02- Di Balik Senyuman

777 58 32
                                        


"Gue tulus kok suka sama Samudra, bukan kaleng-kaleng."

~Nevaaluna Jesslyn Abraham.

○--------------○

Aluna membuka kedua kelopak matanya. Setelah mendengar kebisingan dari arah ruang tamu yang memekakkan telinga. Perdebatan kedua orang tuanya seolah menjadi sarapan pagi bagi dia.

Bukan hangatnya kebersamaan di pagi hari yang berada dalam rumah ini namun sebaliknya, kekacauan yang tiada henti. Setiap pagi yang dirasakan Aluna hanyalah rasa sesak dalam hati, hidupnya tidak pernah merasa bahagia. Jika orang menganggap rumah sebagai tempat paling nyaman, tapi bagi Aluna tidak ada tempat nyaman di dunia ini.

Disaat orang memilih pergi mencari ketenangan, yang bisa dirasakan Aluna hanyalah ketakutan.

Aluna berusaha menemukan kebahagiaan yang bisa mengubur dalam-dalam masa kelamnya. Namun keinginan sederhana itu sangatlah sulit dia dapatkan.

"Kamu gak usah ngatur-ngatur aku lagi, kamu itu udah aku anggap mati mas!!" Ujar seorang perempuan paruh baya. Pakaianya berantakan serta kantung matanya berwarna hitam.

"Terserah kamu anggap saya mati atau apa, tapi bukan berarti kamu bisa berkeliaran setiap malam seenaknya." Balas seseorang yang tidak mau kalah dengan perempuan yang ada di depannya ini.

"Aku seperti ini gara-gara siapa hah? gara-gara siapa? " Dia meronta-ronta, saat tangannya ditarik oleh suaminya diikuti dengan vas bunga yang pecah.

Amarah laki-laki itu semakin memuncak saat sang istri sudah tidak bisa diatur kembali. Keluarga kecil yang bahagia itu sudah berubah menjadi keluarga dipenuhi berjuta luka.

"Cukup!!" Teriak Aluna tepat berada di depan kedua orangtuanya. Pertengkaran sejak Aluna bangun tidur hingga dia hendak berangkat sekolah masih belum selesai. Keduanya menoleh kearah Aluna.

Wajah ceria yang selalu di tampakan di sekolah itu sama sekali tidak terukir di sini.

Keduanya berlalu begitu saja meninggalkan Aluna. Setiap hari selalu saja begini. Padahal Aluna hanya ingin berpamitan sebelum berangkat sekolah. Bahkan keberadaan Aluna di rumah ini saja seperti tidak dianggap.

Aluna berlari keluar rumahnya, buru-buru sampai di sekolah agar perasaan sedih itu segera berlalu. Derap langkahnya semakin cepat. Kedua telapak tangannya sibuk mengusap air mata yang tidak kunjung berhenti mengalir. Aluna berjalan sendirian menyusuri trotoar. Dia tidak ingin seseorang melihat kesedihannya.

"Tuhan... apa sesulit ini untuk bisa bahagia?" batin Aluna di sela-sela tangisnya. Dia mengadahkan kepalanya ke langit sambil memejamkan mata, berusaha menguatkan kembali raga yang sangat rapuh itu.

"Al!"

Saat masih menikmati hembusan angin pagi tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya. Suara itu terdengar sangat tidak asing. Aluna sempat tidak berani membuka mata, tetapi matanya memaksakan diri untuk terbuka memastikan bahwa tebakan dia salah.

"Alex?" Guman Alana saat melihat cowok yang masih di atas motornya. namun sudah melepas helmnya.

Cowok itu juga memakai seragam abu-abu putih seperti yang sedang di kenakan Aluna, tetapi lengan sebelah kananya terdapat identitas sekolah SMA Harapan.

Saat hendak turun dari motornya, dengan cepat Aluna berlari meninggalkan seseorang bernama Alex itu.

"Mau sampai kapan lo lari Al?! sejauh apapun lo pergi, kemanapun itu, gue gak akan berhenti ngejar lo!" Teriaknya saat Aluna sudah semakin jauh. "Aluna...!!" Dia segera kembali menuju motornya untuk mengejar Aluna.

MENGGAPAI SAMUDRA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang