"Aku adalah setangkai mawar layu yang kehilangan akarnnya."- Neevaluna
-------------
Kali ini bukan hanya bayang-bayang Aluna. Alex benar-benar ada di depan matanya. Dia tahu dari mana rumah Aluna.
"A-alex," Aluna berucap dengan suara bergetar ketakutan. Langkahnya semakin mundur hingga menyentuh anak tangga pertama.
"Kenapa lo pergi waktu itu? Bahkan sebelum gue mulai." Alex tersenyum getir, tangannya mengepal menahan amarah.
Aluna hanya bisa menangis sambil menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menghapus memori-memori buruk yang baru saja muncul kembali.
Alex berdecih, "Lo gak suka sama apa yang ada di diri gue?"
Aluna menggeleng,
"Jawab!" Alex tidak bisa menahan amarah. Dia melangkah maju dan mencengkeram kedua bahu Aluna. Menatap Aluna tajam.
"Gue sayang sama lo Al! Kenapa lo pergi waktu itu dan hilang gitu aja? Kenapa!?"
Aluna menangis tersedu-sedu. Dia mencium bau alkohol dari tubuh Alex. Laki-laki itu sedang mabuk.
"Jawab Al! Jawab! jangan diem aja, lo juga sayang kan sebenarnya sama gue?" Alex terus berbicara.
"Lo gak percaya gue sayang banget sama lo hah!? Mau bukti?!"
Aluna tetap tidak bereaksi apa-apa. Alex mengangguk emosi. Dia akan buktikan rasa sayang itu kepada Aluna.
"Mau bukti ternyata," tawa Alex mengejek. Dia menyeret paksa dan menemukan sebuah kamar di lantai bawah.
"J-angan!" berontak Aluna. Dia tidak mau hancur lagi.
Alex melemparkan tubuh Aluna di ranjang besar entah kamar milik siapa Alex tidak peduli. Tangisan Aluna semakin keras. Ini kamar orang tuanya. Sangat bersih karena mereka sudah tidak pernah menempati tempat itu. Apakah Aluna akan berakhir kotor di sini? Apakah dia akan menjadi orang pertama yang mengotori kamar itu setelah hampir dua tahun tidak pernah kotor.
Alex mengulangi kembali apa yang terjadi tiga tahun yang lalu, tetapi kali ini apa laki-laki itu berhasil melebihi waktu itu.
Aluna hanya bisa menangis, bayang-bayang saat ini bertabrakan dengan bayang-bayang masa lalunya. Semua terkumpul di kepala hingga membuatnya tidak berdaya.
***
Alasan dirinya pergi adalah Alex, laki-laki itu sendiri yang membuatnya pergi. Alex pemarah, kasar, dan tidak tahu arah. Aluna hanyalah gadis smp yang tidak sengaja bertemu dengan anak sma di sebuah taman.
Sebuah awal pertemuan yang indah tidak menentukan akhir yang indah juga. Alex yang dahulu selalu menghiburnya dikala sedih, menjadi seseorang yang sangat baik dan mengajarinya hal-hal baru. Tetapi semakin lama hal baru itu bukanlah hal yang positif.
Laki-laki itu mengajak Aluna ke sebuah tempat yang gelap dan lusuh. Ia menyebutnya seperti gudang, tetapi beberapa orang bisa menyebutnya sebuah markas. Terdapat banyak botol-botol kaca berserakan dengan merk yang belum pernah Aluna temui sebelumnya.
Sampai ia bertemu dengan teman-teman Alex bersama seorang gadis masing-masing. Aluna sudah merasa tidak enak. Alex mengajaknya ke lantai atas di mana terdapat satu sofa panjang dan sebuah proyektor. Sepertinya itu tempat untuk menonton film. Aluna yang polos hanya menurut saja ke mana Alex mengajaknya.
Dia mengajak Aluna menonton film, namun yang terjadi saat film itu diputar adalah ia merasakan tangan Alex menyentuh dirinya dengan aneh. Aluna merasa tidak nyaman, tetpi Alex semakin gencar menyentuhnya. Gadis itu mulai terlihat ketakutan, dia memberhentikan gerakan tangan Alex.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGGAPAI SAMUDRA [END]
Teen Fiction"Jangan sentuh gue! radius lima meter!" Ucap Aluna kelabakan. Kakinya semakin melangkah mundur hingga punggungnya bertabrakan dengan pohon. Samudra mengangkat alis sambil menampakkan senyum misterius. "Dasar cewek gila!" Balasnya saat Aluna berlari...
![MENGGAPAI SAMUDRA [END]](https://img.wattpad.com/cover/202756071-64-k224464.jpg)