"Dulu kita memang sejauh Januari ke Desember, tapi sekarang kita jadi sedekat Desember ke Januari."
○---------------○
Hembusan angin pagi begitu mencekat saat menusuk kedalam pori-pori kulit. Meski semilir angin terasa sangat sejuk dan segar, tetapi semua tetap terasa hangat karena diimbangi dengan sinar matahari yang sudah menampakkan diri dipagi ini.
Apa hanya dengan sinar matahari semilir angin sejuk dapat dikalahkan? Tidak. Kehangatan dipagi ini tidak hanya dari sinar matahari, tetapi dimbuhi dengan pelukan hangat dari dua sejoli yang sedang duduk manis diatas sebuah motor harley hitam.
Mata Aluna terpejam menikmati hembusan angin yang menerpa dirinya, sambil memeluk gabungan lautan yang sangat dia sayang. Tangannya kanan dan kirinya saling bertautan menandakan betapa erat pelukannya pada Samudra.
Senyuman Aluna tidak pernah luntur sejak tadi malam, mengingat bagaimana perhatian Samudra padanya. Apalagi sejak Samudra mengira dirinya hantu dan memutuskan untuk tidur dengan Aluna.
Sejak pagi buta sampai sekarang Samudra bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Saat Aluna memaksa untuk tetap pergi ke sekolah, Samudra juga tidak melarangnya. Dia hanya diam seperti sekarang, bahkan kini dipeluk Aluna pun Samudra tetap diam tidak seperti biasanya yang selalu menolak Aluna dan menyumpah serpahi Aluna yang urat malunya sudah putus. Luka-luka yang mulai mengering juga sudah tidak sakit lagi karena obatnya dalah perhatian Samudra.
"Sam." Aluna memiringkan kepalanya mencoba agar bisa melihat wajah Samudra yang masih terfokus ke jalan raya.
"Sam." Untuk kesekian kalinya Samudra tetap bungkam, seolah sengaja menulikan telinganya pada Aluna.
Aluna mendengus setiap melihat Samudra yang sama sekali tidak mau bicara padanya, Sejak tadi Samudra selalu memutuskan kontak mata dahulu. Aneh.
Kenapa sih diem terus? Kemarin aja perhatian banget, batinnya.
Pelukan Aluna semakin erat sampai denim Samudra tertarik ke bawah. Aluna sedikit berdiri dan semakin mencondongkan kepalanya supaya bisa melihat Samudra, tapi itu malah membuat motor Samudra sedikit goyang karena tingkah Aluna.
"Duduk yang bener!" Akhirnya suaranya keluar juga.
"Iya." Aluna kembali duduk tetapi tetap mencondongkan wajahnya menoleh kearah Samudra membuat helm mereka berbenturan.
"Sam." Samudra menghela nafas, Aluna sama sekali tidak memberikannya kesempatan untuk tenang.
"Al."
"IYA?!?!" Pekik Aluna antusias. Dia malah memiringkan kepalanya menatap Samudra yang kebetulan juga memiringkan kepalanya menengok ke Aluna.
Samudra yang melihat wajah Aluna sedekat ini membuat nafasnya tercekat seketika.
"Ekhm... ud-" Samudra tidak berhenti berkedip menatap Aluna. "Udah sampe."
Aluna yang tidak kalah geroginya langsung turun dan melepas helmnya. "I-iya em.. ma- makasih ya Sam."
Mereka berdua sama-sama terdiam membuat keadaan sedikit awkward.
Kedatangan Samudra yang bersama dengan Aluna berhasil membuat semua pandangan murid-murid terfokus padanya. Banyak yang awalnya sedang berjalan santai sekarang sudah berdiri kaku memenuhi area parkiran dan juga lantai atas.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGGAPAI SAMUDRA [END]
Fiksi Remaja"Jangan sentuh gue! radius lima meter!" Ucap Aluna kelabakan. Kakinya semakin melangkah mundur hingga punggungnya bertabrakan dengan pohon. Samudra mengangkat alis sambil menampakkan senyum misterius. "Dasar cewek gila!" Balasnya saat Aluna berlari...
![MENGGAPAI SAMUDRA [END]](https://img.wattpad.com/cover/202756071-64-k224464.jpg)