30- Bangkit

277 13 0
                                        

"Aku sudah penuh luka, maukah kamu jadi obatnya?"
—————

Aluna menjatuhkan diri di teras rumahnya. Memandang langit yang sedang cerah-cerahnya.

"Ternyata gini rasanya hidup sendiri."

Aluna tertawa hambar, menertawakan kemalangan yang terus menghancurkan dirinya. Tidak lama air matanya kembali luruh.

"Hancur semua, hancur..."

Ia berjalan tertatih-tatih memasuki kamar, melemparkan tasnya sembarang di atas nakas membuat sesuatu terjatuh. Pandangan Aluna tertuju pada sebuah kertas kecil yang baru saja ia jatuhkan.

Diana A.
Psychoteraphy

Rumah Sakit Cipta Waluya

'Flashback'

Tiga hari setelah kejadian waktu itu, Aluna menjadi linglung, berjalan tanpa arah, juga ketakutan dengan sendirinya tanpa alasan. Saat hujan turun, dia sengaja keluar dari rumah membiarkan tubuhnya terguyur air hujan hingga menggigil.

Dia menjadi sangat menyukai hujan, karena derasnya hujan membuat air matanya tidak sendirian, kerasnya
rintik air menemani isaknya mengalir, serta gelapnya awan seperti ikut merasakan duka yang sedang dialami.

Seperti saat ini, Aluna sendirian berajalan di trotoar. Keadaan sedang hujan deras, tetapi dia sama sekali tidak peduli. Semua orang berlarian mengenakan payung juga para pengendara motor semua memakai jas hujan.

Sepanjang jalan yang dilakukan Aluna hanya menangis. Ia berhenti di sebuah halte, duduk sendirian dengan pandangan kosongan dan air mata yang terus mengalir dengan sendirinya.

Tiba-tiba seorang wanita berlindung pada jas putih yang ia kenakan sedang berlari. Aluna memperhatikannya, nampaknya wanita itu menuju ke arah halte. Sampai di halte, wanita itu melepaskan jas putihnya dan ia kibas-kibaskan supaya tidak banyak air yang menyerap.

Aluna hanya diam tanpa menoleh sedikitpun. Keadaan Aluna yang terlihat menyedihkan mengundang perhatian wanita itu. Dia memandang Aluna lama sekali kemudian memberanikan diri untuk mendekat dan menyentuh pundak remaja yang duduk di sebelahnya tetapi ia terkejut, karena reaksinya yang seperti orang ketakutan.

Aluna segera menyeka air matanya saat tersadar sesorang yang menyentuh pundaknya adalah wanita yang tadi. Orang itu tersenyum pada Aluna. Senyumannya hangat dan teduh membuat Aluna menatapnya lama.

"Kamu cantik dan hebat" ujar wanita itu tiba-tiba, "kamu perempuan kuat" lanjutnya.

Aluna hanya mendengarkan tanpa ingin bersuara.

"Jangan pernah menyerah, awan mungkin sedang gelap, tetapi itu hanya sementara, biarkan hujan turun dengan deras entah sampai kapan, tetapi semua akan mereda dan
kembali cerah pada waktunya" ujarnya kembali kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Aluna memperhatikan sebuah kartu nama yang wanita itu berikan padanya.

dr. Diana A.
Psychoteraphy

Rumah Sakit Cipta Waluya

Wanita itu kembali tersenyum pada Aluna, "temui saya jika kamu butuh sesorang untuk bercerita, saya akan bantu."

Begitu ucapnya sesaat sebelum taxi datang membawanya pergi.

'Flashback end'

"Sisi mana yang masih bisa disembuhin? Semua udah hancur" ujarnya kemudian melempar asal kartu nama itu.

***

Tidak terasa hari sudah malam, yang dilakukan Aluna hanyalah berdiam diri di kursi balkon kamar dari matahari terik hingga terganti oleh sinar rembulan. Dia hanya ingin duduk tenang menghirup udara sejuk. Entah besok hidupnya bagaimana, ia hanya ingin tenang sebentar saja.

Aluna keluar dari dapur membawa air menuju ruang tamu. Pandangannya tertuju pada televisi yang tidak tahu kapan terakhir kali dinyalakan. Ia meletakkan gelas dan mengambil remote. Aluna terus memencet tombol mengganti channel berulang kali, hanya tayangan iklan yang dia dapatkan.

Aluna merasa bosan dan ingin pergi. Tetapi saat hendak beranjak, sebuah berita berhasil membuatnya menoleh.

Seorang mahasiswa Universitas Satya Darma diduga mengalami perlakuan pelecehan seksual oleh salah satu dekan, namun pihak fakultas dan rektor tidak merespon laporan tersebut dengan baik. Bahkan korban diancam dengan tuntutan atas pencemaran nama baik.

Ia terkekeh hambar. Begitu miris nasib seorang perempuan seperti dirinya. Ini yang dia takutkan, jika Aluna melapor bisa saja laporannya sia-sia dan hanya berakhir mempermalukan diri sendiri karena sebuah aib harus terbongkar demi menegakkan keadilan. Aluna menangis. Jika hukum tidak bisa, apa psikiater adalah obatnya?

ting...

Suara notifikasi pesan dari ponsel berhasil menghentikan tangisannya. Aluna mengambil ponsel yang berada di sakunya. Samudra mengirimim sebuah pesan.

Samudra

Jangan nangis, hujannya jadi gak berhenti-berhenti karena sedih liat kamu nangis

Di depan pintu ada makanan sama susu stroberi, dimakan ya...

Semangat!

Jangan nyerah!

Ada aku!

Aluna berlari keluar rumah dan benar saja. Di depan rumahnya sudah ada satu kantong besar berisi makanan dan beberapa snack. Pandangannya langsung tertuju pada seseorang yang mengenakan jas sedang menunggunya dari atas motor. Laki-laki itu melambaikan tangannya kemudian pergi setelah memastikan Aluna mengambil kantong tersebut. Laki-laki itu adalah Samudra. Dia benar-benar menepati janjinya yang selalu ada untuk Aluna.

Perempuan itu dengan cepat menyeka air matanya, berlari menyambar tas selempang dan kartu nama yang berada di nakas kamarnya. Tanpa berpikir panjang, Aluna pergi menemui dokter Diana.

.

.

.

tbc.

MENGGAPAI SAMUDRA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang