Akan ada hari di mana bagian yang hilang akan terisi kembali, ruang hampa tanpa asa akan penuh harapan lagi
----------
"Bagaimana keadaan kamu Aluna?"
Aluna yang tengah sibuk memperhatikan bunga lily, menoleh kemudian tersenyum. Senyumnya hari ini terlihat lebih ceria tidak seperti waktu ia pertama kali datang ke tempat ini.
Diana ikut tersenyum, "Semua orang memiliki kehidupan yang berat, tetapi kamu adalah gadis yang kuat" ucapnya, "kamu harus selalu bahagia untuk kedepannya."
Aluna lagi-lagi hanya mengangguk. Sudah satu bulan ini Aluna rutin menemui dokter Diana. Pertama kali ia menemui dokter Diana sore hari saat hujan turun, jam praktik dokter tersebut sudah habis. Aluna gagal bertemu dengannya. Tetapi saat perjalanan pulang mereka kembali bertemu di sebuah halte. Untuk kedua kalinya dan di tempat yang sama.
Dokter Diana tersenyum lega saat mengetahui Aluna datang menemuinya. Pertemuan mereka diawali dengan cerita keluarga Aluna yang jauh dari kata harmonis hingga cerita mengenai trauma atas pelecehan yang dialaminya saat sekolah menengah pertama. Aluna sangat kesulitan menceritakan semua, namun lambat laun semua cerita itu dapat dipahami oleh dokter Diana.
Melihat gejala yang selalu dialami Aluna saat menghadapi kejadian serupa dengan masa lalunya, dokter Diana mengungkapkan bahwa Aluna telah mengalami ptsd atau post-traumatic stress disorder. Hal ini terjadi ketika seseorang telah mengalami peristiwa yang bersifat traumatis atau sangat tidak menyenangkan.
Gejala yang Aluna tunjukkan selama ini yaitu gelisah, ketakutan berlebih, menghindari situasi yang dapat mengingatkan peristiwa seperti yang dilakukan Aluna selama ini, ia tidak bisa berkontak fisik dengan laki-laki lain karena itu akan mengingatkan perlakuan Alex waktu itu.
Dokter Diana selalu meyakinkan Aluna. Selain psikoterapi dan juga obat, dokter Diana menyarankan Aluna untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang ia sukai. Seperti sekarang, Aluna sangat menyukai bunga lily. Dokter Diana menyadari ketika Aluna bercerita, pandangan perempuan itu selalu terfokus pada bunga lily di dekat jendela ruangannya.
bunganya cantik banget dok, Aluna mau punya juga, begitu katanya.
Aluna juga bercerita bahwa sekarang ia juga mempunyai seseorang yang mau menerima dia meskipun sudah tahu semuanya, tetapi Aluna tidak mau menyebutkan namanya.
Aluna akan memulai kembali hidupnya. Meski pahit itu masih ada, ia akan berusaha melupakan semuanya.
"Saya pulang dulu ya dok" pamit Aluna.
"Hati-hati ya Aluna, titip salam buat rahma sama jangan lupa dirawat bunga-bunganya"
Aluna melambaikan tangan kemudian pergi meninggalkan ruangan bercat putih itu. Ia berjalan menjauhi rumah sakit.
***
"Kamu dari mana?" Samudra datang dari arah dapur membawa wadah kecil berisi susu.
Aluna yang baru saja pulang langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa tanpa melepas ranselnya, "rahasia."
Samudra hanya bisa menggeleng, "Tadi pas aku baru sampe, rahma langsung lari nyamperin aku. Kayaknya dia kelaperan waktu kamu tinggal" ujar Samudra kemudian meletakkan wadah berisi susu di bawah lalu seekor anak kucing dengan bulu abu abu yang lebat berlari ke arah mereka.
"Rahma!" teriak Aluna kemudian langsung menyergap kucing mereka yang bernama Rahma itu.
Selain merawat bunga, kini Aluna juga merawat seekor kucing. Samudra yang membelikan, katanya untuk teman tidur. Perdebatan sempat terjadi saat pemilihan nama Rahma, tetapi apa boleh buat, pada akhirnha ia hanya bisa mengalah pada Aluna.
