Selamat tinggal kenangan, aku akan bahagia dimasa depan
—————
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari ini adalah hari kelulusan bagi seluruh siswa Sma Harapan. Semua siswa sibuk merapikan pakaian masing-masing. Toga berwarna hitam sudah rapi dipakai oleh murid-murid Sma Harapan.
Seseorang dengan kameranya sedang mengabadikan seluruh kegiatan teman-temannya. Dewa, dia sengaja merekam apapun yang ada dihari bahagia ini.
"Eits.. lagi apa nih?" tanya Dewa ketika melihat Bima dan juga Jessica sedang sibuk bertengkar menentukan gaya foto mereka.
"Gini loh Bima! Tangannya tuh gini.. dua jari di sebelah mata!" bentak Jessica. Sedari tadi mereka tidak pernah kompak berpose. Bima hanya manggut-manggut saja menuruti Jessica.
"Ribut mulu nih pasangan" celetuk Dewa kemudian mengajak mereka mengobrol.
"Udah-udah jangan ribut! Mending sini kalian berdua, kasih kesan dan pesan buat hari kelulusan ini."
Keduanya tertarik kemudian Dewa besiap mengabadikan obrolan mereka.
"Banyak banget suka dukanya, tapi mantap!" ujar Bima sembari memberikan dua jempol.
Jessica pun iku tersenyun manis dan memberikan menunjukkan dua jempolnya.
Dewa mengerutkan kening, "gini doang?" keduanya bingung, lah emang mereka harus bagaimana?
Helaan nafas panjang terdengar sangat keras, mungkin jarak satu meterpun orang bisa mendengar helaan Dewa. Dia memutuskan untuk meninggalkan mereka dan beralih merekam yang lain.
Ada banyak sekali senyuman hari ini. Semua merayakan kerja kerasnya selama tiga tahun terakhir. Suka duka masa sma sudah terlewati. Mereka ingin lega sejenak sebelum beralih ke dunia perkuliahan.
Dewa memperhatikan seluruh teman-temannya. Ada yang masih bertengkar mengenai pose foto yaitu Bima dan Jessica, ada yang sedang berfoto bersama orang tuanya, ada juga yang sedang bermain kejar-kejaran. Hari yang sangat cerah ini menambah kesan bahagia semua orang.
Kamera milik Dewa berhasil mengabadikan semuanya, tidak terkecuali seorang perempuan yang sedang kesulitan memakai dadi terlihat menggeruru di bawah pohon. Tiba-tiba Arjuna datang dan merebut dasi tersebut, memakaikannya dengan benar kepada Viola. Dewa yang melihatnya hanya bisa tersenyum sendiri. Setelah memakaikan dadi, Juna pergi begitu saja membuat Viola mengejarnya.
Terdapat satu pasangan lagi yang berhasil mengalihkan perhatian Dewa, dengan cepat dia mengarahkan kamera dan sengaja ia zoom hanya pada dua sejoli itu. Aluna dan Samudra. Bukan bertukar bunga yang mereka lakukan, atau berdebat pose foto seperti Bima dan Jessica, bukan. Bukan juga kesulitan memakai dasi seperti Viola, tetapi mereka tengah sibuk menggendong Rahma yang terus berusaha kabur.
Dewa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Udah tahu hari kelulusan pake bawa anak segala."
"Sam! Rahma kabur!" Aluna tidak memperdulikan foto atau apapun.
Samudra yang sedang meletakkan hadiah dari teman-teman dan adik kelasnya langsung ikut berlari mengejar Rahma. Kucing mereka sepertinya takut keramaian. Jika Aluna tidak memohon dengan puppy eyes, Samudra tidak akan mengizinkannya membawa Rahma.
Mereka berdua mengejar Rahma sambil tertawa bersama. Dari balik kamera, Dewa juga ikut tertawa. Tetapi tidak lama kemudian senyumnya melengkung ke bawah. "Lah gue kapan?" tanya Dewa pada diri sendiri. "Sampe gini belum sold out juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGGAPAI SAMUDRA [END]
Teen Fiction"Jangan sentuh gue! radius lima meter!" Ucap Aluna kelabakan. Kakinya semakin melangkah mundur hingga punggungnya bertabrakan dengan pohon. Samudra mengangkat alis sambil menampakkan senyum misterius. "Dasar cewek gila!" Balasnya saat Aluna berlari...
![MENGGAPAI SAMUDRA [END]](https://img.wattpad.com/cover/202756071-64-k224464.jpg)