"Memang benar, pada dasarnya air liur itu diciptakan untuk ditelan sendiri." Bima yang tengah duduk di pinggiran tangga dekat lobi itu mulai bersabda.
"Air liur manusia yang terdiri dari 99,5% air ditambah elektrolit, lendir, sel darah putih, sel epitel (dari mana DNA dapat diekstraksi), enzim (seperti amilase dan lipase), agen antimikroba seperti sekretorik IgA dan lisozim memang sangat di butuhkan oleh tubuh kita."
Arjuna awalnya hanya mengangguk malas, kini langsung menoleh ke arah Bima. Saat telinganya tidak sengaja mendengar teman yang selalu bolos di mata pelajaran biologi itu tiba-tiba bisa menjelaskan kandungan air liur dengan lengkap.
"Kelenjar air liur juga menghasilkan enzim amilase atau ptialin yang bekerja memecah zat tepung pada makanan menjadi gula sederhana atau glukosa yang berperan penting dalam sistem pencernaan." Bima melanjutkan setiap penjelasannya dengan penuh percaya diri.
"Sejak kapan lo paham saol air liur dan tetek bengeknya?" Tanya Dewa yang tak kalah heran.
"Barusan, nih!" Bima menunjukkan ulasan sebuah website dari layar ponselnya, "bentar lagi kan ada kuis biologi tuh, hitung-hitung belajar lah biar otak gue pinter kayak Juna."
"Bentar lagi itu kuis kimia, bukan biologi." Ujar Juna.
"Wah ngada-ngada lo Jun, bentar lagi mata pelajarannya Biologi noh! Mana ada mapel biologi ujiannya kimia." Bima masih bersikeras dengan keyakinannya.
Juna melirik jadwal yang tampak di layar ponsel Bima kemudian menghela napas, jarinya menggeser catatan itu sedikit ke kanan.
"Hari ini hari kamis, mata pelajaran pertamanya kimia, biologi baru jumat besok."
"Lah monyet! Makannya kalo sekolah tuh jangan mikirin weekend mulu!" hardik Dewa, "tiap hari kepikirannya udah hari Jumat mulu sih."
Sudah tidak heran dengan kelakuan Bima yang seperti ini. Sekarangpun dia masih menutup mulutnya tidak percaya dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan. Bima terus mengamati jadwal pelajaran pada catatannya.
Ketiganya masih saja berdebat hingga tokoh utama yang seharusnya menjadi topik pembicaraan sudah selesai memarkirkan motor dan kini sedang berjalan ke arah mereka.
Samudra berjalan mendekat dengan Aluna di belakangnya.
Dewa mencebikkan mulut sambil memutar kedua bola matanya malas. "gue gak bakalan suka sama cewek freak kayak Aluna" ucapnya sembari memenye-menyekan mulutnya.
"Ada pepatah bilang, mulutmu harimaumu." tambahnya sembari menggelengkan kepala.
"Bener kan kata gua, sebenernya Samudra tuh juga suka cuma ketutup gengsi aja, ya gak Jun?"
"Udah ketebak sih endingnya."
Hari ini mereka bertiga sampai di sekolah lebih awal dari biasanya. Jika ditanya mengapa, Juna pasti akan memberikan alasan yang masuk akal, karena memang sudah biasa berangkat pagi. Tetapi untuk Dewa dan Bima, semesta pun bisa saja heran mengapa mereka berdua sudah berada di sekolah jam segini.
Tidak lupa Bima menyapa Aluna yang berdiri di belakang Samudra "Eh Aluna, gimana nih? udah jadian belom?" Tanyanya.
"Kalau nanti dia berubah pikiran lagi, tembak aja palanya Al jangan hatinya." Dewa memang sengaja ingin menyulut peperangan di pagi ini.
"Diem lo." Telak Samudra. Dia menghentikan Bima dan Dewa agar tidak menggoda Aluna terus menerus. Terlebih lagi jika kedua temannya itu tidak sengaja mengingatkan kejadian kemarin yang pasti akan membuat Aluna kembali ketakutan.
Aluna mendadak canggung dan merasa was-was jika kejadian kemarin akan disinggung oleh salah satu dari mereka. Dia tidak tahu akan menjawab apa nantinya.
Mata Aluna bergerak mencari sesuatu yang bisa membuatnya pergi dari Samudra dan teman-temannya.
Beruntungnya dia tidak sengaja melihat Jessica yang sedang berjalan dari koridor samping UKS.
"Eh gue duluan ya, mau nyamperin Jessica." Pamit Aluna.
Semuanya mengangguk.
