribuan kebaikan yang lo kasih selama ini."
Aluna menangis, tangannya ia rentangkan untuk memeluk Jessica. Dengan senang hati Jessica langsung memeluk Aluna. Mereka berdua kembali menangis.
"Makasih udah mau bersihin nama gue," ujar Aluna.
"Udah tanggung jawab gue buat lakuin itu, lo baik banget Al, makasih udah mau maafin gue" balas Jessica.
Setelah berpamitan dengan Aluna, Jessica berjalan keluar melewati pagar. Pandangannya teralihkan pada Samudra, Juna, Dewa, Bima, dan juga satu perempuan yang akhir-akhir ini sering bersama Aluna, Viola. Pandangan mereka mengintimidasi membuat Jessica takut.
"Udah minta maaf?" tanya Bima.
Jessica hanya mengangguk kecil membuatnya menghela nafas.
"Mangkannya Bim, kalau suka jadian! gak usah sok-sokan bilang cuma temen bercanda" ujar Dewa.
"Kata sahabat jangan dijadiin alesan buat nyembunyiin perasaan." Kali ini Juna yang menambahkan. Tumben sekali.
Bima menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Teman-temannya ini selalu tahu.
"Sini Jess!" Bima merentangkan kedua tangannya, "jangan diulangi lagi ya!"
Jessica kembali menangis dan berlari memeluk Bima. Ternyata semua orang masih mau memaafkannya, harusnya Jessica bersyukur bukan egois seperti kemarin.
Samudra melambaikan tangan saat Aluna baru keluar dari rumahnya. Perempuan itu tersenyum mengamati semuanya. Bahagia, adalah satu kata yang mendefisinikan keadaan hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGGAPAI SAMUDRA [END]
Teen Fiction"Jangan sentuh gue! radius lima meter!" Ucap Aluna kelabakan. Kakinya semakin melangkah mundur hingga punggungnya bertabrakan dengan pohon. Samudra mengangkat alis sambil menampakkan senyum misterius. "Dasar cewek gila!" Balasnya saat Aluna berlari...
![MENGGAPAI SAMUDRA [END]](https://img.wattpad.com/cover/202756071-64-k224464.jpg)