06- Trauma dan Rasa Sakit

524 44 1
                                        

"Masalah akan selalu datang untuk menguji sebarapa pantas kita untuk bertahan."

~Neevaluna Jesslyn Abraham~

---------------

Hembusan angin malam semakin menusuk hingga ke tulang. Hiruk pikuknya kota sudah tergantikan oleh keheningan hitam gelap malam yang semakin mencekik. Terlihat Aluna sedang menyusuri trotoar sendirian. Hari ini dia pulang terlalu malam setelah mengisi lagu di cafe. Sebenarnya dia sangat ketakutan karena pulang terlalu malam.

Meski masih ada beberapa mobil yang lewat, suasana tengah malam tetap tersajikan. Aluna mulai berlari hingga memasuki jalanan menuju kompleks rumahnya. Saat itu juga dia menyadari ada yang mengikutinya sejak tadi. Satu nama yang ada di pikirannya saat ini adalah Alex. Aluna sama sekali tidak ingin mengintip siapa yang mengikutinya. Dia berlari sekencang mungkin untuk sampai ke rumah.

Namun suara langkah kaki semakin terdengar. Rasanya Aluna ingin berteriak nama ayahnya, tetapi dia ingat tidak mungkin Papahnya mengingat Aluna. Saat dia ingin memanggil nama Mamanya, Aluna kembali teringat tidak ada yang peduli dengannya. Tapi satu kalimat muncul begitu saja dari mulut Aluna.

"Samudra tolongin gue!!" Teriaknya lirih sambil terus mempercepat langkah. Sepatu yang terpasang di kaki jenjang Aluna terdengar keras bertabrakan dengan tanah. Nafasnya memburu seperti ada tangan yang berusaha mengayuhnya.

Kepalanya terasa begitu berat. Aluna takut, sangat takut. Terkadang dia selalu menyesali masa lalu yang begitu kelam. Mengapa tidak pernah menghilang? Kenapa tidak pernah berhenti? Sampai kapan Aluna harus di rundung ketakutan dan penyesalan?

Aluna terpekik saat tangan besar itu berhasil menyentuh bahunya. Dia berteriak dan berusaha menepis tangan itu hingga dia terjatuh. Dengan cepat Aluna menutup kedua telinganya sambil berteriak.

"Jangan sentuh gue! Jangan! JANGAN!!" Pekik Aluna keras, yang ada dalam benaknya hanyalah cowok brengsek bernama Alex.

"Al...Al!" Aluna semakin memberontak saat laki-laki itu terus memanggil namanya. Dia membungkuk untuk menyadarkan Aluna. "Al-,"

"PERGI!!!"

"Al!"

"PER-,"

"Al ini gue Al!" Aluna perlahan menenang dan mulai berani melihat siapa yang ada di depannya. Samudra.

"Ini gue Samudra. Lo kenapa?" Saat Samudra selesai menuruti segala keinginan Viola yang sangat membosankan, sebelum pulang dia sengaja melewati cafe tempat Aluna bekerja. Entah atas dorongan apa Samudera penasaran dengan Aluna. Terlebih dia terkejut siapa sangka Aluna yang setiap waktunya hanya menghabiskan untuk mengganggu Samudra dengan segala keanehannya ternyata mempunyai suara sangat indah.

Samudra ingin melihatnya lagi. Seorang Aluna terlihat sangat berbeda saat berada di luar, tetapi saat bertemu dengannya tetap saja kembali menjadi Aluna yang tidak punya malu. Samudra melihat cafe sudah tutup, itu artinya Aluna sudah pulang. Akhirnya Dia memutuskan untuk pulang saja. Samudra tidak sengaja melihat seorang perempuan yang dia yakini itu adalah Aluna sedang berjalan sendirian di trotoar.

Samudra hanya ingin mengikutinya. Entah ada perasaan tidak rela untuk meninggalkan Aluna sendirian,tetapi juga ada rasa yang mendorongnya untuk tidak menghampiri. Namun semakin lama Aluna semakin berlari seperti ketakutan. Akhirnya rasa gengsipun terkalahkan oleh rasa tidak tega. Samudra turun dari mobil dan mengejar Aluna.

Samudra melihat ada laki-laki yang sedang mengikuti Aluna. Pakaian serba hitam membuat laki-laki itu sulit Samudra kenali. Saat laki-laki itu menyadari ada yang mencurigainya, dia langsung berlari ke arah lain dan menjauhi Aluna. Disitu Samudra lebih mementingkan untuk menghampiri Aluna dari pada mengejar laki-laki tidak dikenal itu.

MENGGAPAI SAMUDRA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang