07- Penolakan Tegas

521 41 1
                                        


"Jangan pernah menyianyiakan orang yang rela memperjuangkanmu karena kamu akan tahu seberapa berharganya mereka setelah pergi."

○------------------○

BRAKK...

Semua sontak terlonjak kaget akibat gebrakan dari Bima somplak.

"Eh panjul! Lo mau bunuh kita?" Kata Dewa tidak terima. Dia dan Juna hampir saja terkena serangan jantung.

"Telat lagi lo?" Giliran Juna yang berbicara, yang ditanya langsung menyengir lebar. Telat adalah rutinitas bagi mereka semua kecuali Juna.

Sekarang hanya tersisa Samudra. Bel sudah berbunyi sekitar lima belas menit yang lalu, tetapi Samudera belum juga datang.

"Samudra dihukum bareng lo gak? Dia juga belum dateng." Tanya Dewa saat Bima mengambil duduk di sampingnya.

"Enggak tuh, palingan dia manjat tembok belakang sekolah."

Tembok belakang sekolah.

"Ck nih tembok makin hari makin tinggi aja." Gerutu cowok yang tidak lain adalah Samudra. Dia selalu saja datang terlambat.

Entah kerasukan ilmu Juna atau bagaimana hari ini Dewa bisa terselamatkan dari kata terlambat. Tempat parkir mobil mereka saat terlambat adalah rumah Mbak Jumi. Penjual bakso terenak di kantin Sma Angkasa itu memang rumahnya berada tepat di belakang sekolah.

Samudra mulai memanjat dinding setinggi kurang lebih empat meter. Pohon beringin di dekat dinding memudahkannya untuk memanjat.

"Huft.. Akhirnya sampai atas juga." Ujar Samudera lega,

"Lah kursi yang biasanya mana? Jangan-jangan kerjaan Bima nih." Lanjutnya sambil menggoyangkan kaki meraba-raba kursi yang biasanya ada di sana. Samudera terpaksa mulai turun dengan meloncat.

Brukk...

"AAAAA!!!! Mmmpphhh....." Samudra langsung membekap cewek yang tiba-tiba berteriak di belakangnya.

Cewek itu awalnya berteriak karena kaget, tetapi saat mengetahui yang tiba-tiba loncat adalah Samudra, matanya langsung terbelalak lebar. Siapa lagi kalau bukan Aluna.

"Oo jadi lo yang mindahin kursi ini?" Tanya Samudra horor. Dia langsung melepaskan tangannya dari mulut Aluna.

Aluna menengok pada kursi yang dia pegang lalu menyengir lebar. Owh jadi kursi ini buat manjat, batinnya.

"Hehe tadi ga sengaja lewat, gue kira kursinya tersesat jadi mau gue balikin ke gudang."

"Gausah." Kata Samudra lalu mengambil kursi dari tangan Aluna.

"Oo jadi lo kalau telat lew-" Belum sempat melanjutkan perkataanya, mulut Aluna yang ember kembali dibekap oleh Samudra.

"Bisa gak lo ngomongnya gak usah teriak-teriak?"

"Iya-iya." Balas Aluna ketika tangan Samudra sudah diturunkan.

Samudra mengambil tasnya yang jatuh lalu beranjak menuju kelasnya, mengabaikan Aluna yang masih berdiri di sana.

"SAMUDRA.... Jangan tinggalin gue!" Cowok itu tidak menghiraukan. Dia tetap berjalan santai meski Aluna sudah mulai menyamai langkahnya.

"Samudra."

"Hm." Balas Samudra singkat.

"Lo udah suka belum sama gue?" Pertanyaan macam apa itu. Dekat saja tidak pernah, adanya Aluna yang mendekat.

"Gue gak suka sama lo." Aluna terdiam sejenak lalu kembali menampilkan senyum lebarnya.

"Terus kapan lo bisa suka sama gue?" Samudra mengendikkan bahu.

MENGGAPAI SAMUDRA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang