Hari demi hari telah berlalu. Kini hubungan Aluna dan Samudra semakin terlihat jelas. Sejak kejadian sore itu, Alunalah yang sering salah tingkah sendiri. Samudra sangat suka menggodanya hingga pipi gadis itu menjadi sangat panas.
"Al.." panggil Samudra.
Aluna ingin menangis saja rasanya, Samudra pasti membahasnya lagi.
"Yang kiri kapan?"
Tuhkan...
Samudra tidak bisa menahan senyum. Kedua alisnya dengan sengaja ia naik turunkan.
Aluna menambah kecepatan langkahnya tanpa menghiraukan Samudra. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk meladeni pertanyaan Samudra yang terus muncul sejak seminggu yang lalu. Cowok itu selalu saja menggodanya. Padahal dia duluan yang mulai waktu itu.
"Kapan Al?" Samudra sengaja tidak mengejarnya. Dia sedikit berteriak supaya Aluna mendengarnya.
"Kapan-kapan!" sentak Aluna.
"Ya Kapan-kapannya kapan? Sekarang boleh gak? Tanya Samudra sambil mulai sedikit berlari menyusul Aluna.
"Gak!"
***
Mereka berdua menghabiskan waktu di sekolah bersama. Aluna sudah pasti tidak bisa untuk tidak bertemu dengan Samudra sehari saja. Dia selalu mengikuti kemanapun Samudra pergi. Jika dulu Samudra sangat risih dibuntuti oleh Aluna, kini keadaan berbalik. Samudra akan mencari Aluna jika perempuan itu selangkah saja lebih jauh dari pandangannya.
Sedikit aneh memang, jika biasanya Aluna berangkat sekolah menggunakan angkot yang sesak dan penuh, kini setiap pagi akan ada seseorang yang sudah duduk tenang di atas motor menunggu dirinya selesai bersiap. Dulu bekal buatan Aluna selalu dilemparkan ke orang lain. Tetapi kini setiap hari akan ada kotak bekal warna biru awan dalam tas Samudra. Hampir setiap hari Aluna membuat dua bekal warna pink untuk dirinya dan warna biru untuk Samudra. Laki-laki itu dengan senang hati menerimanya.
Senyum Aluna mengembang saat melihat laki-laki di depannya melambaikan tangan menyapa dirinya.
"Pagi!" sapa Samudra.
Aluna membalas lambaian Samudra sambil berlari kecil menghampiri Samudra. "Pagi!" balasnya. Tidak lupa ia menyerahkan satu kotak bekal seperti hari-hari sebelumnya.
"Hari ini isinya apanih?" tanya Samudra.
"Nasi goreng nugget." jawab Aluna.
"Pakai cinta gak? Kalau gak aku enggak mau."
"Enggak." Samudra sengaja memasang raut sedih.
"Pakai hati nurani" lanjut Aluna membuat Samudra terkekeh gemas.
"Ayo berangkat, nanti keburu telat" ajak Aluna.
"Tunggu." Samudra tiba-tiba turun dari motor kemudian mengikatkan lengan hoodie yang baru saja ia lepaskan ke pinggang Aluna, menutupi rok abu-abunya sampai di bawah lutut.
"Biar aman." Selesai mengikatkan hoodienya, Samudra kembali ke motor dan menyuruh Aluna untuk naik. Cewek itu hanya bisa terdiam sambil menahan senyum. Sepertinya dia harus rutin check up ke rumah sakit, karena semenjak mengenal Samudra jantungnya selalu tidak karuan.
"Udah?" Aluna mengangguk, "sesuai aplikasi ya."
***
Siang ini merupakan hari pembagian hasil pengakuan dosa kemarin. Dosa-dosa murid yang tidak pernah belajar dan mencatat materi. Mereka dengan dosa terbanyak akan mendapatkan dua melewati masa pengampunan remedi lisan, yaitu satu persatu menghadap guru dan menerima segala pertanyaan dari mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGGAPAI SAMUDRA [END]
Teen Fiction"Jangan sentuh gue! radius lima meter!" Ucap Aluna kelabakan. Kakinya semakin melangkah mundur hingga punggungnya bertabrakan dengan pohon. Samudra mengangkat alis sambil menampakkan senyum misterius. "Dasar cewek gila!" Balasnya saat Aluna berlari...
![MENGGAPAI SAMUDRA [END]](https://img.wattpad.com/cover/202756071-64-k224464.jpg)