_bagian 23, by regret_
Kaizel Arjen turun dari eurocopter dengan wajah berang. Langkahnya yang sigap dan kasar menakuti para bawahan yang dia lewati. Sepanjang malam ia menjelajahi pulau. Tapi tak menemukan sedikitpun jejak sang putri.
Pria berkemeja berantakan itu memasuki kamar Rene diikuti asistennya."Tidak ada kabar dari mereka?" tanyanya gusar.
Perry menggeleng. "Tuan Muda Demian dan Tuan Muda Delein juga masih mencari."
Rahang Kaizel mengencang. Dia sudah mendapat laporan dari Edvin bahwa Reyson tidak keluar selangkah pun dari Infernum. Jika bukan Reyson, maka orang itu pasti Tahanan 901.
Melihat kasur putrinya yang kosong membuat darah Kaizel mendidih. Tepi meja yang dia tindih remuk oleh cengkramannya. Baj*ngan itu, beraninya membawa anakku pergi.
Tak berselang lama, beberapa pelayan memasuki kamar. Mereka membawa nampan berisi sarapan. Tuan Direktur tidak makan dengan baik semenjak Nona Kecil mengalami tidur panjang. Setidaknya pria itu harus mengisi staminanya sebelum kembali melakukan pencarian.
"Tuan Direktur, sebaiknya Anda makan-,"
"Makan disaat seperti ini?" Kaizel melangkah maju, "APA KALIAN WARAS?!"
PYARR!
Dia menghempaskan nampan dengan wajah murka yang tidak dapat dideskripsikan. Tiga pelayan itu langsung bergetar ketakutan. Salah satu dari mereka yang membawa nampan sampai terjatuh saking terkejutnya.
Perry menghela nafas. Para pelayan memang terlalu bodoh. Hanya karena beberapa tahun terakhir sang kepala keluarga tampak melunak, bukan berarti jati diri pria itu berubah.
Selama ini Tuan Direktur bersikap lebih lembut karena ada Nona Kecil. Jika tidak, seperti inilah aslinya. Kejam dan tak pandang bulu. Karena itu Perry telah berjaga-jaga. Dia memanggil seseorang yang dulunya sudah berpengalaman menghadapi sang kepala keluarga.
"Apa kabar, Tuan Direktur?" Lewis memasuki ruangan.
"Keluar." Kaizel tak minat menanggapi mantan asistennya itu.
Perry dan pelayan lain mengangguk patuh. Sedangkan Lewis tak gentar. Pria dengan surai memutih karena termakan oleh usia itu sama sekali tidak bergeser dari tempatnya berdiri.
"Kamu bukan siapa-siapa lagi di sini. Keluar!"
"Saya sudah mendengarnya dari asisten Anda." Lewis tetap berbicara, menantang Kaizel meski pria itu sedang berada di puncak amarahnya. "Benar seperti itukah sikap seorang ayah?"
Perasaan Kaizel sedang kacau. Ditambah pertanyaan Lewis membuat kebengisan dalam dirinya kian tersulut. Kesabaran pria itu pun tandas. Dia merampas kerah Lewis, mengancam pria tua itu dengan sarat kebencian. "Lewis, tidak peduli siapa dirimu, aku akan menghancurkanmu juga kalau kamu mencampuri urusanku!"
Sejatinya darah yang diturunkan Vladelis Dexter dan Jenice Sinister pada putra mereka memang sekental itu. Hanya dengan tatapan gelapnya, Lewis merasa disergap oleh perasaan tertekan yang luar biasa. Mata elang pria itu seolah memburunya. Menghadang ajal sang mangsa yang tersudut di ujung tebing.
Tapi Lewis sudah memutuskan untuk tak mundur. Jika ini memang menjadi titik terakhir hidupnya, maka Lewis tidak keberatan. Karena dia sudah tua dan tidak memiliki siapapun lagi di sisinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Young Lady's Bodyguards (TAMAT)
Fantasy"Min pas kóntra sti moíra, ketika takdir melenceng dari yang seharusnya." Aku hanya seorang gadis yatim piatu. Namun suatu hari ketika aku terbangun, hidupku sudah dikelilingi oleh ayah protektif dan tiga kakak lelaki yang super gila! WARNING (16+) ...