"Ati-ati ya Al! Banyak buaya, samping gue nih juga buaya loh." Celetuk Bima sambil melirik Dewa dan Samudra.
"Masih pagi ini Bim, lu mau ribut sama kita?"
***
Bel istirahat pertama sudah berbunyi sekitar sepuluh menit yang lalu. Seluruh murid SMA Angkasa sudah berbondong-bondong memasuki kantin untuk merecharge energi mereka dengan siomay kantin. Tak terkecuali Samudra dan kawan-kawannya yang sudah stay di bangku kantin bagian pojok belakang.
"Hari ini gue kok ngerasa kayak ada yang ganjel tapi apa ya?" Ucap Samudra membuka suara.
"Gue juga." Juna mengiyakan perkataan Samudra.
Samudra kembali memicing setelah menyeruput es jeruk kantin andalannya. "Apa?"
"Lo berdua tumben pada berangkat pagi?"
Samudra yang mendengar pertanyaan Juna itu langsung teringat dengan hal mengganjal yang ia maksud.
"Lah! Iya, itu yang buat ngerasa ganjel dari tadi."
Bima dan Dewa baru saja duduk dengan membawa empat porsi siomay langsung memandang satu sama lain.
"Lah, iya ya" Dewa nampak berpikir, "gue juga bingung kenapa bisa gak telat hari ini. Kalo elo Bim?"
"Gue salah jadwal setan. Gue kira hari ini tuh udah hari Jumat dan bakalan ada kuis biologi." Balas Bima sambil membagikan piring siomay sesuai pesanan masing-masing.
"Lu tahu sendiri tuh guru biologi kalo udah ngamuk maung banget, mana berani telat gue." Lanjutnya.
Arjuna mengangguk mendengar jawaban Bima dan juga Dewa. "Kalo lo Sam? Tumben juga." Tanyanya.
"Gue anter Aluna ambil seragam dulu, berangkatnya pagi-pagi karena takut gak keburu." Jelas Samudra.
"JJ-JADI SEMALEM?!?!" Dewa tidak sengaja berteriak saking kagetnya.
"Diem lu Joko!" Bima langsung menyergap mulut Dewa dengan tangannya.
"Gue kira lo bawa Aluna ke rumahnya, taunya ke rumah lo?" Tanya Juna.
"Bukan ke rumah, tapi apart."
"APART?!?!?!?" Dewa kembali berteriak. Dia benar-benar tidak menyangka akan hal ini, sebab apartemen Samudra adalah tempat privasi dia yang hanya boleh dikunjungi oleh orang tuanya dan ketiga temannya saja.
"LO BAWA DIA KE APART LO?!" Bima yang tidak tahan pun ikut berteriak dan membuat seisi kantin menoleh padanya.
"Ini yang buat gue males cerita." Samudra memutar bola matanya malas. "Mulut lo susah banget di rem, sekalinya nyeplos, seisi kantin bisa langsung tahu."
"Hehehe sorry... sorry , lagian lo juga ngagetin gue sih."
"Iya mana apart lo privasi banget lagi, siapa yang gak kaget coba?" sambung Dewa.
"Gue."
Ketiganya menoleh pada Juna.
"Karena sebenernya Samudra juga udah nyaman sama Aluna, jadi gak ada masalah sama sekali soal apartemennya." Jawab Juna santai.
Dewa menaik turunkan alisnya untuk menggoda Samudra. "Kalo kata ayang Samudra mah, I will do everything for u, ya gak Sam?"
"Bener kan kata gue, ati-ati sama omongan sendiri, enak kan nelen ludah sendiri?" Tambah Bima.
Samudra hanya tertawa ringan, tidak menyangkal apa yang dikatakan teman-temannya dan tidak juga mengiyakan seratus persen.
Mereka berempat bersenda gurau dan membahas hal apapun mulai dari yang tidak penting hingga yang paling tidak penting. Contohnya sekarang ini mereka sedang membahas lubang sedotan sebenarnya ada dua atau satu juga membahas pantat sebenarnya satu atau dua.
.
.
.
tbc.
Isrina ds
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGGAPAI SAMUDRA [END]
Teen Fiction"Jangan sentuh gue! radius lima meter!" Ucap Aluna kelabakan. Kakinya semakin melangkah mundur hingga punggungnya bertabrakan dengan pohon. Samudra mengangkat alis sambil menampakkan senyum misterius. "Dasar cewek gila!" Balasnya saat Aluna berlari...
![MENGGAPAI SAMUDRA [END]](https://img.wattpad.com/cover/202756071-64-k224464.jpg)