Aluna mulai mengendus-endus badan kucingnya, "Rahma wangi banget kayak kamu hehe..."
"Barusan aku bawa ke petshop, mau ngajak kamu tapi kamunya gak pulang-pulang. Yaudah aku sendiri aja."
"Kamu dari mana? Akhir-akhir ini sering banget keluar sendirian. Aku boleh tahu gak?" tanya Samudra.
Aluna menoleh sembari tersenyum tipis. "Pas hari kelulusan nanti aku kasih tahu, tapi nilai ujian kamu hrus bagus dulu. Biar jadi dua surprise!"
Samudra mengangkat sebelah alisnya, kenapa harus pas kelulusan? Itu masih tiga minggu lagi dan satu minggu sebelum itu adalah ujian kelulusan?!?!
"Lama banget" keluh Samudra.
Aluna hanya terkikik tanpa ingin memberitahu Samudra yang sebenarnya.
***
Malam telah tiba, tugas matahari telah digantikan oleh rembulan. Aluna kini sedang duduk di teras rumahnya bersama Rahma, memandangi gemerlap bintang yang sangat terlihat malam ini. Samudra sudah berpamitan sejak sore tadi. Katanya ada sesuatu yang harus diselesaikan. Entah apa itu, jika memang Samudra tidak memberi tahu mungkin memang ia tidak perlu tahu.
Gadis menoleh saat ponselnya berbunyi terus menerus, terutama notifikasi grup chat kelasnya. Ia menjadi penasaran dan membuka sebuah link berita. Aluna membacanya,
Seorang remaja berinisial A yang berstatus sebagai siswa kelas dua belas SMA Harapan Jakarta Selatan tertangkap basah saat sedang melakukan transaksi jual beli narkoba. Polisi berhasil mengamankan tersangka dan hasil tes urine siswa tersebut positif mengonsumsi narkoba. Bukan hanya kasus narkoba, namun kasus pembullyan, balap liar, pemalakan di sebuah gang, dan mungkin masih akan ada lagi. Polisi akan segera mengungkap semua kebenaran atas tindakan siswa tersebut.
Aluna membaca pesan-pesan yang baru muncul pada grup chat kelasnya. Semua orang bilang bahwa itu Alex, karena dari ciri-cirinya menunjukkan kalau itu Alex.
Kalau Alex diselidiki, apa masalah Aluna akan ikut terungkap di sana? Bagaimana jika respon orang-orang tidak sesuai ekspektasinya? Entahlah, Aluna tidak mau berpikir aneh- aneh.
Suara bel rumah membuat Aluna menoleh, siapa malam-malan kemari? Suara bel berulang kali beriringan dengan langkah Aluna yang semakin mendekat.
"siapa?" tanya Aluna was-was. Ia mengintip dari celah pagar. Jessica? sedang apa dia malam-malam ke rumahnya dan dia menangis?
Tanpa berpikir panjang Aluna bergegas membukakan pagar. "Jess lo kenapa?"
Jessica menangis dengan tangan bergetar. Aluna ingin memeluk Jessica, tetapi sebelum itu Jessica sudah terlebih dahulu memeluknya.
"Maafin gue Al, maafin gue.." ujar Jessica diteng isaknya.
"Maaf soal apa Jess? Lo kenapa hey?"
"Maafin gue" Jessica terus mengulang kata maaf, "tolong jangan laporin gue ke penjara, maafin gue Al"
"I-ya tapi soal apa Jess? Penjara? Kenapa bawa bawa penjara? Emangnya lo salah apa?"
"Gue yang udah sebarin foto lo sama Alex waktu itu."
.
.
.
tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGGAPAI SAMUDRA [END]
Teen Fiction"Jangan sentuh gue! radius lima meter!" Ucap Aluna kelabakan. Kakinya semakin melangkah mundur hingga punggungnya bertabrakan dengan pohon. Samudra mengangkat alis sambil menampakkan senyum misterius. "Dasar cewek gila!" Balasnya saat Aluna berlari...
![MENGGAPAI SAMUDRA [END]](https://img.wattpad.com/cover/202756071-64-k224464.jpg)