IX

11.6K 1.4K 11
                                        

ఇ ◝‿◜ ఇ

Happy Reading

ఇ ◝‿◜ ఇ

"Setelah kejadian itu, ayah gue bikin tim ini untuk antisipasi. Jadi gitu ceritanya." Ace mengakhiri ceritanya.

Cukup memakan waktu untuk bercerita detail kepada Aludra sampai gadis itu tertidur nyenyak di dalam mobilnya. Alasan sebenarnya Ace mengubah tempatnya karena ingin sekalian mengantarkannya pulang. Belum sempat mengantarkannya pulang, tapi Aludra sudah tertidur.

"Oh gitu ...."

Kini di dalam mobilnya kedatangan satu orang lagi. Tamu yang tidak pernah ia undang sedang duduk di kursi belakang, menyaksikan mereka berdua di kursi depan. 

"Lo ngapain masih disini?" tanya Ace menghadap ke belakang. Sosok yang tidak ia undang itu adalah Rio. 

"Numpang." Kekehannya membuat Ace sedikit kesal. Keberadaan Rio di markas karena lupa dengan jaketnya yang tertinggal. Makanya ia berada disini sekarang. "Gue juga punya cerita. Lo mau denger gak? Tentang dia." Rio menunjuk Aludra menggunakan matanya. "Gak mau denger sih gapapa," pancingnya. Ia tahu sifat Ace, ingin tahu tapi gengsi. Harus di pancing dulu.

"Yaudah apa?"

Rencana Rio berhasil membuat Ace penasaran. "Dua hari lalu, dia ngeliat gue sama si cunguk itu. Bilang gue nge bully dia," ceritanya.

"Lo juga keterlaluan kalo ngebales orang."

"Dia yang lebih parah ya, pantes digituin." Rio membela dirinya. "Dia salah paham sama kelakuan gue. Anehnya disini. Lo liat sendiri tangannya," suruhnya.

"Pegang?"

"Lo liat aja, jangan dipegang," sewot Rio.

Ingin sekali Rio menertawakan Ace karena berulang kali meminta maaf untuk melihat tangannya yang terkepal sempurna.

Sesuai dengan dugaan Rio, darah yang ia lihat berasal dari tangannya yang terluka. Kuku yang dibiarkan panjang untuk sengaja menyakiti dirinya. Banyak sekali bekas yang tertinggal dan masih ada luka yang baru dibuat olehnya.

"Darah. Itu yang gue dapetin waktu gue ditampar sama dia. Gak ada luka sama sekali di gue. Dia mungkin sedikit emosi liat kelakuan gue dan lampiaskan ke dirinya sendiri," jelas Rio.

"Tapi kenapa dia lakuin itu? Maksud gue, gak semua orang 'kan nyakitin dirinya sendiri saat emosi?"

"Ada gunanya juga gue disini." Rio berbangga diri karena kemampuannya dipakai. "Emosi manusia gak pernah bisa lo tebak. Walaupun lo berpikir kayak gitu, tapi nyatanya banyak orang yang melampiaskan emosinya ke dirinya sendiri. Bagi 'mereka', itu sebuah pencapaian karena mereka berhasil gak lampiasin ke orang lain."

"Lo tetep kena tampar."

"Gak salah sih." Tamparan itu akan terus ia ingat. "Jadi mau nganter dia gak? Anterin gue sekalian, mau kerjain PR. Baru hari ketiga sekolah, udah banyak aja PR-nya. Heran," gerutunya.

"Emang lo tau rumahnya?"

"Bukan rumah, tapi kosan." Rio membenarkan ucapannya.

Alisnya tertaut. "Lo bukan stalker 'kan? Kayaknya lo lebih tau banyak tentang dia," ujarnya.

"Bisa gak nanya tuh gak usah pake curigaan gitu? Seakan di tim kalian, cuma gue doang yang jahat," protes Rio tidak terima.

"Iya, maaf. Gue ubah pertanyaannya. Kok bisa lo tau dia tinggal di kosan?"

"Pernah ketemu di deket rumah gue. Karena searah, gue bisa tau kalo dia tinggal di kosan."

Ace termangut. "Berarti dia kabur dari rumah," terkanya sebelum menyalakan mesin mobil untuk dilajukan.

Cassiopeia ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang